Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dari Program Pertukaran Guru ASEAN-Jepang, Bawa Semangat Disiplin dari Jepang untuk Pendidikan Indonesia

Siti Sulbiyah • Rabu, 10 Desember 2025 | 07:17 WIB
GURU: Guru SMKN 1 Sungai Raya, Rudi Maryati (tiga kanan paling bawah) salah satu peserta Program Pertukaran Guru ASEAN- Jepang
GURU: Guru SMKN 1 Sungai Raya, Rudi Maryati (tiga kanan paling bawah) salah satu peserta Program Pertukaran Guru ASEAN- Jepang

Pengalaman di Tokyo dan Yamagata, Jepang menjadi semangat hangat yang dibawa pulang oleh Rudi Maryati, guru SMK Negeri 1 Sungai Raya, Kubu Raya.

SITI SULBIYAH, Pontianak

Maryati menjadi satu dari 12 pendidik Indonesia yang terpilih mengikuti FY2025 ASEAN–Japan Exchange Program for Secondary Educator, program bergengsi yang dijalankan Japan Foundation bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Program ini bukan sekadar kegiatan pertukaran guru. Ia menjadi ruang perjumpaan lintas budaya, wadah berbagi praktik baik, dan kesempatan memperluas wawasan tentang bagaimana pendidikan karakter dan pembelajaran modern diterapkan di sekolah-sekolah terbaik Jepang.

Rudi Maryati menceritakan pemilihan peserta bukan perjalanan mudah. Dari 57 guru finalis Apresiasi Guru tingkat nasional tiga tahun terakhir, proses seleksi dilakukan berlapis, mulai dari administrasi, substansi, hingga wawancara. Pada akhirnya, hanya 12 guru yang berhak berangkat ke Jepang, termasuk dirinya.

"Seleksi bertahap yang dimulai sejak bulan Juni 2025, dan kegiatan dilaksanakan di Jepang pada November 2025," ungkapnya.

Selama 9–16 November 2025, Rudi menjalani program yang membawa para peserta mengunjungi sekolah dan institusi pendidikan di dua kota di Jepang, yakni Tokyo dan Yamagata. Para peserta diajak berkeliling untuk mengunjungi berbagai institusi pendidikan seperti Yonezawa Kojokan High School, Universitas Yamagata, keduanya berlokasi di prefecture Yamagata sekaligus mempelajari pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology, Art, Mathematic), serta berkunjung ke museum.

Mereka juga berkesempatan mengunjungi destinasi wisata dan budaya seperti susur sungai Mogami, dan  Pertunjukan Kabuki. 

"Selain itu peserta berkeliling Tokyo sambil mengunjungi Haramachi Elementary School serta Kumon Institute of Education," imbuhnya.

Namun, yang paling membekas tak hanya gedung-gedung megah atau fasilitas modern Jepang. Melainkan nilai-nilai sederhana yang diterapkan murid-murid di sana.

"Selama mengikuti studi banding di Jepang, saya mendapatkan banyak wawasan berharga tentang bagaimana budaya sekolah di sana membentuk karakter siswa melalui kemandirian, disiplin, dan tanggung jawab," katanya.

Ia mengatakan, kemandirian itu tampak sejak hari pertama. Anak-anak menata perlengkapan belajar sendiri, mengecek kebersihan kelas, hingga memastikan ruangan siap sebelum pelajaran dimulai. "Semuanya tanpa disuruh,” kata Rudi.

Bahkan hal kecil seperti menata sepatu di rak menjadi pelajaran penting tentang karakter. Tidak ada guru yang mengulang instruksi karena siswa sudah terbiasa mengatur kebutuhannya sendiri.

Ia menilai disiplin siswa Jepang tidak bergantung pada pengawasan ketat, melainkan tumbuh dari kesadaran diri. Orang Jepang dinilainha sangat menghargai waktu, menjaga ketenangan saat belajar, dan mengikuti instruksi dengan penuh perhatian. 

Bagi mereka, kata Rudi, disiplin bukan sekadar aturan, tetapi bentuk penghormatan kepada guru, teman, dan lingkungan sekolah.

Selain itu, tambah dia, warga menjaga kebersihan lingkungan bersama-sama, membuang sampah dengan memilahnya secara benar, serta menunjukkan kepedulian tinggi terhadap ruang publik. Hal ini membuat saya memahami bahwa masyarakat yang tertib terbentuk dari kebiasaan kecil yang dilakukan oleh setiap individu secara konsisten.

"Pengalaman studi banding ini memberikan saya pemahaman mendalam bahwa pendidikan karakter tidak bisa dipisahkan dari budaya dan lingkungan sosial," katanya.

Ia menambahkan, hal yang paling menginspirasi adalah bagaimana siswa Jepang memandang tanggung jawab. Mereka diberi kepercayaan untuk membersihkan kelas, menata ruang makan, hingga merawat fasilitas sekolah. Tidak ada petugas kebersihan khusus, semua dilakukan oleh siswa sebagai bagian dari “gyouji” atau kegiatan harian sekolah. 

"Pengalaman tersebut membuka mata saya bahwa pembentukan karakter bukanlah materi tambahan, tetapi bagian inti dari proses pendidikan. Jepang menunjukkan bahwa kemandirian, disiplin, dan tanggung jawab dapat tumbuh kuat apabila dipercayakan kepada siswa sejak dini dan diterapkan secara konsisten dalam keseharian," ucapnya.

Harapan lainnya adalah terbentuknya jejaring yang tidak berhenti setelah program selesai, tetapi berlanjut menjadi kolaborasi nyata yang saling memperkuat ekosistem pendidikan.

"Semoga ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat ditransfer kepada rekan guru dan siswa di sekolah, sehingga berdampak langsung pada kualitas pembelajaran," pungkasnya. **

Editor : Hanif
#Pertukaran Guru #pengalaman berharga #guru #jepang #sungai raya #SMK Negeri 1