Sebanyak 147 orang dari Desa Padi Jaya, Kubu Padi dan Retok mendapatkan bantuan pemeriksaan mata gratis dari Proyek Senyum Cemerlang (PSC) Leipzig Jerman. Pemeriksaan mata gratis ini, diharap dapat membantu masyarakat dalam upaya menjaga penglihatan yang sehat
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
Kedatangan tim PSC Leipzig Jerman di tiga Desa Padi Jaya, Kubu Padi dan Retok Minggu pagi disambut hangat oleh masyarakat setempat. Tak menunggu waktu lama, tim PSC bersama dokter mata langsung bergegas melakukan pemeriksaan mata gratis.
Berbekal alat pemeriksaan mata lengkap, tim dokter mata pun langsung melakukan pengecekan pasien satu persatu. Mulai dari pemeriksaan ketajaman penglihatan, tekanan bola mata, hingga kesehatan retina.
“Dari hasil pemeriksaan mata oleh dokter, kebanyakan mengalami gangguan baca dekat. Agar mereka lebih nyaman memandang, kami juga berikan bantuan kacamata gratis,” ujar Esie Hanstein, pendiri Proyek Senyum Cemerlang (PSC) Leipzig, Jerman.
Kata dia, dari 147 orang masyarakat yang diperiksa matanya, sebagian kecil mengalami gangguan penglihatan lebih berat. Itu disebabkan karena katarak, glaukoma dan saraf mata.
Pasien termuda berumur 19 tahun (sudah sejak 3 tahun) tidak bisa melihat dengan jelas sehingga dari hasil pemeriksaan matanya akan dirujuk untuk pemeriksaan lebih intensif terhadap kedua mata remaja muda ini. Sedangkan pasien tertua berumur hampir 79 tahun. Kebutaan tiba-tiba juga menjadi atensi besar dokter mata.
Sebelum dia datang ke Pontianak, terlebih dulu dia meminta dokter mata untuk membantu pasien-pasien kurang mampu ini. Di tindakan pertamanya, mereka berombongan menempuh perjalanan jauh untuk sampai ke Pontianak bersama-sama untuk diperiksa matanya secara gratis.
Dari hasil pemeriksaan mata di Pontianak inilah, menjadi rujukan untuk PSC melakukan tindakan lebih lanjut buat jemput bola dalam pemeriksaan mata ini.
“Kami pun datang ke tiga desa ini, dengan fokus lokasi pemeriksaan di desa Padi Jaya, tempat ibu Alang, agar pemeriksaan lebih intensif. Mereka datang bergiliran, sesuai dengan desa asal dan jam pemeriksaan mata,” katanya.
Menurut Esie dengan jemput bola, sasaran bisa tertuju langsung kepada para pasien yang membutuhkan. Ketika selesai pemeriksaan mata, masyarakat merasa senang. Sebab belum pernah ada dokter mata spesialis masuk ke desa dan melakukan pemeriksaan mata secara gratis.
Sebelum pemeriksaan mata gratis di sana, sebetulnya di September tahun lalu dia pernah datang ke desa ini membawa 10 orang mahasiswanya untuk melakukan ekskursi SDGs. Dalam pertemuan dan pembicaraan itu, diceritakanlah tentang kesehatan mata.
Banyak warga di tiga desa ini yang mempunyai masalah gangguan penglihatan dan bahkan beberapa orang mengalami kebutaan langsung, termasuk salah satu warga terpaksa kornea matanya diangkat di RS Kuching.
“Dari kepedulian inilah, saya selaku pendiri dan staf ahli PSC (Proyek Senyum Cemerlang) berjanji untuk membantu warga dengan mendatangkan dokter spesialis mata terkemuka Kalimantan Barat, Wirawan Adikusuma. Kemarin bisa kami realisasikan,” ujarnya.
Dalam melakukan pemeriksaannya, penting bagi masyarakat mempunyai kartu kesehatan BPJS untuk para calon pasien mata, agar mereka tidak harus mengeluarkan atau menanggung biaya yang cukup mahal untuk pengoperasian mata katarak, glukoma dan saraf mata.
Pendiri PSC, Esie Hanstein juga menambahkan, bahwa pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan mata sejak dini sebagai bentuk kepedulian kita terhadap kesehatan diri sendiri.(*)
Editor : Hanif