Program Makan Bergizi Gratis telah berjalan di Pontianak. Manfaat telah dirasakan oleh para pelajar. Namun di balik program tersebut, ada cerita guru tentang proses program ini sampai ke meja murid dan bersantap bersama.
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program prioritas Presiden Prabowo. Di tahun pertamanya berjalan, terdapat pro dan kontra dalam penerapan program tersebut di lapangan. Tak sedikit yang mengacungkan jempol untuk program ini. Sebagian orang tua juga tak lagi memikirkan bekal anak, karena di sekolah sudah mendapat makan gratis dari pemerintah.
Tetapi temuan di lapangan, program ini tidak serta merta berjalan mulus. Keracunan makanan juga ditemukan di beberapa wilayah Indonesia. Di Kalbar, persisnya di Kabupaten Ketapang sempat kejadian puluhan siswa keracunan MBG. Dugaan, akibat menu daging hiu yang tak biasa dikonsumsi siswa. Ini barus sekelumit.
Di Kota Pontianak, MBG sudah berjalan. Distribusi MBG sudah dilakukan sejak beberapa bulan lalu, dengan fokus di sekolah-sekolah negeri. Banyak keterlibatan dalam proses MBG ini. Salah-satunya, para guru.
,bggbgbBaca Juga: Pemkab Kapuas Hulu Gandeng Investor Bangun 66 Dapur MBG di Wilayah 3T
Riki, salah satu guru di SD bilangan Kecamatan Pontianak Barat, sejak pagi sudah sibuk. Selain mengajar, di tahun ini tugas guru juga mesti menyiapkan MBG buat para murid.
“Tugas kami di MBG ini, membantu mendistribusikan makanan ke siswa, baik itu guru piket, wali kelas, serta guru bidang studi, semuanya membantu untuk mendistribusikan MBG supaya siswa dapat semua,” ujarnya kepada Pontianak Post.
MBG, kata dia, sudah datang ke sekolah pukul 6.30, tetapi pernah juga datang jam 7 pagi. Setelah makanan ini datang, dia beserta guru lainnya menyiapkan untuk mendistribusikan MBG di kelas-kelas. Paling repot palingan ketika mengantarkan MBG ini ke kelas masing-masing. Selebihnya aman. Tepat jam istirahat, anak-anak sudah makan bersama.
Ende, guru lain yang mengajar di SD bilangan Kecamatan Pontianak Utara, mengatakan secara keseluruhan program MBG bisa dilaksanakan dengan baik di sekolahnya. Dia juga mendapatkan pengalaman baru terhadap program ini.
Seperti ketika MBG dibagikan, terkadang ada satu dua anak tak mau makan. Alasannya, karena sudah sarapan di rumah. Di sinilah tugas dan tantangan guru di program ini. “Biasanya saya bujuk. Makan lah nak, sayang kalau tidak dimakan, mubazir. Setelah dibujuk anak-anak mau makan,” ungkapnya.
Untuk jumlah MBG dikondisikan dengan jumlah siswa yang ada di sekolah, kemudian disesuaikan lagi dengan jumlah siswa di kelas. Kalau di kelas ada 30, artinya ada 30 MBG disuplai. Tergantung jumlah siswa, dan pastinya semua anak akan kebagian MBG.
Hal senada dikatakan Nurma, salah satu guru SLB di Kota Pontianak. “Program MBG sejauh ini berjalan dengan baik. Bahkan, anak-anak selalu menunggu program tersebut,” ujarnya.
Bagi guru juga tidak susah untuk beradaptasi dengan program ini. Sebab tugas guru hanya membagikan MBG agar sampai ke meja anak. Terlebih di SLB, anak-anak tidak begitu banyak, jadi hampir dipastikan program MBG di sekolahnya berjalan dengan lancar.(*)
Editor : Hanif