Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Melihat Kemandirian Difabel di Kampung Patra Berdikari: Dari Kandang Ayam ke Ladang Harapan

Ashri Isnaini • Kamis, 30 Oktober 2025 | 10:00 WIB

 

PANEN LELE: Anak-anak difabel yang tergabung dalam Kampung Patra Berdikari sedang memanen lele di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.
PANEN LELE: Anak-anak difabel yang tergabung dalam Kampung Patra Berdikari sedang memanen lele di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

Di tengah hamparan lahan gambut Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, tumbuh sebuah ladang harapan bagi penyandang disabilitas. Di sinilah Kampung Patra Berdikari menjadi ruang baru bagi mereka yang kerap terpinggirkan untuk kembali berdaya, belajar, dan menemukan makna hidup yang produktif.

ASHRI ISNAINI, Kubu Raya

Sekitar dua kilometer dari Kantor Bupati Kubu Raya, terbentang sebuah perkampungan sederhana dengan rumah-rumah penduduk yang jaraknya berjauhan, diselingi hutan kecil. Jalan menuju lokasi masih berupa batu kerikil dan tanah merah, berdebu ketika kering dan becek saat hujan.

Saat Pontianak Post, bertandang kesana, Rabu (29/10), di tengah terik matahari siang, beberapa peserta Program Kampung Patra Berdikari tampak sibuk memanen tomat dan kangkung di lahan pertanian kecil yang dikelilingi pepohonan tinggi. Adapula yang sedang memanen lele. Sementara yang lain sedang memberi makan ayam di sebuah kandang sederhana.

Salah satunya adalah Vipo (22), penyandang disabilitas intelektual yang kini mengurus kandang ayam petelur dengan penuh semangat. “Saya senang belajar ternak ayam. Dulu bantu paman pelihara ayam potong, sekarang ingin punya kandang sendiri,” ujarnya sambil tersenyum bangga.

Sebelum bergabung dalam program, keseharian Vipo diisi dengan membantu membersihkan Sekolah Luar Biasa (SLB) Ibu Bahagia di desanya. Setelah lulus, ia sempat kehilangan arah hingga sang guru mengajaknya bergabung dengan Kampung Patra Berdikari, sebuah program hasil kolaborasi PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Supadio dan Yayasan Arif Masithoh Indonesia yang diluncurkan sejak 2023.

Vipo adalah anak tunggal dari Nurbandiah (56). Sang ibu mengaku bangga melihat anaknya mulai mandiri. “Dulu setelah lulus, dia sering bingung mau ngapain. Sekarang, selain bantu bersih-bersih di SLB, dia juga sudah punya kegiatan yang jelas. Alhamdulillah, kalau dia di kandang atau kebun, semangat sekali,” tutur Nurbandiah.

Meski menyandang tuna grahita, Vipo dikenal sebagai sosok yang aktif dan mudah bergaul di lingkungan sekitar. Ia sering ikut kegiatan gotong royong dan pengajian di kampung. “Kalau orang lihat sepintas, mungkin tidak akan menyangka dia penyandang disabilitas. Dia bisa diajak ngobrol dan tanggap kalau disuruh bantu-bantu,” kata sang ibu.

Pendamping anak difabel di Kampung Patra Berdikari menyebutkan bahwa program ini juga menjadi jembatan bagi alumni SLBN Rasau Jaya dan siswa SLB Ibu Bahagia untuk tetap produktif setelah lulus. “Banyak alumni yang setelah lulus tidak tahu harus berbuat apa, bahkan masih datang ke sekolah. Karena itu, kami kumpulkan mereka agar bisa berkegiatan positif seperti bertani dan beternak,” terang Yulia.

Menurut Yulia, saat ini terdapat 10 alumni SMALB dan enam peserta didik aktif dari SLB Ibu Bahagia yang bergabung dalam program ini. Mereka didampingi delapan guru dari Yayasan Arif Masithoh Indonesia yang menggunakan metode belajar berbasis pengulangan. “Misalnya cara memberi pakan lele atau menanam tomat, harus diulang-ulang sampai benar-benar dipahami,” jelas Yulia.

Kerja keras itu mulai menunjukkan hasil. Beberapa kali panen tomat, kangkung, dan sayuran lain berhasil dilakukan. Bahkan hasil pertanian mereka pernah dipamerkan pada pameran UMKM dalam rangka peringatan HUT Kabupaten Kubu Raya tahun 2024, ketika mereka membuka stand sayur hasil panen sendiri. “Itu kebanggaan besar bagi mereka karena hasil kerja kerasnya diapresiasi masyarakat luas,” kata Yulia.

Namun perjalanan mereka tidak selalu mudah. Qonita mengakui masih ada tantangan, terutama dari kurangnya pemahaman sebagian masyarakat terhadap kemampuan difabel. “Kadang masih ada yang memandang sebelah mata. Tapi kami terus berupaya mengedukasi masyarakat agar bisa menerima dan mendukung mereka,” ujarnya.

Kini, di bawah naungan Kampung Patra Berdikari, Vipo dan rekan-rekannya perlahan menapaki kemandirian yang dulu terasa jauh. Ia berharap bisa terus belajar dan suatu saat memiliki usaha sendiri. “Saya ingin bisa mandiri, punya usaha ayam sendiri, biar bisa bantu ibu,” ucapnya penuh harap.

Community Development Officer Pertamina AFT Supadio, Qonita, mengatakan program ini lahir dari keprihatinan terhadap banyaknya alumni SLB yang belum memiliki kegiatan produktif setelah tamat sekolah. “Banyak di antara mereka masih datang ke sekolah karena belum tahu harus ke mana. Dari situlah ide ini muncul, agar mereka punya tempat untuk belajar sekaligus berkarya,” ujarnya.

Kini, sebanyak 11 anggota kelompok Teman Difabel Patra mengelola pertanian, peternakan ayam dan kambing, serta perikanan lele dengan konsep integrated farming. Mereka tidak hanya diajarkan menanam kangkung, tomat, dan singkong, tetapi juga mengolah hasil panen menjadi produk bernilai jual seperti keripik pisang dan sayuran organik kemasan.

Menurut Qonita, pendampingan dilakukan secara berulang dengan pendekatan khusus, mengingat setiap peserta memiliki kemampuan belajar yang berbeda. “Kami dibantu para guru SLB yang memahami karakter mereka, sehingga pelatihan bisa berjalan efektif,” jelasnya. Program ini juga menjadi wadah bagi alumni SLBN Rasau Jaya dan siswa SLB Ibu Bahagia agar tetap produktif setelah lulus. Sekolah ini letaknya tak jauh dari lahan pertanian Kampung Patra Berdikari.

Pendamping difabel, Yulia, menyebut terdapat 10 alumni SMALB dan enam siswa aktif yang tergabung, didampingi delapan guru dengan metode pelatihan berbasis pengulangan. Hasilnya mulai terlihat. Panen tomat dan kangkung telah beberapa kali dilakukan dan bahkan sempat dipamerkan pada HUT Kabupaten Kubu Raya 2024. “Itu kebanggaan besar bagi mereka karena hasil kerja kerasnya diapresiasi masyarakat,” kata Yulia.

Namun perjalanan mereka tak selalu mulus. Qonita mengakui masih ada pandangan miring dari sebagian masyarakat terhadap kemampuan difabel. “Masih ada yang meremehkan, tapi kami terus berupaya mengedukasi agar masyarakat melihat kemampuan, bukan keterbatasannya,” tegasnya. Dari sisi lingkungan, program ini juga membawa dampak positif. Desa Limbung dipilih karena memiliki lahan gambut luas yang selama ini kurang termanfaatkan.

Menurut Edi Mangun, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Region Kalimantan, pengelolaan lahan dilakukan dengan teknik khusus agar produktif dan ramah lingkungan. “Melalui program ini, lahan yang tadinya tidak tergarap kini menjadi sumber pangan sekaligus sarana pembelajaran bagi para difabel. Mereka belajar mengolah lahan, memelihara hewan, hingga memasarkan produk hasil panen,” jelasnya.

Secara terpisah, Bupati Kubu Raya, Sujiwo, memberikan apresiasi terhadap keberadaan Program Kampung Patra Berdikari di Desa Limbung yang berfokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas. Menurutnya, perhatian terhadap kelompok difabel merupakan bagian dari tanggung jawab negara dalam memastikan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Sujiwo juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah berpartisipasi dalam pemberdayaan difabel, melalui program CSR yang dimiliki. “Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan perhatian dan dukungan bagi kalangan difabel di Kubu Raya. Program seperti ini sangat membantu pemerintah dalam memperluas jangkauan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat,” pungkas Sujiwo. **

Editor : Hanif
#disabilitas #pertanian #Kampung Patra #peternakan #kubu raya #Berdikari #mandiri