Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Penyebab Kematian Tertinggi pada Kasus Stroke Perdarahan: Waspadai Aneurisma, Bom Waktu di Pembuluh Darah Otak

Idil Aqsa Akbary • Selasa, 14 Oktober 2025 | 10:20 WIB
ANEURISMA: Dokter spesialis saraf RSUD Soedarso, dr. Pandu Respati saat menjelaskan aneurisma otak.
ANEURISMA: Dokter spesialis saraf RSUD Soedarso, dr. Pandu Respati saat menjelaskan aneurisma otak.

Aneurisma otak sering kali disebut sebagai “bom waktu” di dalam kepala. Penyakit ini muncul akibat pelebaran pembuluh darah otak menyerupai balon tipis yang sewaktu-waktu bisa pecah. Begitu pecah, satu dari dua penderitanya berisiko meninggal dunia.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Dokter spesialis saraf (neurologi) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soedarso, dr. Pandu Respati, menjelaskan bahwa aneurisma merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi pada kasus stroke perdarahan.

“Sekitar 50 persen pasien aneurisma yang sudah pecah tidak bisa diselamatkan. Karena itu, deteksi dini, dan penanganan cepat sangat penting,” jelasnya.

Menurut Pandu, stroke terbagi dua jenis besar, yaitu stroke sumbatan, dan stroke perdarahan. Dari keseluruhan kasus stroke, sekitar 12 persen merupakan stroke perdarahan, tetapi justru jenis inilah yang memiliki risiko kematian paling tinggi.

“Salah satu penyebab utama perdarahan otak adalah aneurisma yang pecah,” ujarnya.

Untuk mencegah risiko tersebut, RSUD Soedarso kini telah memiliki fasilitas Cathlab berteknologi 3D angiografi yang memungkinkan dokter menangani aneurisma dengan lebih akurat. Teknologi ini digunakan dalam tindakan neurointervensi minimal invasif, yaitu prosedur tanpa operasi besar untuk menutup pembuluh darah yang melebar.

“Prinsipnya seperti kateterisasi jantung. Alat dimasukkan melalui pembuluh darah di paha, lalu diarahkan ke otak. Di lokasi aneurisma, kami masukkan kawat halus atau coil untuk menyumbat bagian yang melebar agar tidak pecah,” jelasnya.

Pandu menegaskan, tindakan ini menjadi terobosan penting bagi masyarakat Kalbar karena dapat dilakukan di Pontianak tanpa harus ke luar daerah. Selain itu, layanan ini sudah tercover oleh BPJS Kesehatan, sehingga pasien bisa menggunakan fasilitas Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Ia mencontohkan, berdasarkan pengalaman di rumah sakit besar seperti di Surabaya, penerapan teknologi ini mampu menurunkan angka kematian akibat aneurisma dari 58 persen menjadi 28 persen dalam kurun waktu 5–10 tahun.

“Teknologi neurointervensi terbukti menyelamatkan banyak nyawa. Di Kalbar, ini menjadi langkah besar untuk menurunkan angka kematian akibat stroke perdarahan,” tegasnya.

Pandu juga mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat untuk pemeriksaan dini, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat hipertensi, perokok berat, atau memiliki keluarga dengan riwayat aneurisma.

“Kami harap masyarakat tidak menunggu sampai gejala berat muncul. Semakin cepat terdeteksi, peluang sembuh semakin besar,” pesannya.

Untuk mendukung hal itu, RSUD Soedarso berencana memperkuat kerja sama dengan rumah sakit kabupaten/kota agar sistem rujukan, dan skrining dini bisa berjalan lebih efektif.

“Aneurisma memang kasusnya tidak banyak, tapi sangat fatal. Karena itu, kami ingin setiap rumah sakit kabupaten bisa mengenali gejalanya, dan segera merujuk pasien yang dicurigai,” pungkasnya.(*)

Editor : Hanif
#bom waktu #RSUD SOEDARSO PONTIANAK #pasien #risiko kematian #aneurisma otak #teknologi 3d