Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mengenal Tradisi Davulcu di Kalimantan Barat, Pasukan Pembangun Sahur yang Lestari Sejak  Abad ke-10

Hanif PP • Kamis, 19 Februari 2026 | 05:38 WIB

 

HIDUPKAN TRADISI: Anak-anak El-Mesaharaty di Kalimantan Barat menghidupkan kembali tradisi Ramadan dengan perkakas rumah tangga dan doa-doa penuh berkah.
HIDUPKAN TRADISI: Anak-anak El-Mesaharaty di Kalimantan Barat menghidupkan kembali tradisi Ramadan dengan perkakas rumah tangga dan doa-doa penuh berkah.

Di Kalimantan Barat, tradisi membangunkan sahur dengan berkeliling dari rumah ke rumah tetap hidup di tengah kemeriahan Ramadan. Pada Ramadan 1447 Hijriah ini, pasukan pembangun sahur ini kembali menghidupkan semangat warga dengan lantunan ayat-ayat suci Alquran.

DENY HAMDANI, Kubu Raya

Di tengah hiruk-pikuk subuh yang masih pekat, suara merdu sekelompok anak-anak akan kembali memecah kesunyian pagi, Kamis (19/2), di Kampung Arang, Arang Limbung, Sungai Raya, Kubu Raya. Mereka saling bersahutan, diiringi bunyi-bunyian yang berasal dari alat-alat rumah tangga yang dimanfaatkan sebagai perkakas sederhana. Dari mulut mereka, kalimat-kalimat pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW mengalir keluar dengan merdu, diselingi sesekali oleh lafaz "Ayo Sahur" yang dikumandangkan serentak.

Inilah gambaran gerombolan anak-anak yang pada zaman dahulu dikenal sebagai El-Mesaharaty, Davulcu, atau pasukan pembangun sahur dengan lantunan ayat suci Alquran yang kembali hadir di Kampung Arang. Mereka dengan penuh semangat mencari pahala, bertugas membangunkan puluhan hingga ratusan keluarga agar tidak terlambat bersantap sahur.

Meskipun waktu baru menunjukkan pukul 02.45 WIB, sejumlah remaja yang menghabiskan malam di masjid sudah mulai terlihat hilir-mudik, membawa peralatan perkakas rumah tangga. Masing-masing dari mereka berdiri sejajar, membentuk dua baris dengan pakaian sehari-hari seperti sarung, kopiah, celana panjang cingkrak, siap dengan peralatan yang akan mereka gunakan, seperti ember bekas, ember cat, dandang, dan kuali bekas masak.

Setelah semua siap, aksi pun akan dimulai pada pukul 03.00 WIB. Seorang remaja laki-laki, yang lebih tua dan bertubuh agak bongsor, memimpin dengan memberikan arahan. Seperti sebuah pentas drumband, suara perkakas rumah tangga yang dibunyikan secara bersamaan terdengar merdu, diiringi oleh seruan serentak "Ayo Sahur" dan lantunan kalimat puji-pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Mereka bergerak, menyusuri jalan-jalan sepi, gang-gang kecil, dan bahkan bibir jalan besar Adisucipto yang biasanya dipenuhi kendaraan di siang hari. Suara yang dihasilkan oleh perkakas rumah tangga ini memecah kesunyian subuh, membuat beberapa warga keluar rumah untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. Di sepanjang jalan yang mereka lewati, lagu-lagu untuk membangunkan sahur dan selawat terdengar dengan riang.

Warisan Ratusan Tahun

Fathir, salah satu anggota El-Mesaharaty, menjelaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk membangunkan warga agar mereka tidak terburu-buru saat mempersiapkan sahur. "Kami membantu ibu-ibu yang sedang menyiapkan makanan, agar mereka tidak terburu-buru saat waktunya sahur," ujarnya setelah aksi selesai. Fathir juga menambahkan bahwa aksi ini lebih kepada semangat sukarela dari para remaja, yang juga merasa senang bisa membantu sesama. “Kami lakukan ini untuk menjaga tradisi dan membantu sesama, sekaligus mendapatkan pahala,” ungkapnya.

Tradisi El-Mesaharaty atau Davulcu sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, dan meskipun gelar mereka sering terabaikan, mereka memegang peran penting dalam tradisi Ramadan di berbagai negara, termasuk di Indonesia dan Kalimantan Barat. Mereka bukan hanya berfungsi membangunkan orang untuk sahur, tetapi juga menghidupkan semangat ibadah puasa.

Tradisi ini pertama kali muncul di Mesir pada abad ke-10, di mana orang-orang El-Mesaharaty mengenakan pakaian tradisional dan membawa drum kecil untuk membangunkan warga. Di Turki, El-Mesaharaty dikenal dengan nama Davulcu, yang berkeliling kampung sambil memainkan drum besar, sementara di negara-negara seperti Suriah, Lebanon, dan Palestina, anak-anak membawa lentera dan berkeliling dari rumah ke rumah untuk membangunkan sahur.

Meskipun cara pelaksanaannya bervariasi dari satu negara ke negara lainnya, inti dari tradisi ini tetap sama: menghidupkan semangat umat Muslim untuk memulai ibadah puasa dengan sahur. Ustaz Miftah, ulama Kalbar, menjelaskan bahwa El-Mesaharaty telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Ramadan, dihargai sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang membantu umat sadar dari tidur mereka untuk memulai puasa.

“El-Mesaharaty bukan hanya sekadar membangunkan sahur, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga dan mengingatkan kita akan pentingnya kebersamaan dalam beribadah,” ujar Ustaz Miftah. Selain itu, ia juga mempererat hubungan sosial antarwarga, menciptakan kebersamaan, serta membantu menjaga kesehatan tubuh dan mental selama bulan Ramadan.

Menghadapi Tantangan

Meskipun tradisi El-Mesaharaty telah berlangsung selama ratusan tahun, tantangan untuk menjaga keberlanjutannya semakin besar. Namun, dengan semangat yang kuat dari generasi muda dan dukungan dari para pengurus masjid, tradisi ini tetap hidup. Bahkan, teknologi mulai dimanfaatkan untuk melestarikan tradisi ini, seperti dengan adanya aplikasi yang memungkinkan suara-suara seperti El-Mesaharaty terdengar pada waktu-waktu tertentu, membantu mempertahankan tradisi ini di masa depan.

Mahmud, pengurus Masjid Radhiyatum Mardiyah, menyatakan bahwa mereka akan kembali menggerakkan pasukan anak-anak untuk membangunkan sahur pada Ramadan 2026. “Kami sudah menyiapkan pasukan El-Mesaharaty yang terdiri dari anak-anak, untuk menghidupkan kembali tradisi ini,” ungkap Mahmud.

Sahur, sebagai bagian penting dari puasa, diyakini memiliki keberkahan yang sangat besar. “Bersahur itu adalah suatu keberkahan, maka janganlah kamu meninggalkannya, walaupun hanya dengan seteguk air, karena Allah dan malaikat bersalawat atas orang-orang yang makan sahur,” demikian salah satu hadist yang mengingatkan umat untuk tidak meninggalkan waktu sahur.

Di Kampung Arang, tradisi ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat. Tidak hanya anak-anak yang berperan, tetapi orang dewasa pun turut ambil bagian dalam melestarikan tradisi ini. Mereka berjalan di sekitar kampung, menabuh genderang, dan melantunkan ayat-ayat suci untuk membangunkan warga untuk sahur. (**)

Editor : Hanif
#kemeriahan ramadan #kalimantan barat #sahur #tradisi