Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menata Hati di Acara Ruwah Sambut Ramadan 2026, Tradisi yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Deny Hamdani • Senin, 16 Februari 2026 | 11:59 WIB
Salah satu rumah warga mengadakan ruwahan menyambut datangnya Ramadan 2026 dengan mengundang para jemaah masjid dan surau serta warga sekitar.
Salah satu rumah warga mengadakan ruwahan menyambut datangnya Ramadan 2026 dengan mengundang para jemaah masjid dan surau serta warga sekitar.

Langit sore di Kampung Arang, Sungai Raya, Kubu Raya, Kalimantan Barat terasa berbeda. Angin berembus pelan seakan membawa kabar bahwa bulan suci segera tiba. Umat Islam bersiap menyambut Ramadan—bulan yang bukan hanya tentang lapar dan dahaga, tetapi juga tentang membersihkan hati, merapikan niat, dan menguatkan ingatan pada mereka yang telah lebih dulu pulang. Di sela-sela kesibukan umat islam, ada satu tradisi lama yang masih setia dirawat sebagian masyarakat yakni ruwahan.

Deny Hamdani, Kubu Raya

Di Pontianak, Kubu Raya, Mempawah, hingga sejumlah daerah lain di Kalbar, ruwahan bukan sekadar seremoni. Ia adalah jembatan antara yang hidup dan yang telah tiada. Sebuah ruang sunyi yang diisi doa-doa lembut, dikirimkan sebagai bakti kepada para leluhur, buyut, kakek, nenek, orang tua, hingga sanak saudara yang telah berpulang.

“Tradisi ini sudah lama dilakukan dan lazim digelar umat Islam,” tutur Ustaz Miftah, salah satu ulama di Kalbar, belum lama ini.

Ruwahan atau di tanah Jawa dikenal sebagai Nyadran adalah pertemuan antara tradisi lokal dan nilai-nilai Islam. Ia tumbuh dari akar budaya yang panjang, lalu menyatu dalam ajaran doa dan sedekah. Biasanya dilaksanakan dua minggu menjelang Ramadan, ketika suasana batin mulai beranjak khusyuk.

Menjelang sore, selepas salat Asar hingga sebelum Magrib, Misraj satu rumah warga akan dipenuhi tamu. Para jemaah masjid, tetangga dekat, kerabat jauh, bahkan anak-anak kecil datang beriringan. Anak-anak berlarian di halaman, menunggu dengan mata berbinar pada hidangan yang tersaji. Orang dewasa duduk bersila, wajah-wajah mereka teduh, suara doa dilantunkan perlahan.

Di ruang tamu dan pelataran rumahnya, ayat-ayat suci dibaca. Tahlil dan doa dipanjatkan, memohonkan ampun atas dosa-dosa para pendahulu. Nama-nama disebut satu per satu, seolah dihadirkan kembali dalam ingatan kolektif keluarga. Ada rasa haru yang menggantung, tetapi juga ketenangan tak terucap.

Makna ruwahan memang tak bisa dilepaskan dari kata “arwah”, yang dalam bahasa Arab berarti roh atau jiwa. Tradisi ini menjadi momen mengingat bahwa kehidupan hanyalah persinggahan. Bahwa sebelum menapaki Ramadan, hati perlu disucikan bukan hanya dari dosa pribadi, tetapi juga dari rasa yang belum sempat dimaafkan.

“Manfaat besarnya adalah saling bermaaf-maafan sebelum menjalankan puasa. Kita saling mendoakan agar diberi kesehatan dan kemudahan dalam beribadah,” ujar Ustaz Miftah.

Selepas doa bersama, biasanya tuan rumah menyuguhkan aneka makanan. Di Jawa, tradisi ini identik dengan selamatan yang menghadirkan ketan, apem, dan kolak. Kue apem yang lembut dan sedikit lengket menjadi simbol eratnya tali silaturahmi. Ketan, dengan teksturnya yang melekat, melambangkan harapan agar hati-hati yang pernah retak kembali menyatu dalam maaf. Semua dibagikan kepada tamu sebagai sedekah ringan di tangan, tetapi sarat makna.

Tak jarang, esok harinya keluarga melanjutkan tradisi dengan nyekar ke pusara orang tua atau leluhur. Di antara nisan-nisan yang sunyi, doa kembali mengalir. Bunga ditaburkan, tanah dirapikan. Ada dialog batin yang tak terdengar, hanya dirasakan. Seakan-akan jarak antara dunia dan akhirat menjadi begitu dekat.

Di Sungai Raya, ruwahan rutin dilakukan masyarakat setahun sekali, menjelang pertengahan datangnya Ramadan atau bulan kedelapan dalam kalender Jawa. Di Kalimantan Barat, tradisi ini mungkin tak selalu sama bentuknya, tetapi ruhnya tetap satu, memohon kekuatan agar mampu melewati Ramadan tanpa tergoda oleh hal-hal yang menjauhkan dari kebaikan.

Ruwahan mengajarkan bahwa menyambut Ramadan bukan hanya tentang membersihkan rumah dan menyiapkan bahan pangan. Ia adalah upaya membersihkan batin, menyapu sisa-sisa kesombongan, dan merajut kembali hubungan yang mungkin sempat renggang.

Ketika malam Ramadan akhirnya tiba dan takbir menggema, mereka yang telah mengikuti ruwahan akan merasa lebih ringan. Ada rasa lega karena telah mengirim doa, telah meminta maaf, telah berbagi rezeki.

"Di situlah ruwahan menemukan maknanya, sebuah persiapan jiwa, agar saat bulan suci datang, hati sudah lebih dulu bersih siap menjemput ampunan dan berharap, kelak, doa-doa yang dipanjatkan itu juga akan sampai kepada kita, ketika giliran nama kita yang disebut dalam ruwahan generasi berikutnya," pungkas Miftah. (*)

Editor : Hanif
#kalbar #sedekah #Silaturahmi Keluarga #Ramadan 2026 #ruwahan #persiapan #tradisi