PONTIANAK POST - Mata Air Manbaul Hayat di Taman Narmada, Lombok, terus mengalir meski musim kemarau panjang, menjadi sumber kehidupan yang tak pernah kering bagi taman bersejarah ini.
Menjejakkan kaki di kawasan Taman Narmada, suhu panas terik tak mengurangi kesejukan udara di sekitar Mata Air Manbaul Hayat. Suara gemericik air yang jernih terdengar tanpa henti, seolah menjadi detak jantung taman yang dibangun pada 1727 silam.
Budayawan Sasak, Lalu Sajim Satrawan, memandang sumur air dari dekat. “Ini bukan sekadar sumber air. Masyarakat menyebutnya Manbaul Hayat, artinya sumber air kehidupan,” katanya dengan nada penuh makna.
Keistimewaan Manbaul Hayat terlihat dari debit air yang stabil dan kejernihannya, meski banyak sumber air lain mulai menurun saat kemarau. Dari lubang galian kecil, air mampu mengisi seluruh kolam di taman tanpa jeda.
Lalu Sajim menambahkan, Taman Narmada sendiri merupakan replika Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak, dibangun sebagai bentuk penghormatan dan simbol bahwa air adalah pusat peradaban.
“Dahulu, ketika raja tidak lagi mampu mendaki Rinjani untuk ritual Pakelem, taman ini dibangun sebagai pengingat pentingnya air,” ujarnya.
Di balik keindahannya, Lalu Sajim menyoroti perlunya perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dan PT Tripat selaku pengelola. Ia menekankan pentingnya kesadaran moral untuk menjaga warisan sejarah yang menjadi identitas bangsa Sasak.
“Manbaul Hayat dan Taman Narmada memiliki potensi besar sebagai Pendapatan Asli Daerah. Dengan konservasi yang tepat, dalam satu hingga dua tahun, tempat ini bisa menjadi magnet wisata sejarah utama,” jelasnya.
Baca Juga: Jalur Sunyi Penyelundupan Pangan di Kalbar Terbongkar, Ancam Petani dan Stabilitas Harga
Sajim menegaskan, pemeliharaan fisik dan nilai filosofis sumber air ini sangat penting. “Membiarkan Manbaul Hayat merana sama dengan melupakan sumber kehidupan. Air ini menjaga kita sadar bahwa tanpa alam yang terawat, kehidupan pun akan kering,” pungkasnya. (*)
Editor : Basilius Andreas Gas