Puskesmas Banjar Serasan Kecamatan Pontianak Timur meluncurkan program inovasi Sapa Makmun atau Sambangi Pasien Mendekatkan Akses Imunisasi. Inovasi ini lahir untuk meningkatkan cakupan imunisasi dan menekan kasus campak yang tengah mengalami kenaikan.
Siti Sulbiyah, Pontianak
Kasus campak tercatat mengalami kenaikan di Kota Pontianak beberapa waktu belakangan. Tak terkecuali di Kelurahan Banjar Serasan, Kecamatan Pontianak Timur. Berdasarkan kasus suspek campak dari minggu ke 1-37 tahun 2025, terdapat 20 kasus campak yang terdata di Puskesmas Banjar Serasan Kota Pontianak. Mereka tersebar dalam sejumlah kelompok umur
“Berdasarkan umur kasus suspek campak lebih banyak dr gol umur 1- 4 tahun 11 kasus, sedangkan rata-rata kasus suspek campak lainnya umur di bawah 1, umur 5-9 dan umur 10-14 tahun yaitu masing-masing 3 kasus,” ungkap dr. M. Lazen Zulfikar, dalam paparannya saat kegiatan Forum Konsultasi Publik sekaligus peluncuran inovasi Sapa Makmun di Puskesmas Banjar Serasan.
Dokter umum yang bertugas di puskesmas tersebut menjelaskan, kasus campak lebih banyak dialami oleh anak-anak yang tidak pernah mendapat imunisasi, proporsinya sekitar 60 persen. Sedangkan berdasarkan jenis kemain kasus suspek campak lebih banyak Laki-laki dengan proporsi 60 persen dibandingkan dengan perempuan yang tercatat 40 persen.
Menurutnya, campak bukan sekadar penyakit ringan. Gejalanya mulai dari demam tinggi, batuk, mata memerah dan berair, hidung tersumbat, hingga bintil merah yang muncul di wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh. Penularannya pun hanya lewat percikan batuk atau bersin dari penderita.
Lonjakan kasus inilah yang menggerakkan Puskesmas Banjar Serasan untuk berinovasi. Program Sapa Makmun resmi diluncurkan pada Kamis (2/10) sebagai strategi menjemput bola dan mendekatkan akses imunisasi bagi warga.
Kepala Puskesmas Banjar Serasan, Rusnaini, menyadari masih banyak kendala di lapangan yang membuat cakupan imunisasi menurun.
“Kadang orang tua mau anaknya imunisasi, tapi terkendala tidak ada yang mengantar, atau harus menjaga rumah dan adik yang lain,” katanya.
Karena itulah inovasi ini hadir guna mendekatkan akses terhadap vaksin. Sistemnya cukup fleksibel. Petugas puskesmas bisa datang langsung ke rumah, atau masyarakat janjian di posyandu terdekat. Selain itu, dimungkinkan pula petugas puskesmas datang menjemput.
“Apakah orang harus dijemput ke sini (puskesmas, red) atau petugas kami yang mendatang mereka ke tempat itu,” katanya.
Baginya yang terpenting, imunisasi tidak lagi menjadi hal yang sulit diakses oleh warga.
Selain faktor akses, ada persoalan lain yang membuat imunisasi menurun, yakni hoaks dan kelompok antivaksin. Isu-isu yang beredar di media sosial sering membuat orang tua ragu, bahkan takut.
Padahal, data Puskesmas Banjar Serasan menunjukkan bahwa anak yang mendapat imunisasi jauh lebih terlindungi dari campak dibandingkan yang tidak. “Artinya bahwa imunisasi itu punya dampak signifikan terhadap pencegahan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,” pungkasnya.**
Editor : Hanif