Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dari Wartawan ke Bos Teknologi Global: Ardarini Tembus Batas, Bawa Perusahaan Go Internasional

Hanif • Selasa, 21 April 2026 | 06:31 WIB
Ardarini  (ISTIMEWA)
Ardarini (ISTIMEWA)

PONTIANAK POST - Dari ruang redaksi ke kursi Presiden Direktur, Ardarini menembus dominasi laki-laki di industri teknologi dengan strategi dan konsistensi. Di tangannya, perusahaan melesat hingga ekspansi global, sekaligus membuka jalan bagi perempuan di sektor digital.

Di tengah dominasi laki-laki dalam industri teknologi, nama Ardarini hadir sebagai anomali yang sulit diabaikan. Dari ruang redaksi hingga menduduki kursi puncak sebagai Presiden Direktur PT Pelita Teknologi Global Tbk, langkahnya menembus batas yang kerap dianggap tak kasatmata bagi perempuan.

Jejaknya tidak dimulai dari laboratorium atau ruang server. Ardarini justru ditempa di dunia jurnalistik. Sebagai wartawan, ia terbiasa mengurai fakta, membaca situasi, sekaligus membangun jejaring. Dari sana, cara berpikirnya terbentuk: kritis, terstruktur, dan terbuka pada perubahan. Ketertarikan pada teknologi pun tumbuh, bukan sekadar tren, tetapi sebagai alat untuk menyelesaikan persoalan nyata.

“Teknologi memiliki peran strategis,” ujarnya. Keyakinan itu yang mendorongnya melangkah lebih jauh, meninggalkan zona nyaman, dan masuk ke industri yang belum banyak dihuni perempuan.

Langkahnya terukur. Dari posisi teknis, ia menapaki jenjang manajerial, hingga dipercaya memegang kendali strategis perusahaan. Konsistensi belajar, keberanian mengambil peluang, serta kemampuan membangun jejaring menjadi fondasi yang ia pegang. Di tangannya, perusahaan tidak hanya bergerak di sektor teknologi informasi (TI), tetapi juga merambah smart card hingga akal imitasi (AI).

Titik balik datang saat dia dipercaya memimpin proyek strategis. Bukan sekadar penugasan, proyek itu menjadi ruang pembuktian. Di sana, kapasitas kepemimpinannya diuji dan diakui. Sejak itu, arah perusahaan mulai dibentuk lebih agresif, termasuk membawa bisnis melangkah ke pasar internasional.

Ekspansi global bukan perkara sederhana. Ardarini menekankan bahwa kualitas teknologi saja tidak cukup. “Produk harus relevan dengan kebutuhan pasar, sementara kredibilitas dibangun secara konsisten, sebab kepercayaan global lahir dari proses panjang, bukan hasil instan,” paparnya.

Sebagai perempuan, tantangan datang dari persepsi. Dunia teknologi masih sering dipandang sebagai “wilayah laki-laki”. Dalam banyak situasi, perempuan dituntut bekerja lebih keras untuk membuktikan kapasitasnya. Namun bagi Ardarini, tekanan itu justru menjadi bahan bakar. ”Saya memilih menjawab keraguan dengan kinerja yang terukur,” imbuhnya.

Momentum Hari Kartini memberi makna tersendiri. Bagi Ardarini, semangat emansipasi tidak berhenti pada simbol, tetapi harus menjelma dalam peran nyata. Perempuan, menurutnya, memiliki kapasitas yang sama untuk menjadi pemimpin dan penggerak, termasuk di sektor teknologi yang dinamis.

Ia melihat peluang Indonesia di panggung global terbuka lebar. Dengan jumlah talenta digital yang besar dan karakter adaptif, Indonesia bukan hanya pasar, tetapi juga sumber inovasi. ”Infrastruktur yang belum merata, kesenjangan pendidikan, hingga minimnya investasi riset menjadi tantangan,” ujarnya.

Di dalam perusahaan, Ardarini membangun budaya kolaboratif. Baginya, teknologi bukan sekadar sistem atau kode, melainkan manusia di baliknya. Komunikasi terbuka, ruang berkembang, dan keselarasan visi menjadi kunci.

“Jangan ragu masuk ke dunia teknologi. Kesempatan terbuka luas bagi siapa saja yang mau belajar dan beradaptasi,” pesannya bagi perempuan muda. (bry/dio)

Editor : Hanif
#ekspansi global #presiden direktur #teknologi #industri #dominasi