Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Menjaga Ramuan, Menopang Kehidupan (Bagian 2 - Selesai): Perempuan di Tengah Kepungan Sawit, Menjaga Rimba Terakhir Sadaniang

Ashri Isnaini • Jumat, 27 Maret 2026 | 09:40 WIB

 

 

DARI HUTAN KE DAPUR: Berbagai bahan alami untuk ramuan patah tulang di Desa Sekabuk yang masih mempertahankan aturan adat. Sebuah bukti bahwa kearifan lokal tetap menjadi jawaban yang terjangkau
DARI HUTAN KE DAPUR: Berbagai bahan alami untuk ramuan patah tulang di Desa Sekabuk yang masih mempertahankan aturan adat. Sebuah bukti bahwa kearifan lokal tetap menjadi jawaban yang terjangkau

Bagi Susana, tradisi bukan sekadar formalitas, melainkan napas kehidupan yang terus tumbuh di sela-sela akar hutan dan pekarangan rumah.

ASHRI ISNAINI, Mempawah

Kabut tipis menggelayut di punggung pegunungan Desa Sekabuk, Kecamatan Sadaniang, saat matahari mulai meninggi. Di balik rimbunnya tajuk pohon yang tersisa, aroma tanah basah dan wangi dedaunan liar menjadi penanda bahwa hutan ini masih menyimpan "apotek raksasa" bagi warga setempat.

Namun, di kejauhan, pemandangan mulai berubah; barisan hijau hutan primer kini bersisian dengan hamparan monokultur kelapa sawit yang merayap perlahan, mengancam keberadaan tanaman obat yang menjadi napas kehidupan masyarakat adat.

Upaya individu seperti yang dilakukan Susana dalam merawat tanaman obat tradisional bukan sekadar hobi, melainkan benteng terakhir pertahanan ekologis. Pemerintah Desa Sekabuk menyadari bahwa pengobatan tradisional adalah identitas sekaligus solusi ekonomi bagi masyarakat yang kian terhimpit krisis lingkungan.

Kepala Desa Sekabuk, Andas Saputra, menegaskan bahwa kepercayaan warga terhadap ramuan alami sudah berurat akar sejak zaman nenek moyang. Khususnya untuk pengobatan patah tulang, ramuan Sekabuk menjadi rujukan utama sebelum masyarakat berpikir untuk pergi ke rumah sakit.

“Ini sudah turun-temurun. Secara ekonomi sangat membantu masyarakat karena lebih terjangkau,” ujar Andas.

Sadar akan ancaman penyusutan hutan akibat ekspansi perkebunan, Pemerintah Desa Sekabuk mengambil langkah tegas. Kawasan pegunungan di desa tersebut dipertahankan sebagai hutan lindung guna menjamin ketersediaan tanaman obat yang kian langka.

Andas menyatakan, penebangan di area pegunungan dibatasi dengan ketat dan tidak ada izin bagi ekspansi sawit di kawasan tersebut. “Di pegunungan itu kami jaga. Tidak ada sawit,” tegasnya. Selain menjaga hutan alami, pemerintah desa juga mendorong warga memanfaatkan lahan pekarangan sebagai kebun cadangan tanaman obat.

 

Perempuan sebagai Tulang Punggung

Garda terdepan dalam gerakan menjaga alam ini justru dihuni oleh kaum perempuan. Di Sekabuk, sekitar 80 persen anggota kelompok tani adalah perempuan. Mereka dinilai memiliki pergerakan yang lebih cepat dan responsif dalam menghadapi perubahan lingkungan.

“Perempuan di sini memang paling cepat bergerak,” tambah Andas.

Peran ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus pengelola lahan menjadikan mereka tulang punggung ketahanan keluarga. Di saat hutan menyusut dan sungai mulai tercemar, para perempuan inilah yang beradaptasi dengan mencari sumber penghasilan tambahan tanpa meninggalkan pengetahuan lokal mereka.

Daya tahan perempuan Sadaniang ini diperkuat oleh temuan riset Feminist Participatory Action Research (FPAR) yang dilakukan pada pertengahan Januari 2026. Riset bertajuk “Advokasi Sepiring Nasi: Membaca Pengetahuan Lokal Perempuan Sadaniang di Tengah Krisis Ekologis dan Isu Ekstraktif” mengungkap bagaimana perempuan berjuang di tengah krisis.

Fasilitator riset dari FAMM Kalimantan Barat, Caroline, menjelaskan bahwa pendekatan FPAR menempatkan perempuan bukan sebagai objek, melainkan subjek utama yang merefleksikan pengalamannya sendiri. “Mereka punya pengetahuan dan kekuatan besar untuk memperjuangkan kelangsungan hidup,” jelasnya.

Senada dengan itu, Ageng dari Gemawan melihat fenomena pergeseran pola konsumsi masyarakat sebagai dampak nyata kerusakan ekologis. Namun, di tengah gempuran tersebut, sosok seperti Susana muncul sebagai penyeimbang—menanam kembali apa yang mulai hilang.

Di tangan mereka, tradisi tidak mati dalam buku, melainkan hidup dalam praktik keseharian yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. (**)

Editor : Hanif
#ekspansi sawit #tanaman obat tradisional #hutan desa #Desa Sekabuk #SADANIANG