Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Upaya Pelestarian Penyu di Kecamatan Paloh, Sambas: Lepasliarkan 20 Ribu Tukik ke Laut

Arief Nugroho • Rabu, 29 Oktober 2025 | 10:48 WIB
DILEPASKAN: Ribuan tukik (anak penyu) dilepasliarkan di Pantai Tanjung Api, Paloh, Kabupaten Sambas.
DILEPASKAN: Ribuan tukik (anak penyu) dilepasliarkan di Pantai Tanjung Api, Paloh, Kabupaten Sambas.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melestarikan penyu, salah satunya dengan pelepasliaran tukik (anak penyu) ke laut. Upaya inilah yang dilakukan oleh kelompok masyarakat pengawas (pokmaswas) Kambau Borneo, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas.

Arief Nugroho, Pontianak

Pelepasliaran tukik adalah bagian dari upaya pengembalian populasi penyu yang kini kondisinya terancam punah. Sebagai bagian dari upaya penyelamatan telur dari perburuan, maka beberapa sarang telur penyu yang rawan, direlokasi dan ditetaskan di tempat yang lebih aman, dengan metode penetasan semi-alami.

Berdasarkan data pemantauan Pomkaswas Kambau Borneo, musim puncak peneluran penyu tahun 2025 (Juli-September) ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah penyu yang bertelur. 

Setidaknya terdapat 1.157 ekor penyu mendarat di pantai Tanjung Api hingga Tanjung Kemuning (panjang pantai sekitar 4 kilometer), Paloh. Dari total penyu yang mendarat, 670 ekor di antaranya bertelur. 

Pokmaswas Kambau Borneo berkolaborasi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tanjung Api dan Yayasan Sealife Indonesia, menyelenggarakan pelepasan ribuan tukik selama empat minggu berturut-turut di Pantai Tanjung Api.

Ketua Pokmaswas Kambau Borneo, Jefriden, mengatakan kegiatan pelepasan tukik ini mengusung tema, “Bulan Pelepasan Tukik Terbanyak”. Tak tanggung-tanggung, jumlah tukik yang akan dilepaskan sebanyak 20 ribu ekor.

Pria yang akrab disapa Long Ejep ini mengatakan, metode pelepasan bayi kura-kura laut tersebut akan dilakukan secara bertahap selama empat pekan ke depan.

“Duapuluh ribu ekor tukik ini akan dilepaskan secara bertahap selama empat pekan ke depan dengan masing-masing sebanyak lima ribu ekor. Hari ini, alhamdulillah kami bersama SMK Kesehatan, telah melepasliarkan sebanyak lima ribu ekor,” katanya, Minggu (26/10).

Untuk pelepasliaran selanjutnya, direncanakan pada pekan depan, tanggal 2 November 2025, 9 November 2025, dan ditutup pada 15 November 2025. 

“Untuk acara puncak nanti, insyaallah akan kami sertakan juga acara pesta rakyat,” terangnya.

Long Ejep menjelaskan, tukik-tukik yang dilepasliarkan tersebut merupakan hasil penetasan semi alami dari 670 sarang penyu selama bulan Juli hingga September 2025. Tukik tersebut direlokasi dari sarangnya dan dipindahkan ke sarang yang lebih aman dari ancaman perburuan dan predator. 

“Dari 670 sarang, ada 34 ribu butir telur yang direlokasi. Alhamdulillah menetas,” beber Ejep. Tukik-tukik yang telah menetas kemudian ditampung di kolam penampungan sementara, sebelum dilepaskan.

“Sebenarnya bisa saja pelepasan itu kami lakukan dalam satu waktu, tapi kami memilih untuk melakukan secara bertahap, karena menghindari serangan predator laut dan kematian massal,” bebernya.

 

Ubah Konsevasi Menjadi Wisata Edukasi

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tanjung Api, Muarizi, mengatakan kegiatan pelepasan merupakan salah satu bentuk upaya menjaga keberlangsungan hidup satwa di kawasan konservasi yang kini juga berfungsi sebagai destinasi wisata edukatif.

Sejak 2022, kata Muarizi, Pokdarwis Tanjung Api mengambil langkah inovatif dengan mengubah kawasan konservasi penyu menjadi wisata berbasis edukasi. Tujuannya agar masyarakat tak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memahami pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem laut, khususnya penyu.

“Kami sadar tidak bisa bergantung terus pada bantuan. Karena itu, kami ubah kawasan konservasi menjadi tempat edukasi supaya masyarakat bisa terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian,” ungkapnya.

Setiap pengunjung yang datang untuk melihat atau ikut melepas tukik, tidak dikenakan tiket masuk. Sebagai gantinya, mereka dipersilakan memberikan donasi sukarela yang kemudian digunakan untuk biaya operasional, seperti pakan penyu, perawatan fasilitas, dan kebutuhan penjaga pantai.

“Tidak ada retribusi tetapi menggunakan sistem donasi agar tetap sesuai aturan, sekaligus mengedukasi masyarakat bahwa kegiatan sosial seperti ini juga membutuhkan biaya,” tambahnya.

Saat ini, dukungan pemerintah disebut masih sebatas pada urusan administrasi. Bantuan dana untuk konservasi sudah tidak tersedia sejak kewenangan pengelolaan dialihkan ke tingkat provinsi. Untuk menutupi kebutuhan operasional, Pokdarwis Tanjung Api aktif menjalin kerja sama dengan banyak pihak.

“Kadang ada bantuan, kadang tidak. Jadi kami harus terus berinovasi supaya kegiatan konservasi tetap berjalan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keberlanjutan pelestarian penyu tidak hanya bergantung pada kesadaran lingkungan, tetapi juga pada kesejahteraan para pengelolanya.

“Pelestarian bukan hanya soal penyu, tapi juga tentang orang yang menjaga. Kalau mereka lelah dan berhenti, siapa lagi yang akan peduli?” tegasnya.

 

Garda Depan Konservasi

Melihat perjuangan Pokmaswas Kambau Borneo dan Pokdarwis Tanjung Api, Dwi Suprapti dari Yayasan Sealife Indonesia menganggap upaya ini layak diapresiasi. Pasalnya, meski dengan segala keterbatasan, masyarakat pesisir terbukti mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga ekosistem laut Kalimantan Barat dari ancaman kepunahan.

“Meskipun tantangan yang dihadapi tidak mudah dan masih terus perlu dilakukan perbaikan prosedur, namun secara umum lembaga ini perlu diapresiasi karena mampu bertahan dan mengelola konservasi penyu secara mandiri,” ujarnya.

Dwi menambahkan bahwa pelepasan tukik lebih dari 20 ribu ekor ini terbilang rekor yang perlu diakui. Angka ini bahkan melebihi rekor MURI tahun 2022 terkait pelepasan tukik terbanyak yang dilakukan di Bali,  dengan jumlah 15 ribu tukik. Jadi, jumlah ini bukanlah angka yang sedikit melainkan suatu pencapaian besar dari gerakan sosial masyarakat lokal Paloh.

Dwi juga menjelaskan bahwa pelepasan penyu memang sebaiknya menyesuaikan waktu penetasan. Jangan dikumpulkan dan ditahan lebih dari seminggu karena akan menyebabkan cadangan makanan alami (yolk) di tubuh tukik menipis sehingga kematian dapat mengancam kehidupannya saat dilepasliarkan. 

Pola-pola memelihara tukik dalam waktu lama, membesarkannya terlebih dahulu, baru dilepasliarkan adalah pola yang kurang tepat. Untuk itu, Dwi mengapresiasi langkah Pokmaswas Kambau Borneo yang tidak ambisius melepaskan tukik 20 ribu sekaligus, namun tetap disesuaikan dengan waktu penetasannya dan dibagi menjadi delapan periode pelepasan agar peluang hidup tukik lebih tinggi saat dilepaskan.

Langkah ini, menurut Dwi, juga sebagai upaya mencegah serangan predator dan kematian massal akibat pelepasliaran secara massal di satu waktu dan di satu tempat. Jadi, pelepasan tukik yang kebetulan menetas dalam jumlah ribuan ini perlu dibagi dalam beberapa waktu dan menyebar di sepanjang pantai di wilayah tersebut.

Menurutnya, keberhasilan Pokmaswas Kambau Borneo dan Pokdarwis Tanjung Api dalam upaya konservasi penyu di Paloh tentunya tidak terlepas dari dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah desa, kabupaten, hingga pemerintah provinsi maupun dukungan dari berbagai NGO konservasi, akademisi, CSR perusahaan dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya. 

“Kolaborasi ini perlu terus dipelihara demi kelestarian penyu di Paloh dan peningkatan pendapatan masyarakat lokal dari efek domino wisata edukasi yang ramah penyu,” tutupnya. (*)

Editor : Hanif
#paloh #tukik #edukasi wisata #Lepasliarkan #sambas #pokmaswas #Lingkungan #pelestarian penyu