Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Melihat Tradisi Pembuatan Kue Lapis Rumahan di Sambas: Momen Berkumpul di Dapur, Butuh Kesabaran Agar Matang Sempurna

Fahrozi PP • Rabu, 18 Maret 2026 | 09:30 WIB

 

TRADISI: Ilustrasi kue lapis di dapur warga Sambas menjelang Idulfitri. Kue ini wajib ada di setiap rumah demi menghadirkan kehangatan tradisi dan kebersamaan keluarga.
TRADISI: Ilustrasi kue lapis di dapur warga Sambas menjelang Idulfitri. Kue ini wajib ada di setiap rumah demi menghadirkan kehangatan tradisi dan kebersamaan keluarga.

Tradisi sering kali tumbuh dari hal-hal sederhana. Di Sambas, kue lapis buatan rumahan menjadi cara merawat kebersamaan saat lebaran.

FAHROZI, Sambas

Aroma mentega dan gula yang menguar dari dapur-dapur warga mulai terasa lebih pekat menjelang Idulfitri di Kabupaten Sambas. Di atas meja, loyang-loyang tersusun rapi, sementara adonan kue dituangkan perlahan, lapis demi lapis, menunggu matang dengan sabar. Suara tawa keluarga yang berkumpul bercampur dengan denting peralatan dapur, menciptakan suasana yang hangat dan akrab.

Di sudut lain rumah, toples-toples kosong telah disiapkan. Sebentar lagi akan terisi aneka kue basah dan kue kering yang akan menyambut para tamu. Bagi masyarakat Sambas, suguhan di meja bukan sekadar hidangan, melainkan bagian dari tradisi panjang menyambut hari kemenangan dengan penuh rasa hormat dan kebersamaan.

Tradisi membuat kue sendiri menjelang lebaran masih kuat dijaga warga. Kue lapis, khususnya, menjadi sajian utama yang hampir selalu hadir di setiap rumah. Proses pembuatannya yang memerlukan ketelatenan, bahan yang tidak sedikit, serta waktu yang panjang justru menjadi bagian dari nilai yang dijaga.

Seperti yang dilakukan Nani, warga Sambas, yang mulai disibukkan dengan persiapan bahan.

“Sekarang baru menyiapkan bahan seperti tepung, susu, gula pasir, mentega. Untuk telur masih dicari karena harganya masih tinggi,” ujarnya.

Bagi Nani dan keluarganya, membuat kue bukan hanya soal hasil akhir. Momen berkumpul dan bekerja bersama di dapur menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi.

“Kalau buat sendiri, bisa menyesuaikan dengan budget. Kalau ada lebih, bisa buat lebih besar. Kalau terbatas, bisa diperkecil. Tapi yang penting ada rasa puas karena buatan sendiri,” katanya.

Kue lapis juga memiliki peran sosial tersendiri. Saat tamu datang bersilaturahmi, hidangan ini kerap menjadi pembuka percakapan antaribu rumah tangga. Dari rasa, tekstur, hingga cara membuatnya, semua menjadi bahan cerita yang mengalir hangat.

Beragam jenis kue lapis pun dibuat, mulai dari lapis belacan, lapis pulut (ketan), lapis nanas, lapis kacang, hingga lapis susu. Masing-masing memiliki cita rasa dan keunikan tersendiri, namun semuanya dibuat dengan kesabaran yang sama.

Hal serupa juga dilakukan Ika, warga Sambas lainnya. Selain untuk keluarga, ia juga menerima pesanan dalam jumlah terbatas.

“Kalau untuk sendiri pasti buat, tapi kadang terima pesanan dari kawan. Tidak banyak karena prosesnya cukup lama,” ujarnya.

Menurut Ika, proses pembuatan kue lapis tidak bisa terburu-buru. Setiap tahapan, mulai dari mengaduk adonan hingga memanggang, harus dilakukan dengan cermat.

“Pengadukan harus benar-benar rata supaya kue bisa mengembang sempurna,” jelasnya.

Di balik kesibukan dapur warga, ada denyut ekonomi yang ikut bergerak. Pedagang bahan kue seperti tepung, gula, susu, dan telur merasakan peningkatan permintaan. Begitu pula penjual cetakan kue, pewarna makanan, hingga peralatan dapur lainnya.

Tak hanya itu, toko-toko kue kering dan penjual kacang-kacangan serta minuman kaleng juga menjadi tujuan warga untuk melengkapi hidangan lebaran.

Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Sambas, H. Misni Safari, menyebut kue lapis bukan sekadar makanan, tetapi simbol harapan. Lapisan demi lapisan pada kue melambangkan doa akan rezeki yang berlipat ganda serta kehidupan yang lebih baik.

Di Sambas, dari dapur sederhana hingga meja tamu yang tertata rapi, kue lapis menjadi pengikat cerita—tentang keluarga, tradisi, dan hangatnya silaturahmi di hari raya. (**)

Editor : Hanif
#Idulfitri #kebersamaan #warga sambas #kue lapis #keluarga #kue tradisional