Usianya tak lagi muda, namun tubuhnya masih tampak energik. Sulit menebak jika Safaruddin sudah berusia 57 tahun. Lebih dari setengah abad. Meski demikian, tangannya tetap cekatan, lincah memainkan gunting, memangkas rambut pelanggan yang datang silih berganti di kios miliknya.
RAMSES TOBING, Pontianak
Bang Uddin, begitu pria kelahiran Mei 1968 itu disapa, adalah seorang tukang cukur rambut. Pekerjaan ini telah melekat dalam keluarganya selama tiga generasi. Dan dia generasi ketiga. Ayah dan kakeknya pun menjalani profesi yang sama sebagai pemangkas rambut di kawasan Pasar Tengah, Kota Pontianak.
Kawasan ekonomi tua yang telah menjadi jantung perdagangan kota sejak masa kolonial Belanda. Hanya titik tempatnya saja yang berbeda. Bang Uddin sudah berkali-kali berpindah tempat, mengikuti arus perubahan dan renovasi pasar yang terus berganti rupa.
“Pernah di jalan dekat Toko Buku Menara, pernah juga di Jalan Barito. Semuanya masih di kawasan yang sama,” kata Bang Uddin sambil memangkas rambut pelanggan di kiosnya.
Kios milik Bang Uddin kini berdiri di Jalan Ciujung Selatan, berseberangan dengan Rumah Makan Ombak Sunur. Rumah makan Padang legendaris yang terkenal dengan menu kepala ikan.
Kios pangkas rambut miliknya bukan satu-satunya di sepanjang Jalan Ciujung Selatan. Ada beberapa kios lain dengan usaha serupa. Namun kios Bang Uddin memiliki nama tersendiri: “Potong Rambut Nadia.”
Bangunan kios Bang Uddin berdiri kokoh dengan dindingnya sudah disemen, lantainya berkeramik, namun suasana sederhananya tetap terasa. Bagian dalam kios tertata rapi. Sebuah cermin persegi panjang menempel di dinding, memantulkan bayangan Bang Uddin yang tengah serius mencukur rambut pengunjung. Berbagai perlengkapan kerja tersusun rapi di atas meja kayu panjang. Gunting, pisau cukur, bedak, tisu, hingga botol berisi cairan penyegar kulit kepala.
Kursi kayu yang digunakannya tampak klasik, berlapis kulit sintetis namun tetap kokoh menopang pelanggan. Wajah Bang Uddin terlihat serius namun tenang saat mencukur rambut. Gerakannya presisi, tanda tangan yang telah terlatih puluhan tahun sebagai pemangkas rambut.
“Dari kakek, ayah, lalu ke saya, semua menjadi pemangkas rambut. Cuma anak-anak saya tidak, mereka memilih pekerjaan lain,” ujarnya.
Kios milik Bang Uddin berukuran sekitar 3x3 meter. Ia bekerja dari pagi hingga sore hari. Tak ada suara musik keras, hanya riuh langkah orang yang melintas di depan kios dan sesekali tawa pelanggan yang bercakap ringan.
Sesekali Bang Uddin berbincang dengan pelanggan yang sedang dipangkas rambut. Ia dikenal ramah. Bila bukan dia yang menyapa orang yang lewat, maka masyarakatlah yang menyapa lebih dulu. Sekadar berbagi kabar atau memberi tahu jadwal pertandingan sepak bola malam hari.
Setiap hari kiosnya buka tanpa absen. Kalaupun ada pekerjaan lain, ia tetap memastikan kios beroperasi, meski hanya setengah hari. Sebab selain tukang cukur, Bang Uddin juga dikenal sebagai pemain organ tunggal di berbagai acara. Mungkin dari situlah kelembutan intonasi bicaranya terbentuk. Tenang, berirama, dan bersahabat.
Pelanggan Bang Uddin datang dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat pemerintahan. Satu diantaranya Gubernur Kalimantan Barat, Usman Jafar. Orang penting lainnya, Kapolda Kalbar Zakaria Rapudin.
“Kalau Pak Gubernur mau potong rambut, biasanya saya yang ke rumah beliau,” kenang Bang Uddin.
Kawasan Pasar Tengah bukan sekadar tempat Bang Uddin mencari nafkah. Ia adalah satu dari sekian banyak warga yang menggantungkan penghidupan di kawasan ini. Ada pedagang kelontong, penjual perkakas seperti parang dan arit, pedagang emas, pakaian, hingga warung kopi dan rumah makan sederhana. Kawasan Pasar Tengah, Parit Besar, dan sekitarnya menjadi denyut nadi ekonomi Kota Pontianak hingga kini.(*)
Editor : Hanif