Setelah membuka tempat pembuangan sementara privat dan bank sampah, Universitas Malang kini juga menghadirkan mesin penampung botol plastik yang bisa ditukar uang di kampus. Mereka punya misi agar sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir nantinya nol.
NABILA AMELIA, Kota Malang
Di tangan Solikan ada empat botol air mineral kemasan 600 mililiter. Setelah menyelesaikan tugasnya di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 19 Universitas Negeri Malang (UM), petugas kebersihan itu pun bergegas turun ke lantai satu.
Kemudian didekatinya sebuah mesin yang sekilas mirip penyedia minuman kemasan otomatis. Itulah reverse vending machine (RVM), wadah pengumpul botol plastik bekas minuman kemasan dengan imbalan uang. Ke mesin itulah Solikan memasukkan keempat botol yang dibawanya tadi.
“Meskipun tidak setiap hari, tapi kalau sedang ada botol bekas dan ada tugas di GKB 19, biasanya saya masukkan,” katanya, Jumat (19/9) pekan lalu.
Untuk ditukarkan menjadi uang, setidaknya membutuhkan 178 botol bekas. Dari ratusan botol itu bisa terkumpul sebesar Rp 10.000. Sebab, satu botol bekas memiliki nilai 56 poin atau Rp 56. Kehadiran RVM itu buah kerja sama UM dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) pada 15 Agustus lalu. Semula mesin itu diletakkan di lobi belakang Graha Rektorat, tapi kemudian dipindah ke GKB 19.
Sejak dipindah pada 1 September lalu, Solikan jadi rajin berburu botol bekas minuman kemasan. Begitu pula rekan-rekannya yang lain sesama tenaga kebersihan. “Lumayan bisa membantu mengurangi sampah botol yang berceceran sekaligus memiliki nilai rupiah,” kata Solikan.
UM mengklaim RVM tersebut sebagai yang pertama di semua kampus di Malang yang dikenal sebagai kota pendidikan. Tapi, di luar kampus, mesin serupa bisa ditemukan di RS Lavalette di kota yang sama.
Cara Kerja
Wartawan pun ikut menjajal cara memasukkan botol plastik ke RVM. Caranya mudah. Pemilik botol tinggal mengunduh dan melakukan registrasi di aplikasi Plasticpay. Jika sudah, pemilik botol bisa menekan opsi “mulai” pada layar mesin.
Botol yang dimiliki lalu dapat dimasukkan ke mesin satu per satu sampai botol tertarik otomatis. Tanda botol masuk bisa terlihat dari lampu di mesin yang berubah warna menjadi hijau. Namun, yang dimasukkan harus dalam kondisi bersih alias tidak mengandung air.
Setelah selesai memasukkan botol, tinggal membuka aplikasi Plasticpay dan memilih opsi “ambil poin”. Poin secara otomatis tercatat jika pemilik botol sudah melakukan scan QR Code hingga muncul tulisan “transaksi berhasil”.
Meskipun memiliki nilai rupiah, belum banyak mahasiswa yang memanfaatkannya. Hal itu terlihat dari jumlah botol yang tertampung di dalam mesin. Sejak 1 September sampai 19 September, baru ada 316 botol. Padahal, RVM memiliki kapasitas penampungan sebanyak 700 botol.
Seperti tampak pada Jumat pekan lalu, sesekali tampak mahasiswa mendekat, tapi untuk sekadar menonton video edukasi lingkungan pada RVM. Ada pula yang tertarik memasukkan, tapi tidak memiliki sampah botol.
“Untuk saat ini tetap kami taruh di GKB 19 karena biasanya gedung ini ramai oleh para mahasiswa. Kami optimistis bakal semakin banyak warga kampus yang memanfaatkannya,” terang Kepala Subdirektorat Sarana dan Prasarana UM, Faul Hidayatunnafiq.
Program Green Campus
Keberadaan RVM diharapkan bisa mendukung program “green campus” yang diterapkan UM selama enam tahun terakhir. Khusus untuk pengelolaan sampah, UM sudah melakukan upaya mulai dua tahun lalu. Diawali dengan pembangunan tempat pembuangan sementara (TPS) dan bank sampah. Keduanya diinisiasi Ketua Green Campus UM, Sumarmi.
“Setiap hari, sampah yang masuk ke TPS bisa mencapai 2 ton. Namun, yang terolah baru 1/3 atau sekitar 600 kilogram sampah,” ungkap Sumarmi.
UM memiliki misi agar ke depan sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir adalah nol. Jika berhasil dikelola sendiri, tentunya kampus tidak mengeluarkan biaya retribusi pengiriman sampah.
Karena itu, UM membangun TPS privat. Ada pula fasilitas pendukung seperti mesin giling, mesin pelepas label botol, hingga mesin penghancur sampah.
Sementara untuk mekanisme bank sampah, saat ini keanggotannya baru dari tenaga kebersihan. Biasanya tenaga kebersihan akan menyetorkan sampah. Untuk sampah seberat satu kilogram, bisa ditukar dengan uang senilai Rp 2.500.
Selain sampah plastik, UM juga mengelola sampah organik. Sampah tersebut diolah menggunakan composter hingga menjadi pupuk. “Pupuk kami pakai untuk merawat tanaman-tanaman yang berada di lingkungan kampus,” kata Sumarmi. (*/ttg)
Editor : Hanif