Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menyapa Negeri di Atas Awan: Pesona Magis dari Puncak Bukit Luit dan Rentap di Sintang

haryadi PP • Jumat, 8 Mei 2026 | 08:56 WIB
Pendaki menikmati pemandangan di salah satu bukit dengan latar Bukit Kelam.
Pendaki menikmati pemandangan di salah satu bukit dengan latar Bukit Kelam.

Transformasi Hutan Lindung Bukit Luit dan Rentap kini berada di tangan kreatif pemuda desa. Lewat kolaborasi pemerintah dan masyarakat, kelestarian alam diupayakan berjalan selaras dengan kesejahteraan ekonomi. Ekowisata berbasis pemberdayaan masyarakat menjadi kunci utama menjaga hutan tetap asri.

HARYADI, Sintang

Kabut tipis perlahan menyibak, memperlihatkan hamparan hijau yang membentang luas dari ketinggian. Di ufuk barat, kemegahan Bukit Kelam berdiri kokoh. Sementara dari kejauhan, atap-atap Rumah Betang Desa Ensaid Panjang tampak menyembul di balik pepohonan. Inilah pesona lanskap Kelutap, akronim dari Kelam, Luit, dan Rentap, yang kini menjadi primadona baru ekowisata di Kabupaten Sintang.

Kawasan Hutan Lindung (HL) Bukit Luit dan Bukit Rentap kini bukan sekadar benteng alam, melainkan destinasi yang menjanjikan ketenangan bagi para pencinta keheningan. Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sintang Utara, M. Ari Susandi, menuturkan bahwa magnet pendakian di kawasan ini terus menguat. Bukit Rentap mulai mencuri perhatian sejak 2022, disusul Bukit Luit yang mulai ramai pada awal 2024.

Kedua bukit ini berada di bawah naungan Unit Pelaksana Teknis (UPT) KPH Wilayah Sintang Utara, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat. Meski terpisah, keduanya berada dalam satu kesatuan lanskap yang dikenal dengan sebutan KELUTAP (Kelam, Luit, dan Rentap).

“HL Bukit Luit terletak di Desa Merpak dengan luas sekitar 375,83 hektare dan ketinggian 470 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara HL Bukit Rentap berada di Desa Ensaid Panjang dengan luas sekitar 754,61 hektare dan ketinggian mencapai 658 mdpl,” jelasnya.

Akses Mudah, Panorama Tak Terlupakan

Masih menurut Ari, aksesibilitas menuju lokasi tergolong sangat baik. Berjarak sekitar 29,3 kilometer dari Kota Sintang, kawasan ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat melalui jalan yang relatif mulus.

Strategisnya letak kawasan yang berada di jalur lintasan dari PLBN Badau menuju ibu kota provinsi menjadikannya berpotensi menarik wisatawan lokal hingga mancanegara, termasuk dari negara tetangga.

Kawasan Kelutap menawarkan paket wisata yang komprehensif, mulai dari wisata alam hingga budaya. Jalur pendakian Bukit Luit menawarkan panorama hijau dengan pemandangan langsung ke kemegahan Bukit Kelam. Sementara itu, puncak Bukit Rentap menyuguhkan fenomena “negeri di atas awan” dengan bentang alam Desa Ensaid Panjang yang terlihat dari ketinggian.

Jalur Pendakian dan Pesona Air Terjun

Bagi masyarakat yang berminat mendaki, estimasi waktu tempuh menuju Bukit Luit sekitar satu hingga satu setengah jam. Jalurnya relatif mudah dan tidak terlalu ekstrem. Sementara untuk mencapai Bukit Rentap memerlukan waktu sekitar tiga hingga empat jam. Di sepanjang jalur Bukit Rentap, pendaki akan dimanjakan dengan pemandangan Air Terjun Telaga Surat dan Telaga Rendung. Air terjun tersebut merupakan sumber air masyarakat Desa Ensaid Panjang yang keberadaannya dilindungi oleh aturan adat masyarakat setempat.

“Masyarakat yang akan mendaki hanya dikenakan tarif parkir dan biaya keamanan kendaraan yang dikelola warga setempat,” ujar M. Ari Susandi.

Ia juga mengimbau para pendaki untuk membawa logistik yang cukup serta perlengkapan berkemah bagi yang ingin bermalam demi menikmati panorama negeri di atas awan.

Ledakan Wisatawan dan Keterlibatan Warga

Kawasan ekowisata Bukit Luit dan Bukit Rentap mencatat pertumbuhan kunjungan wisatawan yang signifikan. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, Adi Yani, mengungkapkan bahwa sepanjang April 2026 total pengunjung di dua kawasan tersebut mencapai 4.172 orang.

Berdasarkan data dari Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Kelam Permai UPT KPH Wilayah Sintang Utara serta kelompok pengelola wisata, jumlah kunjungan pada hari kerja rata-rata berada di angka 100 hingga 200 orang. Angka tersebut melonjak drastis pada hari libur yang mencapai 400 hingga 600 pengunjung per hari.

Pengelolaan ekowisata ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor antara UPT KPH Wilayah Sintang Utara Dinas LHK Provinsi Kalbar, Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Sintang, Pemerintah Desa Merpak, serta Pemerintah Desa Ensaid Panjang. Kemitraan ini juga melibatkan organisasi nonpemerintah (NGO) dan masyarakat setempat yang tergabung dalam kelompok pengelola serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

“Keterlibatan aktif masyarakat diharapkan dapat membuka wawasan mengenai pentingnya pelestarian lingkungan, dengan tetap memperhatikan peningkatan kesejahteraan ekonomi warga lokal,” ujar Adi Yani.

Menuju Destinasi Wisata Unggulan Nasional

Adi Yani menambahkan, guna memperluas jangkauan promosi, kawasan HL Bukit Luit dan HL Bukit Rentap telah diproyeksikan masuk dalam sejumlah agenda besar. Destinasi ini akan menjadi bagian dari Kelam Tourism Festival yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Sintang.

Selain itu, kawasan ini juga terpilih menjadi salah satu agenda telusur wisata pada kegiatan Festival Lestari #6 yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026. Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL).

Pemerintah juga berupaya mendekatkan generasi muda dengan alam melalui berbagai kegiatan bertema lingkungan yang menggandeng komunitas pecinta alam dari tingkat sekolah hingga perguruan tinggi. Melalui langkah tersebut, ekowisata Sintang Utara ditargetkan mampu bersaing dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2027.

Sebagai catatan, Desa Ensaid Panjang tahun ini berhasil meraih penghargaan sebagai salah satu dari 10 nominasi terbaik kategori kampung adat.

Harapan Menjaga Alam dan Mensejahterakan Warga

Mengingat potensi besar yang dimiliki, mulai dari kemudahan akses, kekayaan wisata alam dan budaya, hingga lokasi yang strategis, pemerintah berharap adanya peningkatan dukungan dari berbagai pihak.

“Kami sangat mengharapkan dukungan berkelanjutan dari pemerintah pusat maupun sektor swasta agar potensi yang ada dapat dimaksimalkan. Tujuannya jelas, agar lingkungan tetap lestari dan masyarakat semakin sejahtera,” tutup Adi Yani. (**)

Editor : Hanif
#Bukit Luit #pelestarian hutan #bukit kelam #sintang #Ekowisata