Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Mata Air Manbaul Hayat di Taman Narmada Tetap Mengalir Meski Musim Kemarau, Jadi Simbol Sejarah dan Sumber Kehidupan Bangsa Sasak

Basilius Andreas Gas • Selasa, 28 April 2026 | 20:09 WIB

 

Mata Air Manbaul Hayat terus mengalir, menjaga kehidupan dan sejarah Taman Narmada sejak abad ke-18. (Lombok Post)
Mata Air Manbaul Hayat terus mengalir, menjaga kehidupan dan sejarah Taman Narmada sejak abad ke-18. (Lombok Post)

PONTIANAK POST - Mata Air Manbaul Hayat di Taman Narmada, Lombok, terus mengalir meski musim kemarau panjang, menjadi sumber kehidupan yang tak pernah kering bagi taman bersejarah ini.

Menjejakkan kaki di kawasan Taman Narmada, suhu panas terik tak mengurangi kesejukan udara di sekitar Mata Air Manbaul Hayat. Suara gemericik air yang jernih terdengar tanpa henti, seolah menjadi detak jantung taman yang dibangun pada 1727 silam.

Budayawan Sasak, Lalu Sajim Satrawan, memandang sumur air dari dekat. “Ini bukan sekadar sumber air. Masyarakat menyebutnya Manbaul Hayat, artinya sumber air kehidupan,” katanya dengan nada penuh makna.

Baca Juga: Pemerintah NTB Dorong Geopark Tambora Naik Kelas Menjadi UNESCO Global Geopark, Targetkan Keunggulan Geologi dan Nilai Internasional 

Keistimewaan Manbaul Hayat terlihat dari debit air yang stabil dan kejernihannya, meski banyak sumber air lain mulai menurun saat kemarau. Dari lubang galian kecil, air mampu mengisi seluruh kolam di taman tanpa jeda.

Lalu Sajim menambahkan, Taman Narmada sendiri merupakan replika Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak, dibangun sebagai bentuk penghormatan dan simbol bahwa air adalah pusat peradaban.

“Dahulu, ketika raja tidak lagi mampu mendaki Rinjani untuk ritual Pakelem, taman ini dibangun sebagai pengingat pentingnya air,” ujarnya.

Baca Juga: Pedro Acosta Bongkar Penyebab Marc Marquez Melempem di MotoGP 2026, Ducati Dituding Bikin Baby Aliens Natural?  

Di balik keindahannya, Lalu Sajim menyoroti perlunya perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dan PT Tripat selaku pengelola. Ia menekankan pentingnya kesadaran moral untuk menjaga warisan sejarah yang menjadi identitas bangsa Sasak.

“Manbaul Hayat dan Taman Narmada memiliki potensi besar sebagai Pendapatan Asli Daerah. Dengan konservasi yang tepat, dalam satu hingga dua tahun, tempat ini bisa menjadi magnet wisata sejarah utama,” jelasnya.

 Baca Juga: Jalur Sunyi Penyelundupan Pangan di Kalbar Terbongkar, Ancam Petani dan Stabilitas Harga

Sajim menegaskan, pemeliharaan fisik dan nilai filosofis sumber air ini sangat penting. “Membiarkan Manbaul Hayat merana sama dengan melupakan sumber kehidupan. Air ini menjaga kita sadar bahwa tanpa alam yang terawat, kehidupan pun akan kering,” pungkasnya. (*)

 

Editor : Basilius Andreas Gas
#Mata Air Manbaul Hayat #Taman Narmada #Budayawan Sasak #Lalu Sajim Satrawan #lombok