Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Melihat Aktivitas Nelayan di Kalbar: Dari Es Batu, Ikan Tetap Segar Sampai Meja Makan

Chairunnisya PP • Selasa, 21 Oktober 2025 | 07:14 WIB

 

 

TANGKAPAN: Nelayan mengangkat hasil tangkapannya di atas perahu di tengah laut.
TANGKAPAN: Nelayan mengangkat hasil tangkapannya di atas perahu di tengah laut.

Bagi ribuan nelayan di pesisir Kalbar, listrik bukan sekadar penerang malam. Namun, jadi denyut kehidupan. Pengikat dalam rantai ekosistem yang menyatukan laut, ketahanan pangan, dan roda ekonomi pesisir.

CHAIRUNNISYA, Pontianak

Selama 30 tahun Herman menjadi nelayan. Pria berusia 50 tahun ini mengandalkan laut sebagai sumber kehidupan. “Bagi kami nelayan kecil, kehadiran listrik sangat penting. Tanpa listrik, tidak ada es batu,” kata Herman yang tinggal di Dusun Sukadamai, Desa Sungai Duri, Kabupaten Bengkayang, Kalbar ini.

Saat turun bekerja, bukan hanya peralatan menangkap ikan dan kapal yang ia butuhkan, melainkan es batu dalam jumlah besar. Bahkan, dia bersama nelayan lain memilih tidak melaut saat es batu tidak tersedia. “Tanpa es batu, kami memilih untuk tidak melaut,” ujar Herman.

Herman bercerita dia pernah menunda melaut saat es batu tidak tersedia karena pemadaman listrik cukup lama. Sebab, ikan menjadi busuk jika tidak ada es batu untuk menjaga kesegarannya. Namun, kondisi itu terjadi belasan tahun silam.

Saat musim cumi usai, Herman mencari ikan. Dia berangkat sore hari, sekitar pukul 14.00. Pulang keesokan harinya, sekira pukul 11.00. Semua hasil tangkapan Herman baik cumi maupun ikan dijual ke agen ikan Kota Singkawang. Harga perkilogramnya bervariasi. Ikan kerapu berkisar Rp45 ribu perkilogram, ikan tompel Rp55 ribu perkilogram, ikan merah Rp60 ribu perkilogram, serta masih banyak ikan-ikan lainnya.

Amrazi, warga Desa Sukaramai, Kecamatan Sungai Duri, Kabupaten Bengkayang juga sangat mengandalkan es batu untuk menjaga kesegaran hasil tangkapannya. Pria berusia 24 tahun yang sudah delapan tahun menjadi nelayan ini memerlukan satu ton es batu saat melaut. Dia memuat es tersebut dalam kotak-kotak fiber di atas kapal berukuran panjang 14 meter dan lebar 2,8 meter miliknya.

“Es batu harus ada. Sebab sekali berangkat bisa seminggu. Biasanya dapat sekitar 300 kilogram cumi,” kata Amrazi.

Amrazi bersyukur suplai listrik di Kecamatan Sungai Duri, Kabupaten Bengkayang, dan di Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah sangat lancar. Sehingga es batu selalu tersedia.

“Kadang saya membeli es batu juga dari Sungai Kunyit,” pungkasnya.

Hal senada dikatakan Erwin, nelayan asal Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah ini memerlukan sekitar 150 batang es batu ketika melaut. Es tersebut digunakan untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan selama di laut.

“Untuk di laut dekat seperti perairan Pulau Temajo, biasanya melaut selama empat hari. Kalau perairan agak jauh seperti perairan Pengekek bisa seminggu,” kata Erwin.

Hasil tangkapan pria berusia 40 tahunan ini bervariasi. Ada ikan, cumi, dan udang. Biasanya sekali melaut bisa mendapatkan hasil minimal 100 kilogram. “Kalau tidak ada es batu, ya ikan bisa busuk. Tidak bisa dijual. Lalu, masyarakat dapat ikan dari mana?” katanya.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam website resminya menyebutkan jumlah nelayan yang mencari ikan di laut di Kabupaten Bengkayang pada 2023 sebanyak 3.411 orang, Mempawah 3.015 orang, Ketapang 8.727 orang, Sambas 14.373 orang, Pontianak 2.996 orang, Kubu Raya 28.906 orang, Singkawang 2.063 orang, dan Kayong Utara 8.482 orang.

Sementara itu data Badan Pusat Statistik merilis Kalimantan Barat dalam Angka 2025, disebutkan produksi perikanan tangkap di laut untuk Kalbar sebanyak 162.638.383 kilogram. Dari jumlah tersebut, Bengkayang sebanyak Bengkayang 8.995.752 kilogram, Mempawah 16.222.151 kilogram, Ketapang 26.762.284, Kayong Utara 23.777.925 kilogram, Kubu Raya 32.003.144 kilogram, Kota Pontianak 536.100 kilogram, dan Kota Singkawang 3.139.949 kilogram.

Nelayan-nelayan tersebut bergantung pada es batu untuk menjaga kesegaran ikannya. Hal ini diamini pemilik usaha pembuatan es batu, Dhuniati (39). Menurutnya, permintaan es batu oleh nelayan yang hendak melaut selalu ada setiap hari.

“Saya sudah sekitar 15 tahun usaha pembuatan es batu. Tiap hari nelayan ada yang beli untuk dibawa ke laut,” kata warga Dusun Sungai Duri 1, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah ini.

Sebelum menjalankan usaha tersebut, Dhuniati yang berasal dari Kudus ini merupakan pekerja migran di Malaysia. Di Negeri Jiran itu, dia bertemu jodoh sesama pekerja migran. Kemudian menikah, dan menetap di Mempawah, Kalimantan Barat, hingga saat ini.

Dhuniati menyadari usaha pembuatan es batu miliknya bergantung pada ketersediaan suplai listrik. Jika tidak ada listrik, maka usahanya kolaps. Akibat lainnya, nelayan tidak bisa melaut dan masyarakat tidak bisa mendapatkan ikan untuk pangan.

“Setiap hari itu minimal permintaan es batu oleh nelayan 200 buah es batu,” jelasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan nelayan, Dhuniati memiliki tujuh freezer atau mesin pembeku dan dua kotak penampungan. Kemudian, es batu yang sudah beku dimasukkan ke dalam dua kotak penampungan berukuran besar tersebut. Dia berharap usahanya berjalan lancar sehingga bisa terus membantu nelayan-nelayan di sekitar tempat tinggalnya.

“Saya berharap tidak ada masalah dengan suplai listrik. Sekarang ini bersyukur suplai listrik sudah stabil,” pungkasnya.

Dalam rilisnya, PT PLN (Persero) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan daerah dan perekonomian rakyat melalui perluasan akses kelistrikan yang merata hingga ke pelosok negeri, termasuk di Kabupaten Bengkayang. Komitmen ini diperkuat dalam pertemuan strategis yang dilaksanakan awal Juli lalu. Dalam kesempatan tersebut, PLN dan Pemerintah Bengkayang menyatukan langkah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur kelistrikan di seluruh kabupaten tersebut, termasuk di desa-desa yang hingga kini belum menikmati akses listrik.

Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam mewujudkan visi bersama menghadirkan energi yang merata, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat. Hal ini sejalan dengan program Electrifying Village yang diinisiasi PLN sebagai bagian dari upaya transformasi energi nasional.

Manajer Unit Pelaksana Pelayanan Ketenagalistrikan (UP2K) Khatulistiwa, Danny Baharaja Pasaribu, menyampaikan bahwa salah satu fokus utama yang dibahas dalam pertemuan ini adalah percepatan elektrifikasi di Kabupaten Bengkayang.

“Saat ini, kami terus berupaya agar desa di Kabupaten Bengkayang dapat teraliri listrik” ujar Danny.

Menurutnya, Rasio Desa Berlistrik (RDB) PLN di Kabupaten Bengkayang ditargetkan meningkat yang sebelumnya 87,90 persen menjadi 91,13 persen pada Desember 2025.

“Peningkatan ini menjadi prioritas dalam mendukung pembangunan yang inklusif dan berkeadilan,” lanjutnya.

Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis dalam kesempatan tersebut menyampaikan dukungan penuh terhadap program kelistrikan yang dijalankan PLN.

“Kabupaten Bengkayang memiliki potensi energi yang besar, termasuk keberadaan PLTU 1 dan PLTU 3. Potensi ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk membangun daerah dan memperkuat perekonomian masyarakat, salah satunya melalui pemerataan akses listrik hingga ke pelosok. Kami siap mendukung penuh langkah-langkah PLN dalam mewujudkan hal ini,” tegas Bupati Sebastianus. (*)

 

Editor : Hanif
#bengkayang #sungai duri #mempawah #laut #hidup #es batu #nelayan #hasil laut