PONTIANAK POST – Ada tiga perahu karet milik RSI Sultan Agung Semarang yang terus bersiaga. Ketiganya digunakan setiap saat ada pasien atau calon pasien yang harus dievakuasi.
RSI Sultan Agung berada di kawasan Jalan Raya Kaligawe, Kecamatan Genuk, di sisi utara Kota Semarang yang hari-hari ini terus dikurung banjir. Mengutip Radar Semarang Grup Jawa Pos, sampai dengan kemarin (26/10), ketinggian air di depan RSI Sultan Agung masih tersisa antara 15 hingga 50 sentimeter.
Bukan hanya RSI Sultan Agung yang terdampak. Kantor Polsek Genuk juga demikian. Akibatnya, para tahanan pun terpaksa dipindahkan ke rumah tahanan di Jalan Dr. Cipto, Semarang.
"Ada 32 tahanan yang harus kami pindah. Di bagian halaman aja sampai 60 sentimeter," kata Kapolsek Genuk Kompol Rismanto kepada Radar Semarang Grup Jawa Pos kemarin (26/10).
Genangan ini tak kunjung surut, kata Rismanto, disebabkan intensitas hujan yang tinggi. "Hari ini (kemarin) sudah ada penurunan debit airnya. Kalau kemarin (Sabtu, 25/10) tinggi, yang paling tinggi itu Kamis (23/10), sampai 80 sentimeter," bebernya.
Meski mengalami penurunan debit air banjir, kondisi arus lalu lintas di Jalur Pantura penghubung Semarang–Surabaya tersebut masih belum dapat dilintasi kendaraan secara maksimal. Sebab, hanya kendaraan besar yang masih aman untuk melintas.
"Kalau kendaraan kecil kami sarankan untuk mencari jalan alternatif. Sebab, rawan mogok," jelasnya.
“Musik” Harapan
Deru mesin pompa masih terdengar dari tepi Kali Sringin kemarin pagi. Suara itu bak musik harapan bagi warga Genuk, Semarang, yang lima hari terakhir berjibaku dengan banjir. Perlahan tapi pasti, genangan yang sempat melumpuhkan aktivitas mulai surut.
Camat Genuk Pranyoto juga terlihat lega kemarin, meski wajahnya masih menyimpan lelah setelah berhari-hari berjaga di lapangan. “Alhamdulillah, hari kelima ini sudah banyak titik yang surut,” ujarnya.
Penanganan banjir di Kecamatan Genuk melibatkan banyak pihak. Fokus utama saat ini, kata Pranyoto, adalah mengoptimalkan 27 pompa yang tersebar di berbagai titik krusial.
Di tengah penanganan teknis, perhatian terhadap warga tetap menjadi prioritas. Pemerintah Kecamatan Genuk mendirikan 17 titik dapur umum yang tersebar di kelurahan-kelurahan terdampak.
“Setiap kelurahan ada minimal satu titik. Trimulyo dan Terboyo Wetan itu dapur umumnya aktif penuh,” katanya.
Logistik Dapur
Dapur-dapur tersebut menyiapkan ratusan nasi bungkus setiap hari. Bahan logistik datang dari Pemerintah Kota Semarang, BPBD, dan berbagai pihak nonpemerintah seperti Baznas, PMI, hingga komunitas serta perusahaan swasta.
Selain dapur umum, posko bencana tingkat kecamatan juga diaktifkan di Kelurahan Bangetayu Kulon. Di sana, petugas bersiaga 24 jam membantu administrasi dan kebutuhan mendesak warga.
Meski banjir mulai surut, Camat Pranyoto tetap mengingatkan warganya untuk tidak lengah. Salah satu penyebab genangan yang sulit surut adalah sampah di saluran air.
Kini, genangan di Genuk perlahan mengering. Warga mulai membersihkan rumah, jalan-jalan kembali terlihat ramai. Namun, deru pompa yang terus bekerja jadi pengingat bahwa perjuangan belum benar-benar selesai. “Kalau hujan lagi, kami siap. Tapi, semoga tidak sampai separah sebelumnya,” kata Pranyoto. (mha/fgr/ttg)
Editor : Hanif