Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Di Balik Masih Eksisnya Pabrik-Pabrik Gula di Kediri yang Berusia Seabad Lebih: Kalau Diminta Tiap Hari Datangi Petani, Ya Harus Kami Lakukan

Hanif PP • Rabu, 17 September 2025 | 09:47 WIB
CEK MUTU: Pegawai PG Ngadirejo memeriksa kondisi tebu yang antre untuk digiling.
CEK MUTU: Pegawai PG Ngadirejo memeriksa kondisi tebu yang antre untuk digiling.

Menjaga kemitraan dengan petani dilakukan tiga pabrik gula di Kediri dengan berbagai cara, mulai dari pembayaran yang tidak boleh telat hingga bantuan traktor. Relasi dengan warga sekitar pabrik juga dirawat lewat pembinaan sepak bola dan pasar murah.

Asad M.S – Hilda N.R – Ayu Isma, Kediri

Satu per satu pabrik gula (PG) di berbagai daerah rontok atau bersalin rupa menjadi museum atau destinasi wisata. Namun, di Kabupaten dan Kota Kediri, Jawa Timur, tiga PG yang sudah berdiri sejak lebih dari satu abad silam masih kukuh bertahan: PG Ngadirejo, PG Meritjan, dan PG Pesantren Baru.

Kunci keberhasilan ketiganya melintasi zaman sama ada pada kemampuan menjaga kerja sama dan hubungan baik dengan para petani tebu. “Ibarat kata, jika perlu setiap hari silaturahmi datangi petani, ya itu harus dilakukan,” jelas General Manager PG Ngadirejo Kabupaten Kediri, Wayan Mei Purwono.

PG Ngadirejo sudah berdiri sejak 1912. Sekarang, luas lahan tebu mereka sekitar 12 ribu hektare. Sebanyak 85 persen di antaranya merupakan milik petani. Sisanya milik PG.

Karena itu, petani tebu jadi aset krusial. Untuk menjaga hubungan baik, petani harus diberikan kenyamanan agar mereka mau terus mengirim tebu ke PG. Tidak hanya dalam hal penyerapan tebu, tapi juga sejak proses awal.

Misalnya, ketika perawatan tanaman, Wayan mengaku, pihaknya harus hadir untuk membantu dengan sarana dan prasarana. “Misalnya penyediaan pupuk, kemudian herbisida. Saat tebang juga dibantu. Kalau pas giling, ya kita bantu percepatan penjualan gula lewat lelang dan juga penjualan tetes, sehingga pembayarannya tidak sampai telat,” jelasnya.

PG Meritjan juga demikian. “Itu karena 100 persen bahan baku berasal dari petani tebu,” kata Manajer Keuangan dan Umum PG Meritjan Nanung Indra Cahyadi.

Pabrik yang berdiri pada 1883 itu menerima pasokan tebu dari berbagai wilayah yang ada di Kediri Raya. Dari arah utara dan barat berbatasan dengan Nganjuk. Kemudian, arah timur berbatasan langsung dengan PG Pesantren, dan arah selatan berbatasan dengan PG Ngadirejo.

“Maka dari itu, kami PG Meritjan harus loyal kepada petani,” imbuhnya.

PG Pesantren Baru pun sama. Salah satunya dengan cara mendukung produksi tebu dari petani, khususnya selama musim hujan.

“Kami membuat alat yang istilahnya untuk mengeluarkan tebu dari kebun ketika cuaca hujan. Yang kedua, kami support bantuan traktor,” ujar Manajer Tanaman PG Pesantren Baru Martin Surya.

 

Pembinaan Olahraga

Di sekitar PG Ngadirejo, sebenarnya banyak kompetitor gula. Misalnya, sentra gula merah rumahan yang banyak berdiri di bagian selatan Kabupaten Kediri. Namun, menurut Wayan, dengan menjaga hubungan baik kemitraan, kompetitor bukanlah masalah.

“Kompetitor justru memicu kami agar tidak kalah berkompetisi. Kami harus terus berinovasi untuk meningkatkan performa pabrik,” jelasnya.

Hubungan dengan masyarakat sekitar pabrik juga dijaga dengan mendirikan Sekolah Sepak Bola Putra Sakanira PG Ngadirejo. Hasilnya, PG Ngadirejo juga beberapa kali memenangkan turnamen. “Pelatihnya dari teman-teman karyawan. Di PG banyak atlet bolanya,” terangnya sembari tertawa.

Setiap awal dan akhir musim giling juga diadakan PG Ngadirejo Cup. “Peserta usia 11-an dan 12-an tahun bertanding di situ,” jelasnya.

Sejak 2021, PG Pesantren Baru juga membina SSB PG Pesantren Baru. Tak sekadar mewadahi anak-anak yang tinggal di sekitar pabrik, tapi juga mengantarkan mereka berkiprah internasional. Yang terbaru, pada 2023, dikirim untuk mewakili Indonesia dalam turnamen sepak bola di Vietnam.

“Harapan kami, anak-anak lingkungan sekitar atau anak-anak karyawan bisa menyalurkan hobinya di sepak bola,” urai Martin (29/8).

PG Meritjan pun punya klub olahraga internal. Di antaranya badminton, voli, dan futsal. Untuk hubungan dengan warga sekitar, Nanung menyebut, pihaknya mengadakan gerakan pangan murah.

“Mayoritas karyawan di PG Meritjan juga dari wilayah sekitar,” katanya.

 

Regenerasi Petani

Meski berhasil melintasi abad, bukan berarti ketiga PG Kediri tak lagi punya kendala.

Salah satunya, seperti disebut Wayan, adalah regenerasi petani tebu. PG Meritjan juga menghadapi problem sulitnya mencari penebang tebu.

“Sekarang ini, mencari tenaga penebang juga sulit. Jika dikasih pilihan menjadi tukang kayu atau penebang tebu, pasti akan lebih memilih menjadi tukang kayu. Sebab tidak risiko kepanasan dan gatal-gatal,” ungkap Nanung.

Untuk mengatasinya, PG Meritjan sebenarnya sudah memiliki peralatan yang mendukung produksi. Tapi, lingkungan sekitar kebun tebu tidak mendukung. “Akses jalan yang sempit dan dekat dengan pemukiman juga membuat kami harus berpikir ulang,” kata Nanung.

Untuk mengatasi sulitnya mencari penebang tebu, PG Pesantren Baru memilih melakukan “impor” tenaga kerja, bahkan sampai ke Pati dan Grobogan di Jawa Tengah. “Itu untuk membantu memanen tebu milik petani,” kata Martin. (*ttg)

Editor : Hanif
#Seabad #petani #kediri #pabrik gula #kemitraan