Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kisah Nathan, Penggagas Gerakan Peduli Initiative: Fokus Membantu Pekerja Migran Indonesia di Singapura

Hanif • Selasa, 28 April 2026 | 13:42 WIB
Tim dan relawan Peduli Initiative berfoto bersama para PMI di Singapura saat kegiatan dalam rangka HUT-RI tahun lalu. (Dokumentasi Nathan Alexandro Tjhe)
Tim dan relawan Peduli Initiative berfoto bersama para PMI di Singapura saat kegiatan dalam rangka HUT-RI tahun lalu. (Dokumentasi Nathan Alexandro Tjhe)

Setiap akhir pekan, Nathan Alexandro Tjhe melihat ratusan Pekerja Migran Indonesia (PMI) berkumpul di ruang-ruang publik. Mereka bercengkerama sesama teman senasib, menikmati satu-satunya hari libur setelah enam hari bekerja di rumah majikan. Bagi banyak orang, itu mungkin pemandangan biasa. Namun, bagi remaja 17 tahun asal Pontianak ini, pemandangan itu justru memunculkan panggilan hati.

SITI SULBIYAH, Pontianak

Nathan saat ini menempuh pendidikan di ACS (International) Singapore. Ia pindah ke Negeri Singa pada 2022 setelah sebelumnya tumbuh dan bersekolah di Pontianak hingga SMP kelas 2. Perpindahan itu menjadi awal perjalanan baru yang tak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga membuka matanya terhadap realitas para pekerja migran Indonesia di luar negeri.

Nathan mengatakan sebagian besar penghasilan mereka dikirim pulang ke Indonesia untuk keluarga, sehingga kebutuhan pribadi sering kali dikesampingkan. “Mereka kerja enam hari dalam seminggu. Hari Minggu biasanya baru bisa keluar. Tapi banyak yang tidak punya cukup dana untuk sekadar membeli makanan ringan, kebutuhan pribadi, atau menikmati waktu libur dengan nyaman,” katanya.

Ia juga melihat minimnya ruang bagi para PMI untuk saling terhubung dalam skala besar. Mereka berkumpul di sudut-sudut kota, berdesakan di area publik yang terbatas. Dari situlah ide itu lahir.

Pada awal 2025, Nathan menggagas Peduli Initiative, sebuah gerakan sosial berbasis pelajar yang berfokus membantu PMI di Singapura. Langkah pertama, ia membuat akun Instagram dan situs web untuk memperkenalkan gerakan tersebut, menggalang dukungan, serta menjangkau relawan.

Selanjutnya, Nathan menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura. Ia meminta masukan mengenai kebutuhan paling mendesak para PMI dan bentuk bantuan yang tepat sasaran.

Dari diskusi itu lahirlah ide untuk mengumpulkan donasi berupa barang bekas layak pakai yang kemudian dijual kembali. Hasil penjualan, ditambah dukungan sponsor perusahaan melalui dana CSR, digunakan untuk membeli paket bantuan berisi kebutuhan pribadi. Isi paket itu sederhana seperti makanan ringan, tolak angin, pasta gigi, sikat gigi, sabun, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Salah satu kegiatan utama Peduli Initiative berlangsung pada 24 Agustus 2025, bertepatan dengan suasana peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Nathan dan timnya mengundang sekitar 100 PMI ke Stadion Nasional Singapura. Mereka tak sekadar menerima bantuan, tetapi juga diajak mengikuti kegiatan kebersamaan, lokakarya seni, dan kerajinan tangan.

Gerakan itu kemudian berkembang melampaui target awal. Jika semula fokus pada PMI di Singapura, kini Peduli Initiative juga bergerak di Indonesia. Nathan dan tim membuka cabang kegiatan di Pontianak dan Kubu Raya, Kalimantan Barat. Mereka menyalurkan donasi ke panti asuhan dan panti jompo. Mereka juga turut menggalang bantuan untuk korban banjir di Sumatera.

Kerja nyata Nathan dan tim mendapat apresiasi internasional. Peduli Initiative menerima hibah sebesar US$2.500 atau sekitar Rp43 juta dari International Baccalaureate Global Youth Action Fund. Program ini memilih 110 proyek yang dipimpin anak muda dari lebih 1.100 pendaftar di lebih dari 40 negara. Peduli Initiative menjadi salah satu penerima dari Singapura, sekaligus yang pertama dalam sejarah ACS (International) meraih hibah tersebut.

Nathan menyebut hibah itu sangat penting karena ia kini berada di kelas 3 SMA dan akan segera lulus.

“Saya ingin Peduli Initiative tidak berhenti bersama saya. Hibah ini akan membantu junior-junior saya melanjutkan gerakan ini ke generasi berikutnya,” ujarnya.

Menariknya, Peduli Initiative tidak hanya beranggotakan pelajar Indonesia. Tim inti yang terdiri dari empat siswa didukung relawan dari berbagai negara seperti Singapura, Hong Kong, Taiwan, China, hingga Amerika Serikat.

Semangat berbagi Nathan ternyata tumbuh dari rumah. Ia mengaku sejak kecil orang tuanya selalu menanamkan pentingnya berbagi kepada sesama.

“Setiap ulang tahun, kami sering merayakannya di panti asuhan. Kami berbagi makanan dan kue dengan mereka,” kenangnya.

Dari Pontianak ke Singapura, Nathan Alexandro Tjhe sedang membuktikan bahwa anak muda mampu hadir membawa harapan. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi mereka yang sering luput diperhatikan.**

Editor : Hanif
#pelajar #singapura #Donasi #pontianak #kegiatan sosial