Kematian selalu datang tanpa janji, menjemput siapa saja pada waktunya. Bagi Sani, di balik tanah yang digali, ada pengingat sunyi bahwa hidup hanyalah perjalanan yang sementara.
MARSITA RIANDINI, Pontianak
Sudah lebih dari enam tahun Abdul Sani menjalani kehidupan sebagai penggali kubur. Setiap Ramadan terasa berbeda. Di tengah teriknya musim panas, ia tetap harus menggali liang lahat di bawah sengatan matahari sambil menahan lapar dan dahaga hingga waktu Maghrib tiba.
Kematian, kata Sani, tak pernah mengenal waktu, bahkan di bulan Ramadan. Ia mencatat setidaknya lima orang meninggal dunia pada bulan suci ini. Sebagai penggali kubur, ia harus selalu siap kapan pun dibutuhkan.
“Itulah yang namanya kematian, tidak mengenal waktu. Kapan saja jika maut sudah menjemput. Begitu juga tugas penggali kubur, harus siap kapan dibutuhkan,” ujar penggali kubur di kawasan Pemakaman Masjid Quba, Parit H. Husein II itu.
Banyak hikmah yang ia petik selama menjalani pekerjaan tersebut. Pernah suatu ketika ia menemukan tengkorak atau bagian kaki jenazah saat menggali tanah di samping makam yang masih baru.
Suatu hari, Sani mendapat panggilan untuk menggali kubur. Ia segera bergegas ke pemakaman sambil membawa peralatan. Saat mulai menggali, ia merasa ada yang tidak biasa. Tanah yang baru digali kembali runtuh sehingga tenaganya terkuras. Rasa panik sempat muncul karena khawatir jenazah akan segera tiba sementara kuburan belum siap.
Namun ia berusaha tetap tenang, bersabar, dan memohon pertolongan kepada Allah. “Kalau kita sabar dan tenang, insyaallah Allah mudahkan urusan kita,” katanya.
Di lain waktu, ia justru merasakan kemudahan saat menggali kubur. Pekerjaan selesai lebih cepat, dan suasana pemakaman terasa lebih nyaman dan sejuk. Menurut Sani, setiap jenazah seolah membawa cerita yang berbeda.
“Ada banyak kejadian yang kami sebagai penggali kubur saksikan. Bahkan ada yang tidak bisa kami ceritakan karena itu aib. Tapi semua itu menjadi pelajaran bagi kami,” jelasnya.
Tanah yang runtuh memang menjadi salah satu kendala bagi penggali kubur. Karena itu, koordinasi dengan keluarga jenazah sangat penting. Jika liang kubur digali terlalu lama sebelum jenazah tiba, tanah berpotensi runtuh kembali.
“Makanya kami selalu berkoordinasi dengan pihak keluarga, jam berapa jenazah dimandikan dan kapan akan dimakamkan,” ungkapnya.
Sani menjelaskan, jika jenazah akan dimakamkan setelah salat Zuhur, penggalian biasanya dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB. “Kalau terlalu awal, tanah bisa runtuh kembali,” katanya.
Kondisi menjadi lebih sulit ketika banjir melanda. Tanah menjadi lebih labil dan air sering menggenang di dalam liang kubur sehingga harus ditimba terlebih dahulu. “Kalau banjir juga mudah runtuh, jadi harus menimba air dulu,” paparnya.
Liang kubur biasanya digali dengan kedalaman lebih dari satu meter atau setinggi dada orang dewasa. Sani bersyukur jenis tanah di Pontianak relatif mudah digali sehingga bisa dikerjakan berdua, bahkan seorang diri. “Kalau di Pontianak pernah saya kerjakan sendiri selesai lebih dari dua jam. Kalau berdua sekitar satu jam lebih,” katanya.
Ia membandingkan dengan kondisi tanah di daerah pegunungan yang keras dan berbatu. Untuk menggali kubur di daerah seperti itu dibutuhkan tenaga lebih banyak, bahkan bisa mencapai tujuh hingga delapan orang.
Saat ini, lanjut Sani, lahan pemakaman di Pontianak semakin terbatas. Sementara setiap bulan ada sekitar empat hingga lima orang yang meninggal dunia. “Harus ada lahan pemakaman baru karena yang ada sekarang sudah penuh,” harapnya. (*)
Editor : Hanif