Penyandang disabilitas menyulap auditorium milik RRI di Jalan Maluku Kecamatan Pontianak Selatan menjadi pusat berkegiatan disabilitas. Di gedung itu, mereka mendapatkan pelatihan skil hingga pemusatan berbagai cabang olahraga.
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
Sudah sebulan ini Auditorium milik RRI berbenah. Beberapa bagian dinding yang sudah lusuh dibersihkan. Di bagian halaman depan, jalannya juga sudah beraspal, berwarna hitam pekat. Di teras depan, yang dulunya menjadi tempat istirahat bagi teman-teman ojek online, kini pintunya selalu terbuka lebar.
Waktu malam, lampunya terang. Berbagai macam kegiatan disabilitas ada di sana. Semua itu dilakukan oleh teman-teman penyandang disabilitas. Gedung itu kini disulap sebagai gedung serba guna buat berbagai kegiatan disabilitas.
Ketua NPCI Kalbar, Mustaat Saman penginisiasinya. Bangunan tua yang lama tak terpakai itu disulapnya menjadi GOR Paralimpik NPCI Kalbar. Di sana, terdapat banyak pusat kegiatan. Mulai dari pelatihan skil disabilitas seperti menjahit, roasting, barista, bengkel motor dan bengkel las.
“Semua pelatihan ada di sini. Target kami tahun ini seribuan disabilitas mendapatkan pelatihan. Namun sepertinya tidak terkejar. Dari data kami, sampai saat ini baru enam ratusan disabilitas mendapatkan pelatihan,” ujarnya kepada Pontianak Post.
Mereka ini merupakan disabilitas mandiri. Artinya, kehidupan mereka tidak bergantung dengan pemberian orang. Semuanya bekerja sesuai dengan bidang-bidangnya.
Selama ini kata dia, penyandang disabilitas di cap sebagai kaum yang mesti dikasihani. Dia justru ingin mengubah stigma itu. Ingin dia, disabilitas ke depan tak lagi dipandang kasihan, karena disabilitas bisa berdikari. Faktanya cukup banyak disabilitas mampu mandiri dengan segala karya dan prestasinya. Disabilitas juga memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap. Seperti gedung ini, alokasi anggarannya berasal dari dana patungan teman-teman disabilitas.
“Makanya kami mau ubah stigma itu,” ujarnya.
Menurut dia, bantuan pemerintah kepada disabilitas seperti pemberian sembako setahun satu hingga dua kali justru melemahkan keberadaan disabilitas. Perlahan bantuan seperti itu mulai berkurang. Ingin dia justru, keterlibatan pemerintah bisa mengkolaborasikan kerjasama dengan disabilitas. Seperti pelatihan skill atau hal-hal lain yang membuat disabilitas bisa berdikari.
Selain banyak kegiatan pelatihan buat disabilitas, gedung ini juga menjadi pusat olahraga disabilitas. Seperti di ruang aula nanti bisa digunakan untuk olahraga tenis meja dan bulutangkis. Sedangkan di bagian belakang, rencana akan dibuat untuk lapangan atletik.
Dari datanya, total penyandang disabilitas se Kalbar di atas 35 ribuan orang. Sedangkan data KPU, terdapat 23 orang disabilitas yang ikut pemilihan umum. Sisanya masih belum terdata.
“Ini menjadi tantangan kami, bagaimana membuat semua disabilitas berdikari ini menjadi upaya kami juga untuk menghilangkan stigma disabilitas harus dikasihani,” tukasnya.(*)
Editor : Hanif