Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kisah Muhammad Ikhsan dan Energi Hijau untuk Pertanian: Ketika Cahaya Matahari Jadi Jalan Pulang

Silvina PP • Kamis, 23 Oktober 2025 | 13:33 WIB
PANEL SURYA: Muhammad Ikhsan menunjukkan satu keping panel surya yang bermanfaat untuk lahan pertaniannya.
PANEL SURYA: Muhammad Ikhsan menunjukkan satu keping panel surya yang bermanfaat untuk lahan pertaniannya.

Bagi Muhammad Ikhsan sinar matahari bukan sekadar cahaya yang datang setiap pagi dan pergi kala petang. Pria asal Sungai Rengas ini menganggap matahari adalah sahabat yang menyalakan harapan. Dari pancaran cahayanya lahir energi yang memberikan berkah dan kehidupan bagi penghuni bumi ini. Dalam diam, Ikhsan membuktikan bahwa masa depan lewat pancaran matahari bisa diciptakan dari rumah dan lahan sendiri, sederhana, mandiri, dan berkelanjutan.

SILVINA, Kubu Raya

Rasa lelah dan jenuh bekerja mendorong Muhammad Ikhsan (41 tahun) beralih haluan menjadi pejuang energi hijau di kampung halamannya di KM 3,6 Sungai Rengas, Kabupaten Kubu Raya. Lulusan S1 Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin Makassar dan S2 Teknik Universitas Tanjungpura Pontianak ini sebelumnya meniti karier panjang di salah satu NGO (organisasi nonpemerintah) besar di Indonesia. Mobilitas tinggi, tanggung jawab besar, dan ritme kerja yang semakin cepat membuatnya perlahan merasa kehilangan makna. Terakhir, ia ditempatkan di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, tempat yang indah namun jauh dari keluarga.

CARA KERJA: Muhammad Ikhsan memberikan penjelasan tentang alur sistem PLTS berikut cara kerja perangkatnya.
CARA KERJA: Muhammad Ikhsan memberikan penjelasan tentang alur sistem PLTS berikut cara kerja perangkatnya.

“Sebelum resign, saya akan dipindahtugaskan ke tempat yang lebih jauh dari Wakatobi, sehingga membuat saya lelah, bukan hanya fisik tapi juga batin. Saya ingin membangun sesuatu yang lebih dekat dengan diri saya sendiri, di tanah kelahiran serta dekat dengan keluarga tercinta,” kenang Ikhsan, sapaan karib Muhammad Ikhsan, ketika ditemui Pontianak Post, Minggu (19/10).

Keputusan pulang kampung membawa Ikhsan pada babak baru dalam hidupnya. Ia mulai menyusun rencana program hidup ke depan yang akan dijalaninya dalam tiga fase. Salah satu rencana besar yang akan dikerjakannya adalah membangun pembangkit listrik tenaga surya secara mandiri di rumahnya. Rencana ini bersinergi dengan mimpinya untuk mewujudkan kemandirian dan kedaulatan energi yang terintegrasi dengan kemandirian pangan serta masa depan berkelanjutan.

Untuk merealisasikan semua itu, Ikhsan mengawalinya pada fase pertama dengan membangun fondasi dari sistem pertanian terpadu atau lebih dikenal dengan istilah integrated farming di pekarangan rumahnya. Sistem yang ia adopsi ini kemudian dinamai Miksan Farm.

Menurut Ikhsan, Miksan Farm masuk dalam program kemandirian pangan. Miksan Farm resmi berdiri pada 7 Januari 2017 di atas lahan miliknya seluas seperempat hektare atau sekitar 2.400 meter persegi. Dari lahan ini, ia menanam sayuran seperti kangkung, bayam, sawi, dan daun sop.

Ayah dua anak ini juga mengembangkan kebun buah-buahan seperti durian, rambutan, jambu, jeruk, hingga lengkeng. Beternak ayam kampung, bebek, dan ikan lele juga turut ia lakoni untuk memanfaatkan lahan di rumahnya.

Semua sektor itu saling terhubung dan mendukung satu sama lain dalam satu siklus ekonomi sirkular. Limbah ternak menjadi pupuk tanaman, air kolam menjadi sumber nutrisi sayur, dan sisa panen dimanfaatkan kembali sebagai pakan. “Saya ingin memastikan semua kebutuhan keluarga. Seperti karbohidrat, protein, sayur ada di sekitar rumah, sehingga kami tidak perlu keluar karena semuanya sudah tersedia,” ujar Ikhsan.

Konsep ini tidak hanya memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga menjadi model slow living yang berkelanjutan. Di sela kesibukannya, ia membangun pondok-pondok kecil di tepi kolam sebagai tempat bersantai, berdiskusi, sekaligus belajar bersama warga yang tertarik dengan sistem pertanian terpadu ini.

Pada fase awal, bidang perikanan menjadi unggulan. Lele hasil budidayanya dikenal berkualitas tinggi karena pakan alami dari cacing sutra dan proses pemijahan alami tanpa bahan kimia. Ia bahkan sempat membuka kafe dengan menu andalan “pecel lele sehat dari Miksan Farm.”

Fase kedua pada tahun 2020 menjadi kisah paling seru dalam episode hidup Ikhsan. Saat itu dunia sedang dilanda pandemi Covid-19; seluruh daerah terdampak. Ketika akses ekonomi seret dan aktivitas dibatasi, Ikhsan justru membuktikan bahwa kehadiran Miksan Farm bisa menjadi solusi karena kebutuhan pangan sudah tersedia di pekarangan rumahnya.

Ikhsan semakin bersemangat membangun energi mandiri agar kehidupannya semakin berkembang. Ia sejak awal sudah berpikir bahwa pangan mandiri tidak akan cukup jika energi masih bergantung pada luar. Ia pun membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di rumahnya sedikit demi sedikit.

Ikhsan terdorong membangun PLTS mandiri untuk menghemat biaya listrik rumah tangga, lahan pertanian, dan kafenya agar tetap bisa menerapkan kemandirian pangan dan energi dalam hidupnya. Alhasil, pria yang berhasil menyelesaikan S2-nya dalam waktu 13 bulan ini mulai bereksperimen dan menganggapnya sebagai ruang belajar. Tanpa latar belakang ilmu elektro, ia mulai mempelajari seluk-beluk panel surya dari berbagai sumber, melakukan riset kecil di rumah, hingga akhirnya berhasil merakit sistem PLTS off-grid secara mandiri pada tahun 2020.

Dua puluh empat keping panel surya yang ada di atas rumahnya mampu menghasilkan listrik berkapasitas hingga 2.400 Wp dengan penyimpanan 4.800 Wp. Listrik itu cukup untuk menyalakan kulkas, mesin cuci, lampu, bahkan pompa air, sementara AC menggunakan listrik dari PLN. Dari hasil pemasangan PLTS sederhana ini, Ikhsan merasakan dampak penghematan yang luar biasa. Semula membayar tagihan listrik sekitar satu juta rupiah per bulan, kini cukup dua ratus ribu rupiah untuk pembayaran AC saja.

“Pontianak ini kaya cahaya matahari. Sayang kalau tidak dimanfaatkan. Dan panel surya ini bukan hanya alat, tapi cara saya bersyukur. Jadi saya yakin, lewat panel surya ini, cahaya yang berlimpah bisa kita manfaatkan untuk keberlangsungan hidup kita,” ujarnya sambil tersenyum.

Sistem PLTS ini juga menjadi bagian penting dalam menghidupkan lahan pertaniannya. Air untuk menyiram tanaman dipompa dengan tenaga surya, mengurangi emisi dan ketergantungan pada listrik konvensional. Ia menyebutnya sebagai bentuk akselerasi energi hijau versi rumah tangga sederhana, tapi nyata.

Ketekunan Ikhsan tidak berhenti di situ. Ia mendokumentasikan proses perakitan dan uji coba PLTS di media sosial. Bagi Ikhsan, ilmu tidak boleh berhenti di kepala sendiri. “Kalau mau terampil, harus berbagi. Dengan berbagi ilmu dengan orang lain, pengetahuan kita akan berkembang,” tukasnya.

Unggahannya menarik perhatian warga sekitar, bahkan beberapa datang untuk belajar langsung atau memesan sistem serupa. Dari rumah di tepi Jalan Sungai Rengas itu, perlahan tumbuh komunitas kecil yang peduli energi bersih dan ingin mandiri dari ketergantungan listrik sentral.

Waktu terus bergulir, program hidup di fase pertama dan kedua berhasil dilalui Ikhsan dengan mulus. Miksan Farm dan PLTS rumahan terus hadir hingga Covid berlalu. Namun, ketika akan memasuki fase ketiga, Miksan Farm harus berhenti ketika musibah banjir secara berturut-turut menghampiri lahan Ikhsan pada tahun 2024. Perencanaan Ikhsan untuk fase ketiga dengan menerapkan kedaulatan finansial praktis ikut terhenti saat itu.

“Saya berharap di fase ketiga saya sudah bisa mencapai kedaulatan finansial, fase di mana saya dan keluarga hanya memperoleh pemasukan tanpa ada pengeluaran. Namun takdir berkata lain, ya, kita hanya bisa menerima dengan sabar,” ujarnya, yang mengatakan sejak musibah itu terjadi, Miksan Farm resmi ditutup.

Ikhsan menjalani hari-hari penuh perjuangan untuk tetap melanjutkan hidup dan menggapai mimpi-mimpinya. Meski sebagian lahan Miksan Farm kini disewakan ke investor untuk pengelolaan lain, Ikhsan tidak berhenti berkreasi. Ia masih memanfaatkan sebagian lahan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Kolam lele dan tanaman di kebun masih produktif, sementara panel surya tetap menjadi “penjaga siang” yang menyalakan rumah dan semangatnya.

Ikhsan kini juga kerap diundang untuk berbagi pengalamannya di kampus dan seminar energi serta lingkungan. Bagi banyak orang, kisahnya mungkin sederhana, tapi bagi yang memahami esensi keberlanjutan, langkah Ikhsan adalah simbol penting bahwa transisi energi bisa dimulai dari rumah, dari halaman, dari keberanian seseorang untuk mencoba.

Kendati Miksan Farm resmi ditutup, semangat Ikhsan tak pernah padam. Ia terus menanam, memperbaiki sistem PLTS-nya, dan bermimpi agar lebih banyak masyarakat Kalbar menerapkan konsep mandiri. “Saya ingin masyarakat tidak hanya mengadopsi teknologi, tapi menerapkannya sesuai potensi alam dan SDM yang mereka miliki. Jangan menunggu bantuan, mulailah dari apa yang kita punya, dan mulailah dari yang sederhana,” pesannya.

Ia juga berharap kepada pemerintah agar lebih serius dalam mendukung regulasi pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) serta memberi ruang bagi inovator lokal untuk berkembang. “Sumber daya kita melimpah, tinggal kemauan dan dukungan kebijakan yang perlu diperkuat,” tambahnya.

Di bawah cahaya matahari yang memantul di permukaan kolam, Ikhsan memandang panel surya yang terpasang di atas rumahnya. Dari sana, ia tahu satu hal: masa depan hijau bukan mimpi besar yang jauh di depan. Ia bisa dimulai dari rumah, dari tangan-tangan kecil yang percaya bahwa bumi akan lebih baik jika manusia mau bergerak.

Manajer Komunikasi dan TJSL PLN UID Kalimantan Barat, Mukhlis Zarkasih, ketika dihubungi, menyampaikan apresiasinya kepada warga Desa Sungai Rengas yang telah memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) off-grid untuk memenuhi kebutuhan listrik rumah tangganya. Langkah mandiri ini dinilai Mukhlis sebagai bentuk nyata kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kemandirian energi sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

Menurut Mukhlis, inisiatif masyarakat seperti yang dilakukan Muhammad Ikhsan mencerminkan dukungan nyata terhadap upaya transisi energi menuju sumber daya yang lebih bersih dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan komitmen PLN sebagai pelopor energi hijau dalam mewujudkan target Net Zero Emission pada tahun 2060.

“PLN sangat mengapresiasi langkah warga yang telah lebih dulu bergerak memanfaatkan energi surya. Ini menunjukkan bahwa masyarakat turut berperan aktif dalam mendukung perubahan menuju energi bersih,” ungkap Mukhlis.

Terkait pengembangan PLTS di tingkat rumah tangga, PLN menegaskan komitmennya untuk terus memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, maupun masyarakat terus didorong agar potensi energi hijau dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lokal. “Semua langkah ini merupakan bagian dari perjalanan bersama menuju sistem ketenagalistrikan yang ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan,” tambahnya.

Mukhlis selanjutnya menyampaikan pesan khusus kepada masyarakat yang telah atau akan menggunakan PLTS secara mandiri. Selain memberikan apresiasi, pihaknya tetap mengimbau agar masyarakat selalu memperhatikan aspek keselamatan dan keandalan instalasi. Peralatan yang digunakan harus memenuhi standar mutu, dan proses pemasangan sebaiknya dilakukan oleh tenaga ahli agar sistem tetap aman serta tidak menimbulkan gangguan bagi lingkungan sekitar.

Dengan semakin banyaknya warga yang beralih ke energi surya, PLN optimistis gerakan menuju kemandirian energi dan lingkungan bersih akan semakin kuat, terutama di tingkat komunitas dan rumah tangga.

Sementara itu, pada edisi Sabtu (28/6), Pontianak Post pernah merilis informasi tentang pernyataan dari PLN di tingkat pusat yang mendukung pembangunan PLTS. Bahkan, lembaga ini mendukung penuh upaya mewujudkan keadilan energi melalui pemanfaatan PLTS.

Hal itu seperti disampaikan Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo. Ia menegaskan komitmen penuh PLN dalam mendukung pemerintah untuk mewujudkan keadilan energi di wilayah 3T melalui pemanfaatan PLTS secara masif.

“Program ini bukan sekadar menghadirkan listrik, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin dalam transisi energi global. Ini adalah bentuk gotong royong nasional untuk mewujudkan masa depan yang bersih, hijau, dan inklusif,” ujar Darmawan.

Ia menjelaskan bahwa 47 PLTS yang diresmikan beberapa waktu lalu memiliki total kapasitas 27,8 megawatt (MW) dan berhasil memberi akses listrik bagi 5.383 rumah tangga di 47 desa yang tersebar di 11 provinsi di seluruh Indonesia.

“Dulu, anak-anak belajar ditemani lampu minyak, layanan kesehatan terbatas, dan roda ekonomi desa berhenti saat malam tiba. Kini, listrik dari energi bersih mengubah segalanya. Anak bisa belajar lebih lama, puskesmas dapat melayani masyarakat dengan optimal, dan usaha rakyat tumbuh. Inilah keadilan energi. PLN siap menjalankan visi Presiden menuju kemandirian energi lewat akselerasi energi terbarukan,” tutup Darmawan. **

Editor : Hanif
#plts #pembangkit listrik #pulang kampung #Surya #kemandirian pangan #energi hijau #pln