Penyebaran pemahaman ekstremisme dan radikalisme bisa masuk dari mana saja, termasuk sekolah. Agar para pelajar dapat terbentengi, KPPAD Kalbar belum lama ini memberi penguatan peran untuk guru dan pelajar. Dengan benteng yang kuat, diharapkan generasi muda kedepan akan mampu menjadi generasi emas Indonesia
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
Kegiatan KPPAD Kalbar tentang penguatan guru dan pelajar sebagai garda terdepan dalam menangkal penyebaran paham ekstremisme dan radikalisme di lingkungan sekolah dengan sasaran peserta dari kepala sekolah, guru BK dan juga OSIS ini turut melibatkan berbagai pihak. Seperti forum pengendalian terorisme serta Densus 88. Tujuannya satu, membangun kolaborasi dan sinergi lintas sektor.
Ketua KPPAD Kalbar, Tumbur Manalu mengatakan latar belakang kegiatan ini dengan melihat beberapa kasus yang sempat terjadi, yang melibatkan pelajar dan mengejutkan berbagai pihak.
“Kami melihat terutama kejadian bulan Februari lalu, kita kaget apa yang terjadi di SMP 3 itu. Ternyata yang diduga anak tersebut sudah teridentifikasi oleh Densus 88, yang sudah masuk ke grup digital tertentu,” ujarnya.
Baca Juga: Perspektif Pendidikan Etis dalam Memaknai Hardiknas Tahun 2026
Ia menilai, selama ini sinergi antar instansi dalam menangani persoalan tersebut belum berjalan optimal, sehingga diperlukan forum bersama untuk menyatukan langkah.
“Kami lihat bahwa sinergitas kolaborasi dalam penanganan ini belum terjalin dengan baik, sehingga kita harus duduk bersama. Sekolah, dinas terkait, guru, hingga Densus yang punya kewenangan, mari kita bangun komitmen bersama,” tegasnya.
Menurut Tumbur, kegiatan ini penting untuk membekali pihak sekolah agar mampu mengenali dan mengidentifikasi sejak dini paham ekstremisme dan radikalisme di lingkungan pendidikan.
Ketua Pengurus Daerah ABKIN Kalbar, Tri Mega Ralasari, menekankan bahwa upaya pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab guru bimbingan konseling (BK), tetapi seluruh elemen di sekolah.
“Untuk guru BK sebenarnya sekarang sudah ada sinergi dengan konsep tujuh jurus BK hebat dari kementerian. Ini bukan hanya untuk guru BK, tetapi semua segmen di sekolah, mulai dari kepala sekolah, masyarakat hingga mitra terkait,” ujarnya.
Baca Juga: Pemprov Kalbar Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan Malaysia untuk Peningkatan Kualitas SDM
Ia menambahkan, dengan pendekatan kolaboratif tersebut, deteksi dini terhadap potensi radikalisme dapat dilakukan secara lebih efektif.
“Kalau selama ini beban deteksi dini ada di guru BK, dengan tujuh jurus BK hebat maka semua stakeholder bisa berkolaborasi untuk mencegah paham radikalisme dan ekstremisme masuk ke sekolah,” tutupnya.(*)
Editor : Hanif