Indonesian Palm Oil Smallholder Conference and Expo menjadi wadah pertemuan para petani sawit dengan distributor penyedia di sektor pertanian dan perkebunan. Petani dapat dengan mudah mencari kebutuhan untuk lahan pertanian dan perkebunannya. Muaranya mendukung kemajuan petani sawit untuk terus bertumbuh menjadi besar.
MIRZA AHMAD MUIN, Sungai Raya
Deka, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura tampak seksama mendengarkan arahan Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Heronimus Hero saat kegiatan 5th IPOSC di sebuah hotel di Sungai Raya, Kubu Raya, kemarin.
Perkembangan tata kelola perkebunan terutama di sektor sawit di Kalimantan Barat kini semakin menjanjikan. Dirinya sendiri merupakan mahasiswa asal Seponti, Kayong Utara. Kebetulan kedua orang tuanya, tengah menekuni usaha Perkebunan sawit.
“Orang tua ada kebun sawit. Baru ditanam tahun lalu, tetapi kini sudah mulai tampak hasilnya. Tetapi memang belum panen, namun kalau melihat masyarakat tempat saya, kini sudah mulai banyak yang bertanam sawit,” katanya kepada Pontianak Post.
Dijelaskan dia, dulu masyarakat Seponti memilih untuk memanfaatkan lahannya dengan menanami padi. Namun semakin ke sini, sudah mulai banyak memilih sawit untuk ditanami. Seperti lahan milik orang tuanya, awal mula memang menanam padi. Namun ketika lahan sekitar kebun orang tuanya mulai ditanami sawit, mau tak mau orang tua juga beralih ke tanaman sawit.
Untuk hasil panen sawit, dari masyarakat yang lebih dulu menekuni tanaman sawit, bisa dikatakan menjanjikan. Bahkan jika lahannya besar dan buahnya bagus, masyarakat juga bisa sejahtera dari hasil kebun sawit ini. Sebagai gambaran, dalam satu hektar kebun sawit bisa ditanami 150 bibit pohon. Jika kesemua pohon produktif maka dalam satu bulan bisa dua kali panen.
“Ini sekali panen satu ton. Jika dua kali panen bisa menghasilkan dua ton sebulan,” ungkapnya.
Untuk harga jual, buah sawit juga stabil. Paling turun itu dikisaran Rp2.400 per kilogram, namun untuk saat ini di harga Rp 2.700 per kilogram. Oleh sebab itu, banyak masyarakat kini justru memilih menanam sawit. Jika tanaman kelapa memang memiliki potensi, namun kebanyakan dijadikan kopra. Sehingga mereka berpikir lagi karena operasional cukup besar.
Sama halnya dengan karet, harganya juga tak menentu, jika sudah jatuh petani bisa merugi. Sahang pun menurutnya sama. Perawatan mau benar-benar, jika tidak tanaman ini rentan mati. “Ini juga menjadi pertimbangan petani,” katanya.
Usai menyelesaikan kuliah di Fakultas Pertanian, Deka berencana akan pulang kampung buat mengembangkan Perkebunan sawit ini. sebagai pemuda, dia melihat sektor Perkebunan sawit masyarakat menjanjikan. Jualnya juga mudah.
Di tempat sama Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Heronimus Hero menuturkan subsektor perkebunan sampai saat ini memegang peranan yang strategis dalam perekonomian nasional, terutama dalam produk domestik regional bBruto (PDRB), termasuk juga di Kalimantan Barat.
PDRB dominan itu sumbangan dari sektor perkebunan. Bahkan kini banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya di sektor Perkebunan sawit ini. Perkiraannya ke depan ini akan semakin berkembang, karena daya tarik sawit luar biasa.
“Bahkan investasi sekarang kita agak rem supaya benar-benar pemerintah daerah itu selektif serta sesuai dengan rambu-rambu regulasi yang sudah ada,” ujarnya.
Lebih dalam kata dia, sekarang sudah ada tiga ratus enam puluh delapan perusahaan berinvestasi di komoditi sawit. Jadi sudah sangat banyak dan ini peluangnya masih ada konsesi di Kalbar dan yang sudah diberikan oleh kepala daerah mencapai tiga juta hektare dari lebih dari 39 juta hektare. Jadi masih ada sembilan ratus ribu hektare yang masih tersedia untuk pembangunan sawit bagi investasi korporasi.
Dia melanjutkan peran sawit dalam perekonomian baik di Indonesia maupun khususnya di Kalimantan Barat dalam catatannya dua puluh persen industri pengolahan itu kurang lebih dua belas persen dari tiga puluh dua persen ekonomi Kalbar ini ditopang oleh sawit.
Masyarakat yang terlibat dalam sawit di perusahaan tercatat kurang lebih seratus lima puluh ribu karyawannya. Belum lagi sawit milik masyarakat, artinya perekonomian dari sektor sawit di Kalbar terus bertumbuh.(*)
Editor : Hanif