Natal 2025 dirayakan dengan penuh sukacita oleh umat kristiani di Kota Pontianak. Salah satunya tampak di kediaman keluarga besar mantan Bupati Ketapang, Henrikus. Bagi Henrikus momentum Natal dimaknai sebagai penguatan kasih, keharmonisan, dan toleransi dalam keluarga yang majemuk.
IDIL AQSA AKBARY, Pontianak
Pagi itu, Kamis (25/12), suasana di sebuah rumah di Jalan Johar, Kota Pontianak, tampak berbeda. Sejak matahari belum terlalu tinggi, satu per satu anggota keluarga berdatangan. Sapaan hangat, senyum, dan pelukan menjadi pemandangan yang mengawali Hari Raya Natal 2025 di kediaman keluarga besar mantan Bupati Ketapang periode 2010–2015, Henrikus.
Di hari pertama Natal, Henrikus bersama keluarga menggelar open house. Pintu rumah terbuka lebar, seolah menjadi simbol keterbukaan, dan kebersamaan yang selalu dijaga keluarga ini. Di ruang tamu hingga sudut-sudut rumah, pernak-pernik khas Natal tertata rapi. Pohon Natal berdiri anggun dengan hiasan warna-warni, berpadu dengan ornamen, dan lampu yang menambah kehangatan suasana.
Natal tahun ini terasa istimewa. Jika pada tahun-tahun sebelumnya perayaan lebih sering dilaksanakan di Ketapang, kali ini keluarga besar Henrikus memilih Kota Pontianak sebagai tempat berkumpul. Perubahan lokasi tersebut tak mengurangi makna perayaan. Justru, kebersamaan terasa semakin erat ketika kerabat dari berbagai daerah berkumpul di satu rumah.
Suasana rumah pun kian ramai menjelang siang. Keluarga, dan kerabat memenuhi hampir setiap sudut. Hidangan telah tersaji untuk menyambut tamu. Mulai dari nasi lengkap, bakso, sate, aneka kue natal, hingga kopi yang diseduh hangat, menjadi pelengkap perbincangan dan tawa yang mengalir tanpa jarak.
Henrikus merayakan natal bersama sang istri, Riniwaty Henrikus. Riniwaty dikenal pernah menjabat sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Ketapang serta Ketua Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Ketapang periode 2010–2015. Bersama keluarga, keduanya menyambut setiap tamu dengan penuh kehangatan.
Yang menarik, suasana toleransi begitu terasa di tengah perayaan tersebut. Keluarga besar Henrikus berasal dari latar belakang agama yang beragam. Namun perbedaan itu justru memperlihatkan keharmonisan yang kental. Natal menjadi ruang bersama untuk saling menghargai, saling mendoakan, dan menjaga ikatan kekeluargaan. Sebuah gambaran ideal di tengah masyarakat Kalimantan Barat (Kalbar) yang memang majemuk.
Bagi keluarga besar Henrikus, Natal bukan sekadar perayaan tahunan. Lebih dari itu, Natal dimaknai sebagai peringatan kelahiran Yesus Kristus sekaligus momentum refleksi untuk memperkuat ikatan batin, kebersamaan, dan kasih dalam keluarga.
Riniwaty Henrikus mengatakan, Natal selalu menjadi momen istimewa yang dinanti. Setiap tahun, seluruh anggota keluarga berupaya meluangkan waktu untuk berkumpul, baik yang datang dari kampung halaman maupun dari berbagai daerah lainnya.
“Bagi kami, keluarga besar Bapak Henrikus, natal merupakan momen yang sangat istimewa. Setiap tahun kami selalu berusaha berkumpul bersama seluruh anggota keluarga. Kebersamaan ini kami jaga agar tali silaturahmi tetap terjalin dengan baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, perayaan Natal tahun ini juga menjadi pengingat untuk selalu mawas diri, dan meneguhkan keyakinan bahwa keluarga merupakan ikatan batin yang sangat kuat.
“Perayaan Natal ini mengingatkan kami semua bahwa keluarga adalah fondasi utama dalam kehidupan,” katanya.
Riniwaty berharap, suasana kebersamaan, dan kekeluargaan yang terbangun pada natal tahun ini dapat terus terjaga di tahun-tahun mendatang. Menyongsong Natal 2026, ia juga berharap seluruh anggota keluarga senantiasa diberikan kesehatan serta kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.
Di tengah gemerlap hiasan, dan ramainya perbincangan, Natal di Jalan Johar pagi itu menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia menjelma menjadi perjumpaan, penguat ikatan, dan peneguh makna kasih dalam keberagaman.**
Editor : Hanif