Di usia remaja, Adam Zachry Iman Zulkarnain memilih berwirausaha. Seusai sekolah dan latihan futsal, ia merawat ribuan lele hingga larut malam. Tangannya tak lepas dari pakan dan jaring. Semua dilakukan untuk membuktikan bahwa ketahanan pangan biru bisa dimulai dari siapa saja, dan demi membahagiakan ibunda.
CHAIRUNNISYA, Pontianak
Saat ini Adam berusia 18 tahun. Dia duduk di bangku kelas XII di SMAN 11 Pontianak. Selain bersekolah, remaja kelahiran 15 Oktober 2007 ini juga merupakan atlet pelajar futsal andalan Kalbar. Pada akhir Oktober hingga awal November 2025, Adam bersama teman-teman satu timnya mewakili Kalbar dalam ajang kejuaraan futsal tingkat nasional.
Kendati kesibukannya cukup padat, Adam memilih jalan yang tak biasa bagi remaja seusianya. Di saat teman-temannya sibuk dengan gawai atau nongkrong selepas sekolah, Adam justru sibuk menyiapkan pakan untuk ribuan ekor lele. Bahkan, dia menganggap hewan tersebut sebagai ‘anak asuh’.
“Bahkan, aktivitas pagi saya mulai dengan memberi makan lele pada pukul 06.40,” ujar Adam.
Kemudian, Adam berangkat ke sekolah pada pukul 06.50 hingga 15.30. Sepulang sekolah, dia rutin latihan futsal dari pukul 16.00 hingga 18.00. Pada pukul 19.00, Adam mulai mengurus ribuan ‘anak asuhnya.’
Semua itu ia lakukan bukan semata demi uang, tapi demi sosok yang paling ia cintai, sang ibu, Lusi Nuryanti.
“Saya ingin membahagiakan ibu saya, karena ibu adalah sumber kehidupan bagi saya. Beliau bekerja keras dari pagi hingga malam, tapi tidak pernah mengeluh. Saya ingin suatu hari nanti ibu bisa membeli apa pun tanpa harus melihat harga,” tutur putra pertama pasangan Lusi Nuryanti dan Yudi Zulkarnain ini.
Perjalanan Adam dalam dunia budidaya ikan lele di mulai pada 17 Mei 2023. Ketika itu dia menggunakan terpal berukuran 2 meter x 3 meter. Namun, ketika itu usahanya belum berhasil.
“Saya tertarik membudidayakan ikan lele karena sangat menjanjikan. Saya ingin sukses seperti para senior senior peternak lele yang lain,” harap Adam.
Dia pun tak menyerah dan kembali membuat empat kolam lele dengan diameter 3 meter di belakang rumahnya. Dia pun mengisinya dengan jenis lele untuk konsumsi. Dia pun belajar dari pembudidaya senior dan media sosial, terutama berkaitan dengan pakan lele.
“Awalnya saya belajar secara otodidak. Kemudian melihat di internet. Alhamdulillah, saat ada orang yang membimbing saya, yakni Om Rudi,” kata Adam.
Mengurus lele memiliki tantangan tersendiri bagi Adam. Dia pernah menguras kolam hingga pukul 23.00 dikarenakan lelenya terserang penyakit jamur.
“Bisa dibilang aeromonas (Aeromonas hydrophila, merupakan bakteri yang bersifat oportunistis yang dapat menimbulkan penyakit apabila lingkungannya mendukung, red). Jika tidak dikuras, berakibat fatal untuk semua isi kolam,” ungkap Adam.
Selain itu, bagi Adam, tantangan terbesar adalah mental. “Tantangan terbesar justru menjaga mental. Kadang lele sakit, saya sendiri juga capek. Tapi kalau semangat hilang, semuanya bisa berhenti,” ujarnya jujur.
Ketekunan itu berbuah manis. Sekali panen dari empat kolam, Adam berhasil memanen sekitar 270 kilogram lele. Pencapaian yang luar biasa untuk seorang pelajar SMA.
Adam menambahkan budidaya lele bukan sekadar bisnis kecil di halaman rumah. Ia memandangnya sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan yang dimulai dari keluarga.
“Lele itu sumber protein hewani yang murah dan mudah diakses. Kalau semakin banyak orang mau beternak, kita bisa bantu masyarakat sekaligus ekonomi lokal,” ujarnya.
Adam juga berharap ke depannya ia bisa menjadi pengusaha muda sukses yang mampu menularkan ilmunya kepada orang lain. “Budidaya lele membuat saya jadi lebih disiplin dan pantang menyerah,” tuturnya.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan jumlah pembudidaya ikan di Kalimantan Barat pada 2024 mencapai 60 ribu orang yang tersebar di seluruh kabupaten kota. Yakni, Pontianak sebanyak 672 orang, Singkawang 199 orang, Sambas 1.476 orang, Mempawah 594 orang, Sanggau 9.170 orang, Ketapang 1.737 orang, Sintang 11.687 orang, Kapuas Hulu 28.464 orang, Bengkayang 1.672 orang, Landak 981 orang, Sekadau 1.360 orang, dan Melawi 1.988 orang.
Khusus di Kota Pontianak, budidaya ikan mendapat perhatian serius dari pemerintah. Beberapa waktu lalu, Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak, Muchamad Yamin menjelaskan, pihaknya selalu memberikan pendampingan terhadap kelompok tani maupun pembudidaya ikan setiap kali menyerahkan bantuan stimulus.
Di antaranya menyerahkan bantuan berupa ribuan bibit ikan. Pihaknya juga pernah mendistribusikan 16 paket bantuan sarana dan prasarana perikanan budidaya kepada 16 kelompok pembudidaya ikan.
Setiap paket yang diterima oleh kelompok pembudidaya ikan berisikan kolam terpal bulat lengkap dengan diameter 3 meter sebanyak 3 unit, ribuan bibit ikan lele sebanyak 4.500 ekor, pakan ikan lengkap ukuran kecil, sedang, dan besar, obat ikan dan vitamin serta peralatan perikanan termasuk alat pengukur kualitas air dan perlengkapan panen.
“Upaya ini merupakan langkah mendukung program wali kota dan wakil wali Kota yaitu mengendalikan inflasi. Menurut Yamin, ikan lele sendiri bisa menjadi substitusi atau pilihan alternatif masyarakat dalam membeli ikan,” pungkasnya. (*)
Editor : Hanif