Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Nama Baik, Hasil Baik: Filosofi di Balik Tanjidor Sumber Rejeki Mengiringi Budaya Melayu

Miftahul Khair • Kamis, 23 Oktober 2025 | 16:15 WIB
Grup Tanjidor Sumber Rejeki menjadi pengiring sebuah acara. Gabungan pemuda dengan berbagai profesi yang, mempertahankan budaya melayu Pontianak.
Grup Tanjidor Sumber Rejeki menjadi pengiring sebuah acara. Gabungan pemuda dengan berbagai profesi yang, mempertahankan budaya melayu Pontianak.

Di tengah gemuruh kota Pontianak yang modern, suara merdu tanjidor sering kali mengalun sebagai pengiring acara-acara tradisional, membawa nuansa Melayu yang kental dan menghidupkan kembali kenangan masa lalu. Filosofi sederhana di balik nama Tanjidor Sumber Rejeki yang berarti nama baik, hasil baik menjadi landasan bagi komunitas ini, yang tidak hanya mencari nafkah tetapi juga melestarikan budaya.

NUR’AINI, Pontianak

DIDIRIKAN pada 22 Desember 2018, komunitas ini lahir dari komunitas kecil bernama Tiup Besi di kampus Universitas Tanjungpura, yang awalnya hanya beranggotakan enam orang mahasiswa seni dan tari musik. Dari permintaan sederhana untuk mengiringi pernikahan, mereka berkembang menjadi wadah bagi seniman freelance yang menghidupkan musik Melayu di era digital ini.

“Tanjidor Sumber Rejeki berdiri pada tanggal 22 Desember 2018. Yang awal mulanya dari komunitas Tiup Besi yang ada di kampus prodi seni dan tari musik FKIP. Awal mula ceritanya tu ade kawan yang mau nikah mereka minta saya untuk mengiringi tandijor gitu kan, saya bilang bisa lah kan, karena waktu itu masih dalam komunitas tiup besi waktu itu, nah jadi kebetulan akhirnya dapat enam orang, kalau komunitas tiup besi sih ada sekitar belasan oranglah tidak sampe 20. Akhirnya bisa singkat cerita kita anggap dari tanggal pernikahan 22 desember 2018 tu sebagai awal terbentuknya tanjidor Sumber Rejeki,” ujar Uray Ferry pendiri Tanjidor Sumber Rejeki dalam wawancara eksklusif di FerryCaffe pada Selasa (21/10).

Ferry juga menjelaskan inspirasi nama kelompoknya, yang mencerminkan keyakinan bahwa nama yang positif akan membawa hasil yang baik. Ia menyebutkan bahwa anggota kelompoknya adalah seniman freelance yang sibuk dengan profesi masing-masing, seperti dosen dan guru, sehingga tidak ada anggota tetap. Meskipun pekerjaan utama mereka biasanya jatuh pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu, kelompok ini terus berkembang melalui relasi dan event budaya, menjadikan musik sebagai sumber rezeki sekaligus pelestarian.

Mereka memainkan berbagai lagu, dari tradisional Melayu hingga populer, dan bahkan lagu anak-anak seperti Doraemon di acara tertentu. Kostum mereka, termasuk telok belanga, sering kali didapat dari pekerjaan, seperti acara ulang tahun Pontianak.

Anggota Tanjidor Sumber Rejeki, yang berjumlah sekitar 10 hingga 20 orang, sebagian besar adalah seniman, dosen, dan guru yang bekerja paruh waktu, tanpa anggota tetap. Mereka memainkan lagu-lagu klasik Melayu salah satunya seperti Jepin, Lancang Kuning, dan Aek Kapuas, serta lagu populer seperti Stecu-Stecu. Kostum khas mereka telok belanga yang diperoleh dari pemerintah daerah, menjadi identitas visual yang mencerminkan akar Melayu Pontianak.

Salah satu tokoh kunci dalam kelompok ini adalah Peri Rakhmadi, seorang komposer dan musikolog yang juga berperan sebagai personil dengan memainkan tenor saksofon. Sebagai seniman dan budayawan, ia melihat tanjidor sebagai bagian dari warisan budaya Melayu yang harus dijaga, bukan sekadar alat untuk mencari untung. Dalam pandangannya, generasi muda sering kali terpesona oleh budaya luar, sehingga melupakan identitas lokal yang berharga.

“Ini adalah identitas kita.  Kita malu ketika keluar orang bertanya, kamu dari mana? Budayanya seperti apa? Kita tidak tahu. Kalau kita bicara budaya barat, kita mau main sehebat apapun, mereka lebih hebat dari kita. Tapi mereka benar-benar hebat daripada kita yang memiliki budaya kita sendiri. Mereka akan sangat ibaratnya mengapresiasi yang kita miliki apalagi Indonesia dengan budaya yang sangat beragam. Saya pikir perlu diperhatikan untuk anak-anak muda, karena tidak salah juga untuk kita melestarikannya.”ungkapnya.

Dalam pandangan Peri, melestarikan budaya adalah cara untuk menjaga identitas di tengah globalisasi. Ia mengingatkan bahwa orang luar sering mengapresiasi budaya Indonesia, sehingga generasi muda harus bangga dan melestarikannya. Dukungan pemerintah, meskipun ada, tidak cukup tanpa inisiatif dari komunitas sendiri. "Kalau kita tidak bergerak dari dalam diri kita, bagaimanapun pemerintah memberi sebuah fasilitas, tapi kita tidak punya niat dari dalam diri kita, saya pikir memang betul-betul kami yang menggerakkan diri," tegasnya.

Peri juga menambahkan perspektif budaya yang lebih dalam. Ia menekankan bahwa tanjidor bukan hanya musik, tetapi bagian dari identitas Melayu Pontianak yang harus dilestarikan. "Kita tidak mikirnya untuk profit karena memang itu tuh hanya bonus gitu. Tapi adalah cerita kita kepada anak cucu kita bahwa ada kebudayaan yang harus kita lestarikan," katanya. Sebagai generasi mid-career, ia merasa bertugas menjembatani generasi senior dan junior, mencegah anak muda terlalu terpengaruh budaya barat.

Tanjidor Sumber Rejeki kini menjadi contoh bagaimana musik tradisional dapat bertahan dan berkembang di era modern, membuktikan bahwa filosofi nama baik, hasil baik bukan sekadar slogan, tetapi panduan hidup bagi para seniman yang berkomitmen pada budaya Melayu. Dengan terus mengiringi acara-acara lokal, mereka tidak hanya mencari rezeki, tetapi juga menanamkan nilai-nilai warisan kepada generasi mendatang. Di Pontianak, suara tanjidor ini mengingatkan bahwa budaya adalah akar yang kuat, yang harus dirawat agar tidak punah. (mgg)

Editor : Miftahul Khair
#Sumber rejeki #filosofi #modern #pontianak #budaya melayu #tanjidor #musik