Di tengah gempuran gim digital, anak-anak di Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya, justru memilih mengisi waktu ngabuburit dengan bermain kelereng. Permainan tradisional itu menghadirkan kebersamaan sekaligus menjadi cara sederhana menunggu waktu berbuka puasa.
HARYADI – Kubu Raya
Suara tawa anak-anak pecah di sebuah halaman rumah di Dusun Karya 1, Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (7/3) sore. Di bawah langit yang mulai meredup menjelang magrib, mereka berjongkok melingkari garis lingkaran yang digambar di atas lantai beton. Sesekali terdengar bunyi “tik” saat kelereng saling beradu, disusul sorak riang para pemain yang menunggu giliran menembak.
Suasana seperti ini hampir selalu hadir setiap sore selama Ramadan. Saat sebagian orang mengisi waktu menunggu berbuka dengan menatap layar ponsel, puluhan anak di kampung tersebut justru berkumpul di ruang terbuka. Mereka memilih permainan sederhana yang telah diwariskan dari generasi ke generasi: kelereng.
Di tengah gempuran teknologi dan permainan digital, kelereng masih menjadi primadona bagi anak-anak di Dusun Karya 1. Memanfaatkan waktu setelah salat asar, mereka berkumpul di halaman rumah warga untuk bermain sambil menunggu azan magrib atau ngabuburit.
Di antara mereka terdapat Adit, bocah berusia 10 tahun yang tampak serius membidik kelereng lawan dengan jari telunjuknya. Dengan posisi tubuh sedikit membungkuk dan mata fokus pada target, ia melepaskan tembakan kecil yang membuat kelereng lawan terpental keluar dari lingkaran.
“Kalau hari libur sekolah seperti Sabtu dan Minggu biasanya lebih ramai lagi,” ujar Adit kepada Pontianak Post sambil tersenyum puas melihat tembakannya tepat sasaran.
Bagi Adit dan teman-temannya, bermain kelereng terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan bermain gim di ponsel. Selain mengusir rasa bosan saat menunggu waktu berbuka, permainan ini juga memberi kesempatan untuk berkumpul dan bercanda secara langsung.
Sinar matahari sore yang mulai teduh membuat suasana semakin nyaman. Anak-anak duduk berjongkok di sekitar lingkaran permainan sambil sesekali saling mengejek ringan ketika tembakan meleset. Beberapa anak lain menonton sambil menggenggam kelereng warna-warni yang berkilau terkena cahaya senja.
Meski demikian, tren permainan di lingkungan mereka sebenarnya cukup dinamis. Sebelum kembali ramai bermain kelereng, anak-anak di kawasan tersebut sempat menggandrungi koleksi kartu karakter BoBoiBoy. Namun keseruan permainan tradisional membuat kelereng kembali diminati.
Permainan yang mereka lakukan masih mempertahankan aturan tradisional. Para pemain terlebih dahulu menempatkan sejumlah kelereng di dalam sebuah lingkaran. Setelah itu, seorang pemain menjadi penembak dengan menggunakan kelereng utama atau yang disebut “gacoan”.
Tugasnya adalah membidik kelereng lawan agar keluar dari lingkaran. Jika tembakannya tepat sasaran, kelereng yang terpental keluar menjadi miliknya. Namun jika kelereng gacoan berhenti di dalam lingkaran, pemain dianggap gugur pada putaran tersebut.
Meski tampak sederhana, permainan ini menuntut konsentrasi dan ketepatan. Setiap pemain harus mengukur jarak dan arah tembakan dengan cermat agar tidak merugikan dirinya sendiri.
Audi, teman sebaya Adit yang juga ikut bermain, mengatakan hampir setiap sore anak-anak di lingkungan mereka berkumpul untuk bermain kelereng sambil menunggu waktu berbuka. “Kalau kalah tidak masalah, bisa beli kelereng lagi. Harganya juga murah. Dengan Rp1.000 bisa dapat sekitar 10 butir,” katanya.
Menurut Audi, ada beberapa variasi permainan kelereng yang biasa dimainkan. Yang paling sering digunakan adalah model lingkaran dan model kubah. “Ada juga yang main model lubang, tapi sekarang susah karena harus di tanah. Halaman rumah warga sudah banyak yang dibeton,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan ruang terbuka, anak-anak tetap menemukan cara untuk bermain bersama. Salah satu halaman rumah yang kerap menjadi tempat berkumpul adalah milik Suryati, warga setempat.
Suryati mengaku tidak keberatan jika halaman rumahnya digunakan sebagai tempat bermain anak-anak. Baginya, aktivitas tersebut justru menghadirkan suasana hidup di lingkungan sekitar. “Saya hanya berpesan mereka bermain pada sore hari saja supaya tidak mengganggu waktu istirahat warga,” tuturnya.
Tak lama kemudian, suara ibu-ibu mulai terdengar dari dalam rumah memanggil anak-anak mereka untuk bersiap berbuka. Namun sebelum azan magrib berkumandang, satu putaran permainan harus dituntaskan terlebih dahulu.
Di halaman sederhana itu, kelereng bukan sekadar permainan. Ia menjadi ruang kebersamaan, tempat tawa anak-anak tumbuh tanpa layar gawai. Di tengah derasnya arus permainan digital, tradisi lama itu masih bertahan—menghidupkan sore Ramadan di sebuah sudut kampung di Kuala Dua. (**)
Editor : Hanif