Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Masjid Kayu As Syukur, Warisan Baru Tradisi Kayu Belian: Bawa Kenangan Masa Silam Budaya Melayu-Islam

Idil Aqsa Akbary • Sabtu, 13 September 2025 | 10:53 WIB
MASJID: Masjid As Syukur memiliki arsitektur khas bernuansa Melayu-Islami. Seluruh bagian bangunannya terbuat dari kayu belian.
MASJID: Masjid As Syukur memiliki arsitektur khas bernuansa Melayu-Islami. Seluruh bagian bangunannya terbuat dari kayu belian.

Di ujung Jalan Pemda, Dusun Parit Mayor Darat, Desa Kapur, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya,kini  berdiri sebuah masjid yang memikat pandangan setiap orang yang melintas. Masjid Kayu As Syukur, dengan luas bangunan sekitar 20 x 20 meter, tegak kokoh di batas Kota Pontianak. 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Masjid ini terkesan unik karena seluruh bagian bangunan dari kayu belian, kayu khas Kalimantan yang terkenal tahan serangga dan berumur panjang. Masjid ini hadir dengan konsep rumah panggung, menghadirkan nuansa tradisional Melayu yang semakin jarang ditemui. 

Tiang-tiang penopang berukuran kokoh 20 x 20 sentimeter, jenang 15 x 15 sentimeter, dan tangga kayu belian yang disusun tradisional, menambah keanggunan arsitektur bernuansa Melayu-Islami. Aroma kayu yang khas dan ukiran sederhana sarat makna, seolah membawa jemaah kembali ke masa lalu.

Masjid Kayu As Syukur digagas oleh seorang pengacara ternama Kalimantan Barat (Kalbar), Tamsil Syukur. Dengan tekad dan dana pribadi, ia membangun masjid ini sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan hidupnya. 

Prosesnya tak singkat. Kayu belian dikumpulkan perlahan selama beberapa tahun. Sebagian bahkan didatangkan dari pedalaman Kalbar dan Kalimantan Tengah (Kalteng). Seluruh proses pembangunan masjid tersebut memakan waktu sekitar dua tahun. 

“Tidak ada alasan khusus (membangun masjid kayu), yang penting saya ingin membangun masjid. Kesulitannya memang ada di bahan kayu yang harus didatangkan dari hulu. Tapi alhamdulillah akhirnya bisa terwujud,” ungkap Tamsil.

Baginya, masjid ini bukan hanya tempat ibadah. Ia ingin meninggalkan warisan budaya dan spiritual bagi generasi mendatang. “Generasi muda bisa merasakan suasana masjid kayu seperti masa lalu yang sekarang sudah banyak hilang. Semoga masjid ini punya arti penting dan menaungi masyarakat, terutama kita sebagai orang Melayu,” katanya.

Peresmian Masjid Kayu As Syukur digelar pada Jumat (12/9). Salat Jumat berjemaah menjadi momen perdana yang menandai babak baru masjid kayu belian ini. Usai salat, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng, dihadiri tokoh agama, masyarakat setempat, dan sejumlah undangan.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono yang hadir langsung, memberikan apresiasi atas berdirinya masjid unik ini. “Masjid As Syukur memiliki ciri khas tersendiri karena dibangun dengan kayu belian dan model rumah panggung. Kehadirannya diharapkan tidak hanya memperkuat nilai-nilai ibadah, tetapi juga menjadi daya tarik bagi tamu atau wisatawan yang berkunjung ke Pontianak,” ujarnya.

Ia menambahkan, masjid ini diharapkan memberi manfaat luas bagi masyarakat sekitar, mulai dari sarana ibadah, silaturahmi, hingga berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi. 

“Atas nama Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak, saya mengucapkan selamat atas peresmian Masjid Kayu As Syukur. Semoga segala upaya dan niat baik yang dilakukan Bapak Haji Syukur dan keluarga mendapat balasan setimpal dari Allah SWT serta membawa keberkahan bagi masyarakat sekitar,” tutur Edi.

Masjid Kayu As Syukur sejatinya sudah difungsikan saat Idul Adha lalu. Namun, setelah seluruh detail pembangunan rampung, barulah peresmian dilakukan. Kini, bangunan kayu belian itu bukan hanya saksi ibadah melainkan simbol kearifan lokal yang dihidupkan kembali.

Lebih dari sekadar rumah ibadah, Masjid Kayu As Syukur adalah penegas identitas budaya Melayu-Islam. Bukti bahwa kemegahan tidak selalu ditentukan oleh beton dan baja, tetapi bisa lahir dari ketekunan, kesabaran, dan rasa syukur yang tulus.(bar)

Editor : Hanif
#masjid kayu #kayu belian #tradisional #islam #kubu raya #melayu #warisan budaya