Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kisah Santri Al-Khoziny Tiga Hari Tertimbun Reruntuhan: Mata Tertutup, Tapi Suara Teman-Teman Tetap Terdengar

Hanif PP • Kamis, 2 Oktober 2025 | 10:37 WIB
DIRAWAT: Sejumlah santri Pondok Pesantren Al-Khoziny dirawat di rumah sakit setelah berhasil dievakuasi dari reruntuhan musala yang roboh di Buduran, Sidoarjo, Rabu (1/10).
DIRAWAT: Sejumlah santri Pondok Pesantren Al-Khoziny dirawat di rumah sakit setelah berhasil dievakuasi dari reruntuhan musala yang roboh di Buduran, Sidoarjo, Rabu (1/10).

Zainal Ali Abidin sejam pingsan di bawah reruntuhan dan baru siuman saat tim penyelamat mengangkatnya. Syehlendra Haical Raka tiga hari tertimbun dan tak mengalami patah tulang atau luka berat lainnya.

AHMAD REZATRIYA, Sidoarjo

Bagian tulang ekor M. Zainal Ali Abidin masih sakit. Begitu pula kepalanya yang mengalami gegar otak ringan. Rabu (1/10) kemarin, santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny itu masih terbaring di kamar rawat inap Mawar Kuning RSUD R.T. Notopuro, Sidoarjo, Jawa Timur. Sang ibu, Siti Fatimah, mendampinginya di sisi tempat ia berbaring.

“Alhamdulillah, Ali ditemukan selamat. Ini anak pertama saya. Sebenarnya adiknya juga mondok di sana, cuma hari itu dia di rumah karena sakit perut,” kata wanita 41 tahun itu kepada Jawa Pos (kelompok Pontianak Post).

Hari yang dimaksud Siti adalah Senin (29/9), sekitar pukul 14.30, saat Ali bersama para santri lain salat Asar berjamaah di musala ponpes. Musala ponpes yang berlokasi di Buduran, Sidoarjo, itu berlantai tiga, dengan dua lantai sudah digunakan untuk aktivitas. Lantai tiga masih dalam tahap penyelesaian. Salat digelar di lantai 1. “Posisi saya paling kanan (utara) dari bangunan,” kata Ali yang duduk di kelas XI MAN Al-Khoziny.

Ketika rukuk di rakaat kedua, remaja 17 tahun itu mendengar suara seperti batu jatuh, dua–tiga kali. Sejumlah temannya yang ikut berjamaah spontan kabur. “Cuma saya nggak merasa gimana gitu, karena saya pikir hanya runtuhan molen cor yang jatuh,” paparnya. Ali salah menduga. Sekejap kemudian atap runtuh dan menimpanya. “Badan saya kejepit dan setelah itu tak ingat apa-apa lagi,” katanya

Sadar saat Dievakuasi

Sekitar sejam lamanya Ali tertimbun di bawah reruntuhan dalam kondisi pingsan. Ia baru sadar bahwa dirinya habis tertimpa reruntuhan saat diangkat tim penyelamat. Itu pun ia masih kesulitan membuka mata. “Saya tidak bisa buka mata, tapi telinga saya dengar suara teman-teman saya,” kata warga Peneleh, Surabaya, itu.

Tim penyelamat segera melarikannya ke ambulans. “Saya hanya bisa beristighfar,” katanya. Sampai pukul 17.00 kemarin (1/10), sudah 102 korban berhasil dievakuasi dari balik puing musala. Namun, empat di antaranya meninggal.

Belum semua santri yang tertimbun terevakuasi. Termasuk Al Fatih Cakra, anak Abdul Hanan, warga Bangkalan. “Saya sudah sejak Senin (29/9) malam dari Bangkalan ke sini, menunggu kabar anak saya,” katanya.

Ada pula Sholehudin, warga Bangkalan lainnya, yang juga sama cemasnya menunggu nasib putranya, Suwaifi. “Saya bolak-balik baca yang sudah dievakuasi, tapi tidak ada anak saya,” kata pria 46 tahun itu. “Kenapa nggak langsung pakai alat berat? Saya sudah terima apa pun kondisi anak saya, biar semua keluarga yang di sini lega,” lanjutnya.

Ali sendiri sudah sejak SMP bersekolah di Ponpes Al-Khoziny. “Sebenarnya (Senin) malam itu saya rencananya mau mengunjungi anak saya, tapi ternyata ada kejadian itu. Saya datang ke lokasi hanya bisa berdoa agar dia selamat,” ujarnya dengan nada getir.

Meski masih harus berbaring di ruang perawatan, kondisi Ali terus membaik. Siti mengapresiasi gerak cepat Bagus Sulistiono, dokter spesialis bedah saraf di RSUD R.T. Notopuro yang menangani sang buah hati. “Alhamdulillah, setiap hari dicek kondisinya,” katanya.

Lemas, tapi Masih Bicara

Bendungan di kedua mata Abdul Hawi jebol kala sang anak, Syehlendra Haical Raka, berhasil dievakuasi dengan selamat kemarin setelah tiga hari tertimbun di bawah reruntuhan.

“Alhamdulillah, ini doa yang sebelumnya kami panjatkan, di rumah dan di posko informasi,” kata pria asal Probolinggo, Jawa Timur, itu sembari terus mengusap matanya di IGD RSUD R.T. Notopuro.

Haical dan santri lainnya yang juga tertimbun, Yusuf, sebelumnya terekam berkomunikasi dengan tim penyelamat saat masih di bawah puing. Video percakapan tersebut tersebar ke berbagai platform.

Kemarin, kata Hawi, sang anak yang berusia 14 tahun itu juga masih bisa berbicara meski lemas. Kabar baik lainnya, dia tak mengalami patah tulang atau luka parah lain. “Mudah-mudahan, Haical bisa segera pulih dan pulang,” ujar Hawi sembari terus menangis bahagia. (/ttg)

 

Editor : Hanif
#santri #sidoarjo #Tertimpa #ponpes #reruntuhan #Ali