Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tenun Corak Insang, Identitas Melayu Pontianak yang Hadapi Tantangan Regenerasi

Miftahul Khair • Kamis, 23 Oktober 2025 | 16:00 WIB
Penenun Corak Insang ditemui di Rumah Produksi Tenun Khatulistiwa di Batulayang Pontianak Utara Kota Pontianak.
Penenun Corak Insang ditemui di Rumah Produksi Tenun Khatulistiwa di Batulayang Pontianak Utara Kota Pontianak.

Tenun corak insang tidak hanya menjadi simbol keindahan wastra Melayu Pontianak, tetapi juga jejak sejarah yang menandai identitas budaya masyarakat pesisir. Di tengah gempuran zaman digital, sejumlah penenun seperti Kurniati di Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa masih berjuang menjaga keberlangsungan tenun tradisional yang dahulu hanya dikenakan keluarga kerajaan Keraton Kadriah.

DYTA AMELIA, Pontianak

PEMANGKU adat Keraton Kadriah, Syekh Arsula Datok Sriminati, menjelaskan bahwa corak insang dahulu hanya dipakai oleh kalangan kerajaan. “Dulu kain corak insang ini juga cuma dipakai oleh anggota keluarga kerajaan di acara-acara besar jak (saja, red). Dulu tu sebagai simbol status sosial sekaligus dipercaya bawa keberuntungan bagi pemakainye,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa makna corak insang merefleksikan hubungan masyarakat dengan alam. “Sebagai insang, alat pernafasan ikan tu diibaratkan sebagai simbol keberlangsungan hidup. Jadi seperti sungai dan laut jadi sumber makanan masyarakat yang menjadi inspirasi penenun dulu untuk menjadikannya bagian dari corak insang ini,” katanya.

Salah satu penenun yang masih aktif melestarikan warisan ini adalah Kurniati, pendiri rumah produksi Tenun Khatulistiwa di Batulayang, Pontianak Utara. Ia telah menekuni profesi ini sejak 1999 setelah berpindah dari Sambas akibat kerusuhan. “Awalnya saya membuka usaha kecil di kampung, tapi setelah kerusuhan pindah ke Pontianak mulai buat usaha lagi dengan modal 60.000,” ujarnya.

Kini, rumah produksinya menjadi tempat bagi puluhan penenun yang sebagian besar sudah lanjut usia. Proses pembuatan satu lembar kain corak insang membutuhkan waktu cukup panjang hingga satu bulan.

Pendiri rumah produksi Tenun Khatulistiwa Kurniati menunjukkan karya tenun corak insang pada Senin (20/10).
Pendiri rumah produksi Tenun Khatulistiwa Kurniati menunjukkan karya tenun corak insang pada Senin (20/10).

“Ada proses namanya menghani, mengikat, menyelup, menetar, mengubung, buat motif, dan tenun,” jelasnya.

Proses pewarnaan menjadi tahap penting dalam menghasilkan kain berkualitas. Ia mengaku untuk pewarna alam menggunakan bahan-bahan yang ada disekitar kampung.

“Kalau sintesis itu warnanya sudah jadi, kecuali bahan alam saye buat sendiri. Bahannye dari macam daun mangge, akar mengkudu, rambutan, kulit jengkol. Tapi itu tidak tiap hari saye buat kek gitu. Kalau perlu atau banyak jak bahannya,” lanjutnya.

Kurniati menambahkan, dari segi harga dan ketahanan, kain berbahan pewarna alami cenderung lebih unggul dibanding pewarna sintetis .

“Segi harga, pasti lebih mahal yang bahan alam. Karena prosesnya yang bikin mahal. Kalau alam tahan, cuman penyakitnye di simpan dalam lemari (kayu) dimakan rayap,” ungkapnya.

Baca Juga: Peringatan Hari Santri ke-10 di Kalbar: Santri jadi Pelopor Kemajuan Bangsa di Era Digital

Setiap corak dan warna juga melalui perhitungan khusus. Dan ketentuan ukuran motif zig-zag dalam corak insang tergantung pada permintaan.

“Ade perhitungannya, pas buat motif ade hitungannya. Kalau pas jadi kain ade ukurannye, biase ukurannya 2 meter. Kalau itu (pewarnaan, red) tergantung pesanan, same tergantung kite nyelupnye. Tapi yang kebanyakan tu yang besar-besar (zig-zag, red). Kalau kecil lebih mahal, karena lebih repot dan lebih lama proses ngikatnye,” tambahnya.

Harga tenun di rumah produksinya bervariasi antara Rp150 ribu hingga Rp12 juta tergantung bahan dan tingkat kerumitan. Namun, permintaan kain tenun disebut tidak meningkat meski menjelang HUT Kota Pontianak. “Kalau HUT Pontianak kayaknya tak ada ngaruh ke saya. Malah makin sepi,” katanya.

Kurniati menyebut, masa depan tenun tradisional bergantung pada upaya regenerasi. “Kalau masa depan tenun nih, saya kurang tau gak (juga, red). Tapi kalau tak dikembangkan habis gak (juga, red) nanti. Kasian bah nekwan kite (nenek moyang, red) yang ciptakan ini kalau bukan saye, siape agik nak mempertahankannya,” ucapnya.

Ia pun menitip pesan kepada generasi muda agar tidak melupakan akar budaya sendiri. “Kalau untuk anak-anak mude, jangan tinggalkan budaya yang ade disekitar kite. Kalau bukan yang mude yang kembangkan siape agik, yang tua pasti mati,” tutupnya. (mgg)

Editor : Miftahul Khair
#sejarah #filosofi #tenun #pontianak #corak insang #budaya melayu #KERATON KADRIAH