Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Cerita Muhammad Gusti Hibatullah jadi Ultra Cyclist Termuda: Sempat Overheat, Demam, hingga Terserempet Motor

Siti Sulbiyah • Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:19 WIB
MUDA : Muhammad Gusti Hibatullah, pesepeda muda yang berhasil menyelesaikan tantangan dalam event Lintas Borneo 2025.
MUDA : Muhammad Gusti Hibatullah, pesepeda muda yang berhasil menyelesaikan tantangan dalam event Lintas Borneo 2025.

Muhammad Gusti Hibatullah menyabet penghargaan bergengsi sebagai pesepeda jarak jauh ultra cyclist termuda di usianya yang ke-15 tahun. Pemuda asal Kota Pontianak ini meraih pencapaian tersebut usai menaklukkan rintangan bersepeda jarak jauh sepanjang 1.500 kilometer di event Lintas Borneo yang diselenggarakan oleh Pontianak Endurance Ridepada 2025.

SITI SULBIYAH, Pontianak

Gusti berhasil menyabet penghargaan tersebut setelah mengalahkan enam peserta lainnya yang berasal dari berbagai daerah, yakni Jakarta, Samarinda, Malaysia, hingga Jerman. Ia menjadi perwakilan satu-satunya dari Kalimantan Barat sekaligus ultra cyclist termuda yang berpartisipasi di ajang itu. 

Ultra-cycling merupakan disiplin bersepeda jarak jauh yang melampaui batas-batas konvensional. Gusti berhasil menaklukan jalanan dengan rute Pontianak, Sanggau, Sekadau, Sintang, Putussibau, Badau, Kuching, Aruk, Sambas, Pemangkat, Singkawang, dan kembali ke Pontianak. Ia menyelesaikan rute tersebut dalam total waktu 152 jam atau setara dengan enam hari delapan jam.

“Aku mengikuti kategori solo, jadi full gowes mandiri sejauh 1.500 km,” kata Gusti.

Lelaki yang kini berusia 16 tahun ini menjelaskan bahwa ultracycling merupakan olahraga bersepeda jarak jauh yang tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan mental. Hal ini karena mereka ditantang untuk mengayuh sepeda selama berhari-hari sambil menghadapi cuaca ekstrem dan juga rasa jenuh yang melanda di perjalanan. 

“Hal terpenting dari event ultra adalah unsupported. Jadi, selama perjalanan dari start hingga finish, tidak boleh ada bantuan dalam bentuk apapun dari orang-orang, termasuk panitia,” katanya. 

Ia menegaskan event ultracycling tidak memperkenankan adanya bantuan dari pihak luar dan memiliki peraturan ketat. Para pesepeda menurutnya dilarang dikawal oleh motor atau mobil, ditemani atau dikunjungi keluarga, atau berinteraksi dengan kenalan selama perjalanan. 

Selain itu, tidak boleh ada bantuan suplai dari luar, bahkan tidak boleh gowes barengan antar peserta. “Setiap peserta minimal berjarak 500 meter dan otomatis didiskualifikasi jika barengan lebih dari 30 menit. Jadi, wajib solo, unsupported,” tuturnya.

Dalam event ini, lanjutnya, setiap peserta diberikan tracker masing-masing oleh pihak panitia. Alat ini berfungsi untuk memantau segala tindak kecurangan yang dapat terjadi selama event berlangsung. Selain itu, panitia bertugas standby di checkpoint dan ada juga yang ikut berada di jalan sebagai fotografer untuk mendokumentasikan para peserta.

Bagi Gusti, tak mudah melalui rintangan dalam event ini. Pertarungan tidak hanya secara fisik, namun juga mental. Ia pun mengaku sempat mengalami overheat dan sakit ketika sampai di Malaysia. Kondisi ini membuatnya hampir menyerah dan ingin segera kembali ke Pontianak.

“Sempat mengalami overheat, demam, dan meriang saat di Malaysia, tepatnya di km 980. Perasaan sudah campur aduk untuk menyerah dan mencari tumpangan untuk kembali ke Pontianak,” katanya.

Namun, tekadnya sudah begitu kuat. Dengan sisa tenaga dan tekad, ia memutuskan untuk lanjut menyelesaikan event bergengsi ini.

Masalah pun tak sampai di situ. Gusti menceritakan bahwa saat memasuki Indonesia, tepatnya di Sambas, ia terkena serempet motor dari belakang dan menyebabkan cedera yang lumayan pada lengan. 

“Dengan rasa kesal dan marah, aku tetap lanjut sampai garis finish dan berhasil mencetak rekor,” jelasnya.

Dengan berbagai tantangan tersebut, ia tetap berusaha keras untuk melanjutkannya hingga akhir. Bahkan, ia berhasil mencetak rekor.

Tahun ini, ada keinginan dirinya memiliki target utama untuk kembali memecahkan rekor di event yang sama, yaitu Lintas Borneo yang akan digelar pada bulan Juli mendatang. Selain itu, dirinya sedang bersiap mengikuti event ultra cycling bertajuk Bentang Jawa di luar Kalbar.

“Event tersebut sama-sama berjarak 1.500 km. Namun, elevasinya lebih tinggi, start dari Banten dan finish di Banyuwangi. Suatu impian bagi aku untuk dapat mengikuti event itu,” ujarnya.(*)

Editor : Hanif
#Lintas Borneo #pontianak #pesepeda #ultra cyclist termuda #ukir rekor