Kebiasaan duduk yang salah dalam waktu lama kini menjadi penyebab utama meningkatnya keluhan nyeri punggung dan gangguan tulang belakang di kalangan masyarakat modern. Merespons tantangan kesehatan ini, lima mahasiswa Universitas Tanjungpura lintas prodi menciptakan alat yang mereka sebut PostureTrack.
SITI SULBIYAH, Pontianak
Kelima mahasiswa tersebut adalah Afrizal dari Teknik Elektro, Hasan Supriadi dari Teknik Elektro, Marcell Jonathan dari Teknik Elektro, Aslam Fadholi Safkha dari Informatika, dan Beby Rasyiqah Auralita dari Pendidikan Dokter.
Gangguan tulang belakang seperti bungkuk (kifosis), pinggang melengkung berlebihan (lordosis), tulang belakang bengkok (skoliosis), dan nyeri punggung bawah (low back pain) seringkali disebabkan oleh kebiasaan duduk yang salah, posisi kerja yang tidak ergonomis, dan kurangnya kesadaran akan pentingnya menjaga postur tubuh yang benar.
Tanpa penanganan serius, kondisi ini dapat berkembang menjadi masalah kesehatan kronis yang mengganggu kualitas hidup. Karena itulah, PostureTrack dirancang sebagai alat yang dapat dipakai (wearable device) dengan strap elastis yang dapat menyesuaikan lingkar tubuh pengguna dalam rentang 95-105 cm, membuatnya nyaman digunakan oleh berbagai postur tubuh.
“Sabuk ini terbuat dari bahan nylon berkualitas tinggi yang tidak hanya elastis tetapi juga memiliki sirkulasi udara yang baik, memastikan kenyamanan bahkan saat digunakan dalam waktu lama,” ungkap Afrizal, selaku ketua tim.
Dari segi spesifikasi teknis, pemakaian alat ini dapat bertahan selama kurang lebih empat jam dan dapat diisi ulang. Terdapat pula sensor gerak yang memungkinkan pelacakan gerakan dan orientasi tubuh dengan presisi tinggi.
Cara kerja PostureTrack sangat intuitif dan mudah dipahami oleh semua kalangan. Sensor yang tertanam dapat terus memantau posisi dan kemiringan tubuh pengguna dalam tiga arah berbeda dengan akurasi tinggi. Data yang dikumpulkan sensor kemudian diproses oleh mikrokontroler yang berfungsi sebagai otak alat, dengan dimensi keseluruhan alat yang kompak, membuatnya nyaman dipakai tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari.
Alat PostureTrack ini dinilai istimewa karena kemampuannya untuk belajar dan beradaptasi dengan kebiasaan postur setiap pengguna melalui algoritma adaptive machine learning, sehingga sistem menjadi semakin pintar seiring dengan lamanya penggunaan.
Ketika alat mendeteksi posisi duduk yang salah dalam waktu tertentu, modul vibrator akan mengaktifkan getaran halus sebagai tanda peringatan agar pengguna segera memperbaiki posturnya apabila pengguna sudah duduk salah/non ergonomis. Getaran ini dirancang cukup halus untuk tidak mengganggu, namun cukup kuat untuk menyadarkan pengguna bahwa mereka perlu memperbaiki posisi duduknya.
“Tidak seperti alat monitoring postur konvensional yang hanya menggunakan patokan tetap, PostureTrack memiliki sistem belajar adaptif yang mampu menyesuaikan dengan kebiasaan dan bentuk tubuh setiap pengguna,” jelasnya.
Fitur pemantauan real-time memungkinkan data postur pengguna dikirim secara langsung melalui konektivitas WiFi ke website khusus yang dapat diakses melalui smartphone atau komputer. Website tersebut tidak hanya menyimpan riwayat postur pengguna, tetapi juga menyajikannya dalam bentuk grafik yang mudah dipahami, lengkap dengan rekomendasi personal dari tenaga medis.
Desain alat yang ergonomis dengan strap yang dapat menyesuaikan dari 95 hingga 105 cm memastikan kenyamanan pemakaian untuk berbagai ukuran tubuh tanpa menimbulkan iritasi atau ketidaknyamanan.
PostureTrack merupakan terobosan dalam pencegahan gangguan muskuloskeletal. “Alat ini tidak hanya mendeteksi posisi salah, tetapi juga membentuk kebiasaan duduk yang benar melalui sistem umpan balik langsung,” terangnya.
Afrizal juga menambahkan, gabungan penggunaan sensor yang presisi, algoritma adaptive machine learning, dan teknologi IoT diharapkan dapat menjadi solusi preventif dan inovatif dalam mengurangi risiko cedera akibat kebiasaan postur yang kurang baik.
Karya inovatif mereka kemudian mendapat dukungan resmi dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Tahun 2025.
Ferry Hadary, dosen di Teknik Elektro, yang juga dosen pembimbing menyampaikan harapannya bahwa PostureTrack dapat menjadi solusi praktis dan terjangkau untuk masyarakat, khususnya pekerja kantoran, pelajar, dan siapa saja yang banyak menghabiskan waktu dalam posisi duduk.
“Pencegahan sejak dini jauh lebih efektif daripada mengobati, dan alat ini diharapkan dapat menjadi mitra setia dalam menjaga kesehatan tulang belakang masyarakat Indonesia,” kata Ferry. **
Editor : Hanif