Suasana khidmat di ruang pertemuan KBIHU Muhammadiyah Kalbar, Minggu (5/4). Ratusan calon jemaah haji berkumpul, membawa harapan dan doa untuk perjalanan suci yang dinantikan. Sekda Kalbar, Harisson memberikan pembekalan yang akan mengubah cara pandang mereka terhadap ibadah haji tahun 2026.
IDIL AQSA AKBARY, Pontianak
TAHUN ini, langit Makkah bukan sekadar saksi bisu tawaf dan sai. Ia juga menjadi saksi bisu transformasi digital yang masif dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Harisson, dengan nada serius namun penuh optimisme, menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan yang harus dihadapi oleh setiap jemaah.
"Fokus utama tahun ini adalah digitalisasi layanan. Mulai dari sistem visa elektronik yang mempermudah proses administrasi jemaah," ujarnya, membuka tabir baru penyelenggaraan haji modern.
Jejak digital ini akan terekam kuat, mulai dari proses pendaftaran hingga kepulangan. Bayangkan, sebuah klik di ponsel pintar kini dapat mengurus dokumen penting yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari.
Transformasi ini, menurut Harisson, didorong oleh kebijakan baru Pemerintah Arab Saudi dan Kementerian Agama (Kemenag) RI yang menginginkan layanan haji yang lebih modern, terintegrasi, dan tentu saja, transparan.
Kecemasan tentang mobilitas di Tanah Suci pun perlahan sirna. Harisson memaparkan bahwa manajemen transportasi jemaah akan dikelola secara cerdas melalui sistem yang terintegrasi.
"Manajemen transportasi akan lebih tertata, sehingga pergerakan jemaah bisa lebih terkontrol dan nyaman," jelasnya.
Tak ada lagi kekhawatiran tersesat atau kesulitan mendapatkan kendaraan; semua akan termonitor dengan akurat.
Kesehatan, yang selalu menjadi perhatian utama, kini mendapatkan 'penjagaan' digital yang lebih ketat. Harisson menekankan peningkatan layanan medis dan pemeriksaan kesehatan yang lebih presisi untuk menjamin keamanan dan kenyamanan jemaah selama beribadah.
Data kesehatan jemaah akan terintegrasi, memudahkan tim medis memberikan pertolongan yang cepat dan tepat jika dibutuhkan.
Di tengah gegap gempita teknologi ini, Harisson tidak lupa menyelipkan pesan kemanusiaan. Ia mengimbau seluruh calon jemaah haji, khususnya asal Kalbar, untuk beradaptasi dengan hati yang tulus.
"Mari kita sambut kebijakan ini dengan kesiapan dan kesabaran," ajaknya. Teknologi hanyalah alat; kekhusyukan dan kesabaran tetap menjadi inti dari ibadah suci ini.
Pemprov Kalbar, lanjut Harisson, berkomitmen penuh untuk mendampingi jemaah di setiap langkah digital ini. Koordinasi dengan KBIHU Muhammadiyah dan pihak terkait terus diperkuat untuk memastikan jemaah Kalbar memperoleh pembinaan dan pelayanan yang optimal.
"Pemprov Kalbar siap mendukung koordinasi agar jemaah kita mendapatkan pelayanan terbaik," tutupnya, memberikan rasa tenang bagi ratusan pasang mata yang menatapnya penuh harap.
Digitalisasi haji mungkin tampak asing bagi sebagian jemaah. Namun, di balik kerumitan kode dan aplikasi, terdapat kemudahan yang dirancang untuk memuliakan tamu-tamu Allah.
Tahun 2026 akan menjadi tonggak sejarah, di mana jemaah Kalbar mengklik langit, menggenggam teknologi, dan meraih haji mabrur dengan cara yang lebih modern dan tertata.(*)
Editor : Hanif