Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Simbol Harmoni Manusia dan Alam di Hari Jadi Kota Sintang: Melihat Umpan Benua, Sedekah Bumi yang Sarat Makna

Riska Nanda Kumala Sari • Selasa, 12 Mei 2026 | 09:58 WIB
Tradisi adat Umpan Benua yang digelar Keraton Al Mukaromah Sintang dalam rangkaian Hari Jadi Kota Sintang menjadi simbol harmoni manusia dan alam, sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian lingkungan serta rasa syukur kepada Tuhan. (RISKA NANDA/PONTIANAK POST)
Tradisi adat Umpan Benua yang digelar Keraton Al Mukaromah Sintang dalam rangkaian Hari Jadi Kota Sintang menjadi simbol harmoni manusia dan alam, sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian lingkungan serta rasa syukur kepada Tuhan. (RISKA NANDA/PONTIANAK POST)

Lantunan doa dan nuansa adat Melayu menyelimuti lingkungan Keraton Al Mukaromah Sintang saat prosesi Umpan Benua digelar dalam rangkaian Hari Jadi Kota Sintang. Tradisi turun-temurun yang diwariskan leluhur Kesultanan Sintang itu tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga dimaknai sebagai simbol harmoni manusia dengan alam.

RISKA NANDA, Sintang

Kabut tipis masih menggantung di tepian Sungai Kapuas saat lantunan doa dan adat Melayu menggema dari lingkungan Keraton Al Mukaromah dalam rangkaian Hari Jadi Kota Sintang, Senin (11/5) kemarin. Suasana khidmat masyarakat yang berkumpul mengikuti prosesi Umpan Benua, sebuah tradisi turun-temurun yang bukan hanya menjadi penanda peringatan Hari Jadi Kota Sintang, tetapi juga simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan kehidupan sosial yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Sesepuh Keraton Al Mukaromah Sintang, Cik Thamrin  mengatakan tradisi adat Umpan Benua yang rutin dilaksanakan Keraton Al Mukaromah Sintang dinilai tidak sekadar menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga sarat makna filosofis tentang hubungan manusia dengan alam dan kehidupan sosial masyarakat. Ritual adat yang digelar setiap tahun dalam rangkaian Hari Jadi Kota Sintang ini dimaknai sebagai pengingat pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

Lanjut dia, Umpan Benua merupakan tradisi turun-temurun yang diwariskan oleh leluhur Kesultanan Sintang. Menurutnya, ritual tersebut memiliki makna mendalam sebagai bentuk sedekah bumi untuk memohon keselamatan serta menjauhkan masyarakat dari berbagai musibah.

Baca Juga: Hari Jadi Kota Sintang ke-664 Dimeriahkan Pameran Ekraf, Kuliner, dan Festival Musik

“Umpan Benua ini bukan sekadar tradisi adat, tetapi mengandung pesan agar manusia menjaga hubungan baik dengan alam. Alam harus dijaga, dirawat, dan dilestarikan supaya tidak menimbulkan kerusakan yang berdampak pada kehidupan masyarakat,” ujar Cik Thamrin.

Ia menjelaskan, dalam pemahaman adat Melayu Sintang, manusia dipandang hidup berdampingan dengan alam sehingga memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangannya. Filosofi tersebut menjadi pesan utama yang terus diwariskan melalui pelaksanaan ritual adat setiap tahun.

Menurut Cik Thamrin, istilah “umpan” dalam tradisi itu memiliki makna simbolik berupa sedekah atau persembahan sebagai bentuk ikhtiar agar lingkungan sekitar tetap aman dan masyarakat dijauhkan dari bala.

“Kalau dalam pemahaman orang tua dulu, ini semacam sedekah bumi. Harapannya supaya kampung, wilayah, dan masyarakat terhindar dari hal-hal buruk atau bencana,” ceritanya.

Selain itu, Umpan Benua juga dipahami sebagai simbol komunikasi antara manusia dengan makhluk tak kasatmata. Namun, Cik Thamrin menegaskan bahwa makna tersebut lebih menekankan pada pesan hidup berdampingan secara harmonis serta menjaga ketenteraman bersama.

“Maknanya bukan sesuatu yang harus ditafsirkan secara mistis semata, tetapi lebih kepada penghormatan terhadap tatanan kehidupan yang sudah diwariskan leluhur. Intinya adalah menjaga keamanan, ketertiban, dan keharmonisan,” jelasnya.

Di tengah perkembangan zaman, Keraton Al Mukaromah Sintang tetap mempertahankan tradisi Umpan Benua sebagai bagian dari identitas budaya daerah. Ritual ini dipandang penting untuk memperkuat nilai kebersamaan sekaligus mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai sumber kehidupan. (**)

Editor : Hanif
#Umpan Benua #harmoni manusia #sintang #budaya melayu #tradisi