Berawal dari kegabutan ibu-ibu komite sekolah yang santai dari satu kafe ke kafe lain sambil menunggu jam pulang anak, justru memunculkan ide produktif yang menghasilkan cuan. Dari ide itu, mereka mencoba mencari peluang usaha. Caranya dengan berjualan sarapan pagi dengan harga merakyat.
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
Jam pagi waktu sekolah, kawasan Jalan S Parman menjadi salah satu yang dilewati oleh pengguna jalan. Di kawasan itu, terdapat beberapa sekolah. Mulai dari SD, SMP, SMA dan SMK. Aktivitas antar jemput anak sekolah terpantau cukup padat di sana.
Bagi Nurhayati pemilik dagangan sarapan pagi seharga Rp 10 ribu melihat keberadaan sekolah ini peluang usaha untuk mencari cuan. Menggunakan ruang tak jauh dari halte Jalan S Parman, dia menampilkan berbagai sarapan enak di meja sederhananya. Hasilnya, satu persatu pembeli datang menyemuti lapak dagangannya.
Rezeki Nur sapaannya kebanyakan datang dari pengguna kendaraan yang melewati jalan itu. Memang betul, belum ada setengah jam, dagangannya cukup banyak yang laku. Pembelinya dari mana saja, seperti para pekerja bank, orang tua pengantar anak sekolah yang berlomba dengan jam masuk sekolah, sampai pejalan kaki.
“Pagi ini cukup banyak yang laku. Saya berjualan di sini dari jam setengah enam, kalau tengah laris, jam sembilan sudah habis, tetapi kalau belum habis, biasanya sampai jam setengah 12. Per hari pernah laku hampir dua ratus pack,” ujar Nur kepada Pontianak Post, Selasa (23/9).
Jajanan Mbok Noer yang dilakoninya ini sudah berjalan hampir tiga bulan. Ide jualan sarapan pagi dengan harga sepuluh ribu ini sebetulnya berawal dari kegabutan di komite sekolah.
Di komite itu, kata dia sebagian ibu-ibu di kesehariannya beraktivitas antar jemput anak ke sekolah. Selepas antar anak sebagian teman-teman kadang malas mau pulang. Berbagai macam alasannya, tetapi kebanyakan karena rumah lumayan jauh. Jadi untuk mengisi jam kosong itu, mereka mencari kafe untuk bersantai.
Kata Nur, dari kumpul-kumpul di kafe, justru menghasilkan banyak ide. Salah satunya, ibu-ibu ini mencoba membuka usaha jualan sarapan pagi dengan harga sepuluh ribu.
“Awalnya kami patungan. Setelah usaha itu dibuka ternyata cukup banyak pembelinya. Bahkan bertahan hingga sekarang. Lokasi persisnya di depan SD Bawamai,” ujarnya yang tinggal di Kecamatan Pontianak Timur.
Setelah berjalan di sana, Nur mencoba membuka usahanya sendiri. Lokasinya di tepi Jalan S Parman ini. Dia menceritakan awal jualan, dia membuat sarapan menu lauk ayam, ada juga salad sayur buah dan makanan kukusan.
Untuk tantangan berjualan menu sarapan pagi ini, paling waktu memasak. Sebab harus bangun dini hari. Dia sendiri jam dua subuh sudah mulai bekerja. Untuk potongan buah dan lainnya, bahkan sudah dicicil di waktu malam.
Tetapi karena memang senang memasak, jadi bangun subuh tak menjadi kendala baginya. Setelah menu-menu ini siap, tinggal dikemas dan dibawa menggunakan kendaraan roda empat.
Sekarang usahanya sudah jalan hampir tiga bulan. Dia merasa senang. Sebab dagangannya lumayan laris. Apalagi yang namanya dagang. Cuan bisa berputar setiap hari. Suami juga senang, sebab kegiatannya semakin produktif.
“Suami saya ASN di Provinsi, tetapi basic kami dulu memang berniaga. Jadi hal-hal yang seperti ini senang kami lakukan. Bahkan sebelum suami masuk ASN, kami pernah berjualan hingga ke Semitau. Selain itu pernah juga buka tempat pemeliharaan ayam potong. Itu gagal, pernah juga jadi grab saat covid sepi. Saat ini aktivitas saya berjualan disini, alhamdulilah ada untungnya,” ungkapnya.
Mengenai limbungnya kondisi ekonomi negara, untuk jualan menu sepuluh ribu ini tidak begitu berimbas. Mungkin karena menu sarapan merupakan kebutuhan primer. Sehingga sulitnya mencari uang tidak begitu terasa bagi usaha kulineran. Apalagi harganya juga murah meriah. Seperti anak sekolah, dengan sepuluh ribu sudah bisa makan kenyang.(*)
Editor : Hanif