Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Tradisi Idulfitri Jadi Media untuk Asah Insting Satwa Rehabilitasi: Ketupat Lebaran Latih Orangutan Kembali ke Alam

Hanif PP • Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:29 WIB

RAIH KETUPAT: Bayi orangutan berusaha meraih ketupat berisi pakan yang digantung di dahan pohon dalam program pengayaan di PPS Long Sam, Berau.
RAIH KETUPAT: Bayi orangutan berusaha meraih ketupat berisi pakan yang digantung di dahan pohon dalam program pengayaan di PPS Long Sam, Berau.

Ketupat identik dengan perayaan Lebaran. Sajian dari anyaman daun kelapa itu tidak hanya hadir di meja makan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai media belajar bagi orangutan di pusat rehabilitasi satwa di Kabupaten Berau.

BAYU ROLLES, Samarinda

Di antara rindangnya pepohonan hutan tropis Berau, anyaman ketupat tampak bergoyang pelan ditiup angin. Bukan untuk disantap manusia, ketupat-ketupat itu justru menjadi “hadiah” yang harus diperjuangkan oleh penghuni kecil yang tengah belajar bertahan hidup.

Satu per satu bayi orangutan memanjat, bergelantungan, bahkan sesekali terjatuh saat mencoba meraih pakan yang digantung. Dari bawah, pemandu mengawasi tanpa banyak campur tangan. Tujuannya untuk membiarkan naluri liar mereka perlahan tumbuh kembali melalui tantangan sederhana yang disusun menyerupai kondisi alam.

Di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, Kampung Merasa, Berau, yang dikelola Conservation Action Network (CAN), ketupat tidak disajikan di atas piring, melainkan digantung di antara tali dan dahan pohon. Ketupat tersebut diperuntukkan bagi empat bayi orangutan dan owa Kalimantan yang sedang menjalani proses rehabilitasi.

Pendiri sekaligus Direktur CAN, Paulinus Kristanto, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari enrichment atau pengayaan lingkungan, yaitu metode untuk merangsang kemampuan fisik dan kognitif satwa primata selama masa rehabilitasi.

"Ketupat jadi metode pengayaan merangsang bayi-bayi orangutan bergerak aktif mencari makanan. Baik untuk memanjat, bergelantungan, hingga mengoordinasikan tangan dan kakinya," ujarnya, Rabu (25/3).

Ia menjelaskan, di alam liar buah-buahan terbaik biasanya berada di pucuk pohon yang tinggi dan tidak mudah dijangkau. Karena itu, melalui metode tersebut, orangutan dilatih untuk memecahkan masalah dan mencari makanan secara mandiri.

Setiap kali berhasil memecahkan tantangan yang ada di sekolah hutan, kata Paulinus, para bayi orangutan tersebut selangkah lebih dekat untuk bisa kembali hidup di alam liar.

"Agar mereka kembali ke fitrah alaminya sebagai penghuni hutan," sebutnya.

Kegiatan serupa juga dilakukan di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) yang dikelola Center for Orangutan Protection (COP). Manager BORA, Widi Nursanti, menjelaskan melalui enrichment yang diberikan, orangutan yang menjalani rehabilitasi menjadi lebih aktif berpikir dan belajar mencari makanan.

"Cara-cara sederhana dengan sedikit kreativitas memperkaya variasi penyajian dan media yang dipakai untuk makanannya, sehingga para orangutan tidak jenuh," katanya.

Ketupat yang ditempatkan di area sekolah hutan tersebut berisi potongan buah-buahan, selai, dan madu. Selain merangsang indra penciuman, metode ini juga melatih kemampuan fisik dan kreativitas orangutan dalam mencari berbagai jenis makanan. (**)

Editor : Hanif
#alam liar #ketupat #berau #lebaran #orangutan #Rehabilitasi