Qariah sensorik netra asal Kalimantan Barat menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara Terbaik I Tartil pada PTQ RRI ke-55 Tahun 2026, disambut haru keluarga besar LPTQ Kalimantan Barat.
MARSITA RIANDINI, Pontianak
SORE itu, Graha LPTQ Kalimantan Barat terasa berbeda. Udara seakan dipenuhi rasa haru dan kebanggaan. Minggu (1/3/2026) pukul 16.00 WIB, satu sosok datang membawa kabar menggembirakan bagi Kalimantan Barat. Dialah Andi Safira, qariah muda yang baru saja mengharumkan nama daerah dengan meraih Juara Terbaik I cabang Tartil Sensorik Netra Putri pada Pekan Tilawatil Qur’an (PTQ) RRI ke-55 Tahun 2026 di Jakarta.
Langkah Andi Safira memasuki halaman Graha LPTQ disambut senyum, pelukan, dan ucapan syukur. Ia hadir didampingi Kepala LPP RRI Pontianak sekaligus Ketua Korwil IX Kalimantan Barat, Peri Widodo. Sejumlah pengurus LPTQ Kalbar turut menyambut, di antaranya Dahlia, Lukmanul Hakim, Edi Setiawan, Khusnul Fadhil, Salman Busrah, dan Iriansyah.
Bagi LPTQ Kalbar, kepulangan Andi Safira bukan sekadar membawa piala, melainkan membawa harapan dan semangat baru. Prestasi ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk mencapai prestasi tertinggi, bahkan di panggung nasional.
Dalam suasana sederhana namun penuh makna, sambutan demi sambutan disampaikan. Salah satunya oleh Andi Musa yang mewakili jajaran pengurus LPTQ Kalbar. Dengan suara penuh kebanggaan, ia mengapresiasi perjuangan Andi Safira yang telah membawa nama Kalimantan Barat ke tingkat nasional.
“Prestasi ini bukan hanya kebanggaan bagi Andi Safira, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Kalimantan Barat. Semoga capaian ini menjadi motivasi untuk terus berlatih dan meningkatkan kemampuan, terlebih dalam waktu dekat akan digelar MTQ tingkat kabupaten dan kota,” ujarnya.
Menurut Andi Musa, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pembinaan qari dan qariah di Kalimantan Barat telah berjalan ke arah yang benar. Ia berharap Andi Safira dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya penyandang disabilitas, untuk tidak ragu bermimpi dan berjuang di jalur Al-Qur’an.
Sementara itu, Peri Widodo mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian yang diraih Andi Safira. Ia menceritakan bagaimana Andi Safira tampil dengan penuh percaya diri saat final PTQ RRI di Jakarta.
“Saya sangat bersyukur. Beliau tampil tanpa gugup, tenang, dan fokus. Ia mampu bersaing dengan peserta dari Banjarmasin, Bukittinggi, dan daerah lainnya yang juga memiliki kualitas sangat baik,” kata Peri.
Baginya, kemenangan ini bukan datang secara tiba-tiba. Ada proses panjang berupa latihan, pembinaan, serta dukungan dari berbagai pihak, termasuk LPTQ Kalbar yang konsisten mendampingi qari dan qariah agar siap tampil di level nasional.
Peri menegaskan, pembinaan qari dan qariah di Kalimantan Barat harus terus dikembangkan, tidak hanya untuk ajang nasional, tetapi juga internasional. Ia juga menyampaikan bahwa Kementerian Agama Republik Indonesia terus mendukung pelaksanaan PTQ RRI sebagai bagian dari penguatan syiar Al-Qur’an di Indonesia.
Menariknya, cabang Tartil Sensorik Netra merupakan kategori yang tidak banyak diikuti peserta dari seluruh korwil. Selain harus tunanetra, peserta juga wajib mampu membaca Al-Qur’an melalui huruf Braille yang telah disiapkan panitia. Hal ini menjadikan kompetisi di cabang tersebut memiliki tantangan tersendiri.
“Kelebihan Andi Safira adalah kemampuannya membaca huruf Braille dengan sangat piawai. Ditambah lagi dengan ketenangan dan semangatnya saat berada di mimbar tilawah. Itu menjadi nilai tambah yang sangat menentukan hingga ia mampu meraih juara pertama tingkat nasional,” ujar Peri Widodo, yang pernah menjabat Kepala Bidang Pemberitaan RRI Pontianak pada 2018.
Bagi Andi Safira, kemenangan ini bukan sekadar prestasi pribadi. Ia adalah simbol dari ketekunan, kesabaran, dan keyakinan bahwa Al-Qur’an dapat menjadi jalan pengabdian siapa pun, tanpa memandang keterbatasan fisik. Di balik suara lantangnya melantunkan ayat-ayat suci, tersimpan kisah perjuangan yang panjang: latihan berjam-jam, kelelahan, serta doa yang tidak pernah putus.
Prestasi ini sekaligus menjadi cermin bahwa ruang-ruang pembinaan keagamaan semakin inklusif. Qari dan qariah dengan kebutuhan khusus kini mendapatkan tempat yang layak untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Kalimantan Barat pun patut berbangga karena mampu melahirkan qariah yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga kuat secara mental dan spiritual.
Di akhir acara penyambutan, suasana kembali menghangat oleh doa dan harapan. Harapan agar Andi Safira terus melangkah lebih jauh, dan harapan agar semakin banyak generasi muda Kalimantan Barat yang mencintai Al-Qur’an serta berani tampil di panggung nasional. Prestasi Andi Safira menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah batas akhir. Dengan tekad, latihan, dan dukungan pembinaan yang berkelanjutan, siapa pun dapat menembus sekat dan berdiri sejajar di panggung prestasi. (**)
Editor : Miftahul Khair