Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Panen Jagung Perdana di Pontianak Utara, Produksi Jagung Upaya Capai Swasembada Pangan  

Mirza Ahmad Muin • Jumat, 6 Maret 2026 | 12:14 WIB

 

PERDANA: Hasil panen perdana jagung hibrida di kawasan Pontianak Utara.
PERDANA: Hasil panen perdana jagung hibrida di kawasan Pontianak Utara.

Deretan tanaman jagung yang mulai menguning berdiri rapi di lahan seluas setengah hektare di kawasan Pontianak Utara. Di bawah terik matahari, para petani bersama pemerintah kota memetik tongkol jagung yang telah matang.

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

Inilah panen perdana jagung hibrida yang diharapkan menjadi salah satu langkah kecil menuju ketahanan pangan di Kota Pontianak.

Panen tersebut menghasilkan sekitar 1,5 ton jagung dari lahan seluas 0,5 hektare. Jagung yang dipanen merupakan varietas hibrida NK Naga dengan masa tanam sekitar 110 hari.

Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak Irwan Prayitno mengatakan panen perdana ini menjadi bukti bahwa pengembangan jagung di wilayah perkotaan tetap memiliki potensi.

“Alhamdulillah hari ini kita melakukan panen bersama jagung hibrida. Umur tanamnya kurang lebih 110 hari dan hari ini sudah siap dipanen,” ujarnya usai panen jagung di kawasan Rumah Potong Hewan Sapi Kunak, Jalan Kebangkitan Nasional, Pontianak Utara, Kamis (5/3).

Menurut Irwan, hasil produksi dari kelompok tani tersebut telah memiliki pasar yang siap menyerap hasil panen. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan para petani sekaligus mendorong mereka untuk terus mengembangkan komoditas jagung.

Ke depan, pemerintah kota juga berupaya menggandeng Perum Bulog agar dapat menyerap hasil produksi petani. Selain itu, pengembangan jagung juga direncanakan dilakukan di sejumlah lokasi lain, termasuk di kawasan Balai Benih Hortikultura Batu Layang di Jalan Flora.

Irwan mengakui bahwa keterbatasan lahan menjadi tantangan utama dalam pengembangan tanaman pangan di Kota Pontianak. Karena itu, pemerintah mendorong pemanfaatan lahan kosong milik pemerintah maupun lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal.

“Kegiatan ini untuk meningkatkan produksi tanaman pangan secara berkelanjutan. Karena lahan kita terbatas, maka kita dorong pemanfaatan lahan kosong agar bisa dimanfaatkan oleh kelompok tani,” jelasnya.

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Pontianak Yanieta Arbiastutie menilai gerakan panen jagung ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah kota, kelompok tani, penyuluh, serta berbagai pihak yang terlibat dalam sektor pertanian.

“Gerakan panen jagung ini merupakan wujud kolaborasi Pemerintah Kota Pontianak, kelompok tani, dan para penyuluh. Jagung menjadi salah satu komoditas strategis untuk memperkuat ketahanan pangan,” katanya.

Menurut Yanieta, pemanfaatan lahan pekarangan juga dapat menjadi langkah sederhana yang berdampak bagi perekonomian keluarga. Lahan kosong di sekitar rumah, kata dia, bisa diberdayakan untuk menanam berbagai komoditas pangan.

Upaya pengembangan jagung di Pontianak sendiri tidak dilakukan secara tiba-tiba. Kepala Bidang Pertanian DPPP Kota Pontianak Kanti Apriani menjelaskan bahwa program tersebut diawali dengan uji coba pada 2025.

Saat itu, pihaknya melakukan studi banding ke Kabupaten Bengkayang yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil jagung di Kalimantan Barat. Setelah itu dilakukan percobaan penanaman di lahan gambut di Pontianak.

“Kita sudah melakukan uji coba di lahan gambut dan hasilnya memuaskan. Setelah berhasil, baru kita laksanakan penanaman di salah satu kelompok tani di Pontianak Utara,” jelasnya.

Panen perdana kali ini dilakukan di lahan milik Kelompok Tani Hidup Baru. Saat ini terdapat lima kelompok tani di Pontianak Utara yang direncanakan akan mengembangkan komoditas jagung.

Sejak 2025, pemerintah kota menargetkan penanaman jagung seluas dua hektare dan target tersebut telah tercapai. Pada 2026, pengembangan jagung direncanakan kembali ditingkatkan seiring bertambahnya kelompok tani yang terlibat.

Selain jagung, Pontianak juga memiliki komoditas unggulan hortikultura, terutama sayuran daun dengan luas lahan hampir 300 hektare. Produksi sayuran tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga dipasok ke sejumlah daerah di Kalimantan Barat.

Untuk komoditas cabai, pada tahun lalu luas lahan panen mencapai sekitar 10 hektare. Tahun ini pemerintah kota berencana meningkatkan produksi cabai melalui kerja sama dengan Bank Indonesia. Salah satunya dengan menyalurkan bantuan bibit cabai polibag di sejumlah wilayah.

Di tengah berbagai upaya tersebut, para petani menjadi garda terdepan yang merasakan langsung manfaat program ini.

Sukur (40), salah seorang petani jagung, mengaku bersyukur atas bantuan sarana produksi dari pemerintah yang memungkinkan kelompoknya mengelola lahan dengan lebih baik. Jagung yang dipanen kali ini ditanam sejak November 2025.

Menurutnya, lahan di Kota Pontianak masih cukup potensial untuk ditanami jagung dengan hasil yang menjanjikan.

“Dengan adanya bantuan dari pemerintah, kami bisa mengelola lahan dengan lebih baik. Ke depan kami akan terus menanam jagung karena hasilnya cukup menjanjikan,” katanya.(*)

Editor : Hanif
#Pontianak Utara #panen perdana #Kelompok tani #jagung hibrida #kota pontianak #ketahanan pangan