Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berbasis Creating Shared Value PT Pelabuhan Tanjung Priok Nonpetikemas Cabang Pontianak mampu melahirkan beragam inovasi bagi mahasiswa peserta magang. Ide-ide brilian mahasiswa itu, diharap bisa ditindaklanjuti sehingga dalam penerapan di lapangan semakin mampu mempercepat pekerjaan di pelabuhan
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
WAJAH Vina Lutfia, mahasiswa peserta magang program TJSL berbasis Creating Share Value PT Pelabuhan Tanjung Priok PTP Nonpetikemas Cabang Pontianak sumringah. Hari itu, dia berhasil menyelesaikan program magang satu bulan di Pelabuhan Kijing.
Terdapat banyak pengalaman dari program itu. Paling menyenangkan adalah, teman-teman mahasiswa diminta untuk membuat berbagai inovasi dalam upaya mempermudah, mempercepat serta memberi rasa aman dan nyaman dalam bekerja di pelabuhan.
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jurusan Kesehatan Masyarakat itu bersama rekan mampu melahirkan inovasi keamanan dalam bekerja. Fokusnya pada SCAFFolding bertujuan agar pekerja semakin safety dalam bekerja. Mengingat pekerjaan di Pelabuhan memiliki berbagai macam resiko yang bisa terjadi. Oleh sebab itu, kelengkapan safety dalam bekerja menjadi fokus sesuai dengan keilmuannya.
Dikatakan dia, secara keseluruhan program ini mampu menambah pengetahuannya terutama di sektor tata kelola Pelabuhan. Dia bisa melihat bagaimana proses pekerja di Pelabuhan. Kata dia, dari sisi keamanan bekerja, petugas Pelabuhan juga dilengkapi dengan keamanan yang baik. Sehingga dari kelengkapan alat pekerja mampu memperkecil terjadinya kecelakaan saat bekerja.
Dia berharap hasil inovasi keamanan dalam bekerja yang dibuat kelompoknya dapat digunakan PT Pelabuhan Tanjung Priok PTP Nonpetikemas Cabang Pontianak.
“Jika inovasi kami digunakan, pastinya kami bangga. Dan tentunya kami banyak berterima kasih sudah diajak program magang selama satu bulan penuh ini,” ujarnya.
Sebab untuk bisa lolos di program ini, juga melalui proses seleksi ketat. Seperti harus membuat gambaran ide inovasi program yang bersentuhan dengan keilmuannya dan dikaitkan dengan program kerja di pelabuhan.
Direktur Keuangan, SDM dan Manajemen Risiko PTP Nonpetikemas, Bambang Sakti, menjelaskan inovasi ini tidak berhenti di sini. Dua program ditargetkan berjalan di 2025 dan tiga lainnya di 2026.
"Kami bangga bahwa investasi sosial ini membangun relasi, berguna bagi bisnis, sekaligus memberi semangat bagi tenaga kerja harian. Kegiatan TJSL CSV ini juga mengajak kolaborasi masyarakat dan mahasiswa, sehingga dampaknya tidak hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi penguatan SDM dan ekosistem logistik di sekitar Terminal Kijing," ujar Bambang, kemarin.
Lebih dalam, kata dia, program ini membuktikan bahwa pelabuhan bukan hanya pusat logistik, tetapi juga ekosistem pembelajaran.
“Masukan dari mahasiswa dan kampus membuka perspektif baru bagi perusahaan dalam meningkatkan efisiensi, HSSE, dan operational excellence. Selain itu, pelatihan dan sertifikasi Pekerja Harian menjadi langkah strategis untuk menghadirkan tenaga kerja lokal yang terlatih dan berstandar nasional, terutama di bidang curah cair, curah kering, dan general cargo,” tambahnya.
Di tempat sama Manager Kepatuhan Bisnis Pelindo Regional 2, Mustafa, mengapresiasi inisiatif PTP Nonpetikemas dalam menyatukan dunia industri, kampus, dan masyarakat lokal melalui TJSL EduPort dan sertifikasi Pekerja Harian.
Menurutnya, program tersebut menjadi bukti bagaimana Pelindo Group menjalankan perannya dalam membangun SDM unggul di daerah operasi.
Dia juga menyoroti posisi strategis Terminal Kijing sebagai salah satu tulang punggung rantai pasok Indonesia bagian barat, dengan potensi besar sebagai gerbang ekspor produk turunan kelapa sawit mengingat ekosistem industri sawit Kalimantan Barat yang masif.(*)
Editor : Hanif