Suasana aula Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mulia Dharma, Selasa pagi, (7/4) tampak lebih semarak dari biasanya ketika para penghuni, pengurus, dan tamu undangan berkumpul dalam satu ruang penuh keakraban.
Ashri Isnaini, Sungai Raya
HARI itu, panti yang terletak di Jalan Adi Sucipto Km 12,6, Sungai Raya, Kecamatan Sungai Raya, merayakan dua momentum sekaligus: halal bihalal pasca-Idulfitri dan ulang tahun ke-49 sejak berdiri pada 1 April 1977. Di tengah keterbatasan, suasana hangat justru terasa semakin kuat.
Di sudut aula, Taufik, 75 tahun, duduk bersama rekan-rekannya. Dia mengaku telah cukup lama tinggal di panti tersebut. Baginya, momen seperti ini menjadi penyegar di tengah rutinitas harian yang cenderung tenang.
“Senang kalau ada kegiatan seperti ini. Suasananya jadi ramai, jadi lebih hidup. Kami juga bisa berkumpul, bercanda, rasanya seperti keluarga,” ujar Taufik, matanya berbinar.
Hal serupa disampaikan Suriati, 67 tahun. Dia menyebut hari-hari di panti sebenarnya telah terisi dengan berbagai kegiatan rutin, mulai dari senam, ibadah bersama, hingga aktivitas sosial lainnya. Namun, acara besar seperti halal bihalal memberi nuansa berbeda.
“Kalau hari biasa ada kegiatan, tapi tidak semeriah ini. Apalagi ada tamu dari luar, jadi tambah ramai dan menyenangkan,” katanya. Suriati pun berharap kegiatan serupa dapat lebih sering digelar agar para penghuni memiliki hiburan yang lebih beragam.
Bagi para penghuni, acara ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi ruang perjumpaan, tempat kenangan dan harapan saling bertaut, sekaligus pengingat bahwa mereka tidak sendiri.
Kepala UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mulia Dharma, Agus Susanti, mengatakan kegiatan halal bihalal memang rutin dilaksanakan setiap tahun, meski pelaksanaannya kerap bergantung pada dukungan donatur.
“Alhamdulillah tahun ini bisa terlaksana dengan baik berkat bantuan para donatur. Dana yang terkumpul sebelumnya kami manfaatkan untuk kegiatan halal bihalal sekaligus peringatan ulang tahun panti,” ujarnya.
Agus menjelaskan, peringatan tahun ini terasa istimewa karena bertepatan dengan usia panti yang hampir setengah abad. Sejak berdiri pada 1977, panti tersebut telah mengalami berbagai perubahan, termasuk pengelolaan yang kini berada di bawah pemerintah provinsi sejak 28 Desember 2017.
Meski demikian, Agus tak menampik bahwa tantangan masih ada, terutama terkait keterbatasan fasilitas. Saat ini, panti memiliki 12 wisma dengan kapasitas ideal 80 orang, sementara jumlah penghuni mencapai 83 orang.
“Kami memang masih terbatas. Harapannya ke depan ada penambahan fasilitas, seperti wisma baru, sehingga kapasitas bisa ditingkatkan menjadi sekitar 100 orang,” katanya.
Penambahan dua wisma baru, lanjut Agus, menjadi langkah awal untuk menjawab kebutuhan tersebut. Namun, ia menegaskan peningkatan kapasitas harus sejalan dengan dukungan anggaran dan perhatian pemerintah.
Di tengah berbagai keterbatasan itu, suasana halal bihalal siang itu tetap berlangsung hangat. Tawa para lansia sesekali pecah, menyusul obrolan ringan yang mengalir tanpa sekat. Beberapa tamu tampak menggenggam tangan penghuni panti, berbincang akrab, seolah telah lama saling mengenal.
Di tempat ini, usia senja tak selalu identik dengan kesunyian. Justru dalam kebersamaan sederhana, para penghuni menemukan kembali makna keluarga—meski tanpa ikatan darah.
“Pada usia ke-49, Panti Mulia Dharma tentunya akan terus berupaya meningkatkan kaulitas pelayanan dan tidak sekadar menjadi tempat tinggal, layanan perawatan, tetapi juga ruang bagi para lansia untuk tetap merasa didengar, diperhatikan, dihargai dan ditemani,” pungkas Agus. (*)
Editor : Hanif