Menjelang Ramadan 2026, warga Kubu Raya kembali menjalankan tradisi ziarah kubur untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia. Tradisi ini menjadi bagian dari persiapan spiritual masyarakat sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
DENY HAMDANI, Kubu Raya
Langit siang di Kubu Raya tampak teduh. Angin berembus pelan di antara nisan-nisan tua di pemakaman Masjid Radhiyatun Mardiyah, Kampung Arang, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Selasa (17/2). Menjelang Ramadan 2026, warga kembali menjalankan tradisi ziarah kubur seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sejak azan Ashar berkumandang sekitar pukul 15.15 WIB, warga mulai berdatangan ke area pemakaman Muslim tersebut. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang sendiri. Mereka membawa air dan bunga tabur untuk membersihkan makam serta berdoa. Salah seorang peziarah, Amri, warga Kampung Arang, tampak khusyuk di hadapan makam orang tuanya. Ia melantunkan doa dengan suara lirih.
“Dalam kepercayaan kami, doa yang dikirimkan untuk orang yang sudah meninggal Insya Allah sampai. Ini sudah menjadi tradisi umat Islam menjelang Ramadan dan juga menjelang Idulfitri,” ujarnya.
Menurut Amri, ziarah kubur bukan sekadar kegiatan rutin tahunan, tetapi bagian dari persiapan batin menyambut bulan suci. “Kalau tidak ziarah, rasanya ada yang kurang. Seperti ada doa yang belum disampaikan,” katanya.
Tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Ziarah kubur menjelang Ramadan dimaknai sebagai upaya mengingat kematian sekaligus menata hati sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Pengurus Masjid Radhiyatun Mardiyah, Ustaz Pardi, menjelaskan bahwa ziarah kubur sebenarnya tidak terikat waktu tertentu. Kegiatan ini dapat dilakukan kapan saja, baik sebelum, saat, maupun setelah Ramadan.
“Boleh kapan pun. Tapi biasanya orang lebih sering datang menjelang puasa karena ingin mengingat Allah dan mengingat kematian,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa ziarah kubur harus dilakukan dengan adab yang benar. Saat memasuki area makam, peziarah dianjurkan mengucapkan salam kepada ahli kubur serta mendoakan mereka. “Ziarah bukan hanya berjalan di antara makam, tapi menghadirkan hati untuk merenung. Bahwa suatu saat kita juga akan berada di posisi yang sama,” katanya.
Di pemakaman tersebut, para peziarah terlihat membaca doa, melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, serta membersihkan makam keluarga mereka. Aktivitas berlangsung dengan tertib dan khusyuk.
Meski Ramadan belum tiba, suasana penyambutan bulan suci sudah terasa di tengah masyarakat. Tradisi ziarah kubur menjadi bagian dari persiapan spiritual warga Kubu Raya.
“Bagi kami, menyambut Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengingat orang tua dan keluarga yang telah lebih dulu meninggal, serta memperbaiki diri sebelum memasuki bulan suci,” pungkas Pardi. (**)
Editor : Hanif