Lebih sudah empat dekade lebih Sanggar Bougenville hadir sebagai wadah bagi para pecinta seni di Pontianak. Sejak berdiri, sanggar ini konsisten menghidupkan tarian-tarian tradisional khas daerah sekaligus melahirkan generasi muda yang mencintai budayanya sendiri.
KARUNIA PUTRI, Pontianak
PAGELARAN ulang tahun Bougenville bukan sekadar perayaan, melainkan bentuk nyata dari tekad untuk menjaga identitas budaya daerah Kalimantan Barat. Lewat tarian-tarian khas seperti Bebasoh, Belidak, hingga Sekapur Sirih, Bougenville memperlihatkan bahwa seni tradisi tetap bisa hidup dan berprestasi di tengah arus modernitas.
Pada Sabtu (18/10), langkah-langkah kaki berirama cepat, hentakan musik tradisional, dan gerak penuh makna mewarnai panggung Bougenville Festival 2025. Di usia ke-41 tahun, Sanggar Bougenville kembali membuktikan diri sebagai pelestari budaya Kalimantan Barat melalui tarian-tarian yang tak hanya indah dipandang, tetapi juga kaya nilai dan berprestasi hingga ke mancanegara.
Di tengah arus modernisasi dan derasnya pengaruh budaya luar, Sanggar Bougenville tetap berdiri sebagai benteng pelestarian seni tradisional. Dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-41, sanggar ini menggelar pagelaran seni bertajuk Bougenville Festival (B-Fest).
“Pagelaran ini kami adakan dalam rangka menggalakkan seni budaya, khususnya budaya daerah. Tujuannya agar generasi muda bisa mencintai dan mewarisi budaya yang punya nilai tinggi di mata dunia,” ujar Yuza Chaniago pimpinan Sanggar Bougenville dengan semangat.
Bagi Bougenville, seni bukan sekadar hiburan, tetapi bentuk tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur. Setiap gerak dan irama mengandung kisah tentang masyarakat, lingkungan, dan filosofi hidup yang sudah turun-temurun.
Salah satu karya ikonik sanggar Bougenville adalah Tari Bebasoh, yang diciptakan pada tahun 2011. Tari ini lahir dari pengamatan sederhana namun penuh makna terhadap kehidupan masyarakat Pontianak yang lekat dengan sungai, sumber kehidupan yang tak pernah berhenti mengalir.
“Pontianak ini kan terdiri dari parit dan sungai - sungai. Dulu masyarakat memanfaatkan air untuk mandi, mencuci, dan bersosialisasi. Nah, dari sana lahirlah inspirasi untuk Tari Bebasoh muncul bagaimana sebagian masyarakat Pontianak itu memanfaatkan sumber air tersebut, menggambarkan pula bagaimana air ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat hingga sekarang,” jelas pria yang memakai pakaian telok belanga itu.
Dalam bahasa Melayu, bebasoh berarti mencuci atau mandi di tepi air. Gerakan tarinya yang lembut namun dinamis, mencerminkan aktivitas para wanita yang mencuci dan mandi di tepi sungai pada sore hari, sambil bercanda, bermain air, dan tertawa riang apalagi saat air pasang telah tiba.
Gerak dan musik pada Tari Bebasoh menggambarkan aktivitas masyarakat yang berinteraksi dengan sungai, mulai dari mencuci, mandi, hingga mengambil air.
Hal ini membuat tarian tersebut tidak hanya menampilkan estetika gerak, tetapi juga nilai budaya yang mendalam. Setiap hentakan kaki dan kibasan tangan menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat sungai yang sederhana namun penuh semangat.
Tari ini dibawakan oleh lima penari perempuan, masing-masing membawa sehelai kain sebagai simbol cucian. Gerakan tangan yang mencuci dan menjemur berpadu dengan musik tradisional yang mengalun pelan, menghadirkan suasana sederhana namun sarat makna. Menariknya, di tengah pertunjukan, penonton sering meneriakkan kata “Bebasoh!” dengan semangat, menjadikan mereka bagian dari pertunjukan itu sendiri.
Melalui tarian ini, Bougenville ingin menyampaikan bahwa air bukan sekadar elemen alam, melainkan simbol kehidupan dan kebersamaan masyarakat Pontianak.Tari Bebasoh bukan sekadar pertunjukan, tapi cermin budaya sungai yang membentuk wajah Pontianak.
Berbeda dengan Tari Bebasoh yang lembut, Tari Belidak tampil penuh energi, memancarkan semangat dan keberanian juga memiliki filosofi yang berakar dari tradisi masyarakat masa lampau. Diciptakan pada tahun 2014, tarian ini terinspirasi dari keberanian para gadis melayu yang menggunakan belidak, sebuah alat tradisional yang berbentuk pedang dan biasanya terbuat dari kayu ulin atau belian yang dahulu digunakan masyarakat Pontianak untuk mengganjal pintu dan dipercaya dapat mengusir roh jahat, dan merupakan salah satu tarian khas atau ikonik dari sanggar bougenville.
“Dulu setiap rumah punya belidak. Selain untuk pengaman, benda ini juga dianggap sebagai pelindung dari hal-hal gaib,” kenang Yuza.
Dalam gerakan tariannya memadukan ketegangan dan kekuatan, Belidak menggambarkan perjalanan dari rasa takut menuju keberanian. Nilai simbolis inilah yang menjadikan Tari Belidak begitu kuat dan berkesan di hati penonton. Makna dari Belidak sendiri tak lepas dari kebiasaan masyarakat Pontianak tempo dulu yang memanfaatkan benda sederhana sebagai simbol perlindungan diri.
“Yang saya survei dulu dari Pontianak Timur ke Barat itu orang-orang dulu memiliki (belidak) yang sering dipakai untuk meronda malam ataupun dipakai sebagai ganjalan pintu maupun pelindung rumah. Karena dulu Pontianak masih hutan, masih banyak kuntilanak jadi itu (belidak) dipakai sebagai penangkal. Di zaman dulu, masyarakat juga percaya belidak bisa menangkal kejahatan dan makhluk halus. Jadi dalam tarinya, kami gambarkan bagaimana seorang penari yang awalnya merasa takut lalu setelah memegang belidak, muncul rasa berani. Itulah makna filosofi yang ingin kami sampaikan,” tambahnya.
Lima penari perempuan menampilkan gerakan cepat, ekspresif, dan penuh tenaga dengan membawa belidak sebagai properti utama. membuat Tari Belidak menjadi tarian yang paling ditunggu dalam setiap pagelaran Bougenville. Tarian ini menjadi simbol keberanian masyarakat Pontianak, sekaligus bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal yang sarat makna.
Walaupun pada awalnya tari belidak ini diangkat dari cerita rakyat yang melegenda di Pontianak tapi dalam konteks yang kekinian, Tari Belidak juga menghadirkan pesan agar masyarakat tidak melupakan akar tradisi yang menjadi bagian dari identitas budaya.
Tak hanya dua tarian tersebut, Sanggar Bougenville telah melahirkan banyak karya sejak berdiri di tahun 1983. Tarian pertama mereka, Tari Sekapur Sirih, tarian klasik yang diciptakan pada tahun 1974, menjadi tari persembahan khas Kalimantan Barat. Hingga kini, tarian itu masih dibawakan sebagai simbol penyambutan dan penghormatan bagi tamu di berbagai acara resmi di Kalimantan Barat.
“Tarian ini sudah jadi identitas budaya Pontianak. Terakhir kami tampil membawakan Tari Sekapur Sirih itu waktu menyambut tamu dari Mahkamah Agung dan Menteri Pertanahan di Bandara Supadio,” ungkap pria berkacamata tersebut.
Tari sekapur sirih sendiri dibawakan oleh Enam penari wanita membawakan persembahan bunga ataupun beras kuning, sementara satu penari membawa payung kebesaran, dan dua orang lainnya membawa penghargaan yang akan diserahkan kepada tamu, tari ini juga menampilkan gerak yang anggun berpadu dengan iringan gendang, rebana, accordion, gong, dan kerincing, menciptakan suasana hangat penyambutan khas Melayu Kalimantan.
Meski sudah berusia puluhan tahun, Tari Sekapur Sirih tetap hidup dan tampil di berbagai kesempatan resmi. Menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, simbol kesopanan, penghormatan, dan keramahtamahan yang melekat dalam budaya Melayu.
Karya-karya Bougenville bukan hanya bertahan, tapi juga berprestasi. Kiprah Sanggar Bougenville tidak hanya di panggung lokal. Beragam karya tari mereka telah meraih prestasi di berbagai kompetisi tingkat provinsi, nasional, internasional, bahkan pernah meraih juara umum dan runner-up di ajang nasional. Sedangkan Tari Belidak sendiri pernah menjadi juara tari Melayu di Malaka.
“Untuk tingkat provinsi, tarian kami sering juara satu, bahkan pernah jadi juara umum. Ada juga yang runner-up di tingkat nasional. Beberapa tarian seperti Serai Serumpun, Tari DBR, dan Tari Tembung juga sudah tampil di ajang nasional,” tutur Yuzq dengan bangga.
Sanggar Bougenville tak hanya dikenal karena karya-karya tari yang bernilai budaya tinggi, tetapi juga karena prestasinya yang gemilang di berbagai ajang seni, baik di dalam maupun luar negeri. Tak berhenti di situ, Bougenville juga pernah menjadi duta budaya Indonesia di kancah internasional. “Kami sudah keliling dunia—Amerika, Spanyol, Tunisia, Belanda, Belgia, Jerman. Itu masa-masa di mana kami mempromosikan Indonesia lewat kebudayaan,” ucapnya.
Perjalanan itu bukan sekadar pertunjukan, tapi bagian dari diplomasi budaya. Bougenville menjadi wajah Indonesia di mata dunia, menunjukkan bahwa kebudayaan adalah kekuatan bangsa yang tak tergantikan.
Salah satu hal yang membuat Bougenville tetap eksis adalah semangat regenerasi yang terus berjalan. Di balik megahnya panggung B-Fest, ada penari-penari muda yang tumbuh bersama nilai budaya. Sanggar ini terus membina penari muda agar mencintai budaya daerahnya sejak dini. Dua di antaranya, Rekalo (14 tahun) dan Raya (13 tahun), telah menjadi bagian dari sanggar sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Kami sudah latihan sejak kelas satu SD, dari tahun 2019. Untuk tari Belidak ini, khusus pagelaran sendiri latihan dimulai sejak bulan Agustus,” cerita mereka sambil tersenyum. Bagi mereka, menari bukanlah hal mudah. “Lumayan susah, apalagi karena speed-nya cepat. Tantangannya itu harus bisa nyamain gerak, power, sama bentuk tubuh,” ujar Rekalo.
Meski sulit karena gerakannya cepat dan membutuhkan kekuatan, kebanggaan terasa saat mereka bisa membawakan tarian yang sudah mendunia. “Rasanya bangga banget dan terharu bisa bawain Tari Belidak. Itu kan tarian legendaris Bougenville, sudah sampai luar negeri,” tambah Rekalo penuh semangat.
Bagi mereka, menari bukan sekadar hobi, tapi cara dan bentuk mencintai kepada budaya sendiri. Setiap latihan menjadi proses pembelajaran tentang disiplin, kerja sama, dan penghargaan terhadap warisan leluhur, sebuah cara menjaga napas tradisi agar tetap hidup di tengah arus zaman.
Empat dekade bukan waktu singkat bagi sebuah sanggar seni. Sanggar Bougenville menapaki perjalanan panjang dari panggung kecil di Pontianak hingga gemerlap festival di luar negeri. Semua itu menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak akan punah jika terus digerakkan. Namun Bougenville juga membuktikan bahwa semangat melestarikan budaya bisa tetap menyala di tengah derasnya pengaruh globalisasi. Semangat melestarikan budaya, seni, dan tradisi dapat bertahan serta tak akan lekang oleh waktu selama masih ada generasi muda yang menari dengan hati.
Malam puncak Bougenville Festival 2025 ditutup dengan sorak panjang penonton yang tak henti-hentinya bertepuk tangan. Bukan hanya karena keindahan tariannya, tetapi juga karena makna yang tersampaikan di dalam setiap gerakannya. Tarian menjadi medium penghubung yang tersimpan dalam pesan budaya antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
“Harapan saya, kebudayaan Indonesia bisa semakin kuat dan diakui dunia. Karena hanya Indonesia yang punya kekayaan budaya sebesar ini, nah disitulah kekuatan Indonesia untuk mengangkat kebudayaan itu menjadi nilai modal bagi Indonesia untuk menuju masa yang cemerlang di depan, Itu yang paling penting, dukung ya!,” tutup sang pimpinan.
Selama irama masih berdenyut dan gerak langkah kaki masih menapak, Sanggar Bougenville akan terus menari, menjaga warisan budaya Kalimantan Barat agar tetap hidup di panggung dunia. (mgg)
Editor : Miftahul Khair