Suasana berbeda tampak di halaman Polsek Sungai Pinyuh, Kamis (30/4) sore. Tidak ada aktivitas rutin kepolisian seperti biasanya. Momen tersebut berubah menjadi penuh haru ketika AKP Bambang Siswanto berdiri di hadapan rekan-rekannya untuk menyampaikan salam perpisahan, menandai berakhirnya masa pengabdiannya di institusi Polri.
Wahyu Ismir, Sungai Pinyuh
Perwira kelahiran 14 April 1968 itu resmi memasuki masa purna tugas setelah puluhan tahun mengabdikan diri sebagai anggota kepolisian. Perjalanan kariernya dimulai sejak ia muda, berangkat dari tekad kuat yang tumbuh di lingkungan keluarga berlatar militer.
Keinginan mengenakan seragam cokelat sejak kecil akhirnya terwujud saat ia diterima menjadi anggota Polri. Ia kemudian menjalani pendidikan di SPN Pontianak pada tahun 1989 hingga 1990 sebagai langkah awal pembentukan kariernya.
Penugasan pertamanya membawa Bambang ke wilayah perbatasan Putussibau. Di daerah yang masih minim fasilitas itu, ia bertugas di bidang intelijen dengan fokus pengawasan terhadap pergerakan orang asing. Keterbatasan listrik dan kondisi lingkungan yang sunyi menjadi tantangan tersendiri yang justru membentuk ketangguhan mentalnya.
Baca Juga: Perhatikan Jenis Akar dan Lokasi Sebelum Memilih Pot Tanaman
Pengalaman ekstrem juga pernah ia alami saat banjir besar melanda wilayah tersebut. Ia bersama rekan-rekannya harus beradaptasi dengan kondisi air yang mencapai leher orang dewasa.
“Banjir terbesar sampai leher. Kami sampai pakai batang pisang untuk pelampung,” kenangnya.
Seiring berjalannya waktu, Bambang menjalani berbagai penugasan di sejumlah fungsi, seperti Bimas, Sabhara, hingga Reserse Kriminal. Ia juga berpindah tugas di beberapa wilayah, termasuk Mempawah dan Ngabang. Namun, Sungai Pinyuh menjadi salah satu tempat yang meninggalkan kesan mendalam baginya.
Di wilayah tersebut, ia tidak hanya menjalankan tugas sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga menjalin kedekatan dengan masyarakat dan rekan kerja. Ia bahkan aktif dalam kegiatan musik bersama sesama anggota, hingga mempelajari lagu-lagu Mandarin sebagai bagian dari kebersamaan.
“Di situ kebersamaan terasa sekali,” ujarnya.
Baca Juga: Pemkot Pontianak Percepat Digitalisasi Transaksi untuk Optimalkan Pendapatan Asli Daerah
Selama bertugas, Bambang juga dihadapkan pada berbagai kasus kriminal, termasuk tindak kekerasan. Baginya, profesi sebagai polisi menuntut kesiapan menghadapi risiko dalam situasi apa pun.
Kini, di usia 58 tahun, ia menutup lembar panjang pengabdiannya. Masa tugasnya berakhir pada awal Mei 2026.
Dalam momen perpisahan tersebut, ia tidak menyampaikan pidato panjang. Namun, pesan yang disampaikannya kepada generasi penerus cukup singkat dan penuh makna.
“Jaga disiplin, jaga kesehatan, fisik dan mental. Dan yang paling penting, jauhi narkoba,” pesannya.
Di akhir pertemuan, dengan suara bergetar, Bambang menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh rekan yang hadir.
Baca Juga: Pontianak Keluar dari 10 Besar Kota Maju Luar Jawa, Dinilai Tertinggal dalam Percepatan Inovasi
Perpisahan itu berlangsung dalam keheningan yang sarat emosi. Bagi rekan-rekannya, momen tersebut bukan sekadar pelepasan tugas, melainkan penutup perjalanan panjang seorang anggota Polri yang telah mengabdikan hidupnya dengan penuh dedikasi.
“Saya mohon pamit. Kalau selama ini ada kesalahan, saya minta maaf,” tutupnya. (*)
Editor : Hanif