PONTIANAK POST – Kampanye sungai bersih yang dilakukan tiga bersaudara pendiri Sungai Watch, Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib, terus berlanjut dalam perjalanan lari Bali-Jakarta. Di SMP Negeri 3 Brebes, Jawa Tengah, Minggu (11/5), mereka mengajak pelajar mulai peduli lingkungan lewat kebiasaan sederhana, seperti membawa tumbler dan memilah sampah sejak dari rumah.
Edukasi lingkungan tersebut diikuti 1.034 siswa-siswi. Jumlah itu menjadi peserta terbanyak dalam kegiatan edukasi Sungai Watch selama rangkaian Run for Rivers berlangsung.
Community Engagement and Awareness Specialist Sungai Watch Dewi Fatmawati mengatakan, edukasi diberikan agar para siswa memahami dampak sampah plastik terhadap lingkungan, terutama sungai.
“ Kami juga menjelaskan kepada adik-adik para siswa bahwa satu botol plastik itu dampaknya seperti apa pada lingkungan jika tidak didaur ulang,” ujarnya dilansir dari Jawa Pos.
Edukasi Lingkungan Dimulai dari Kebiasaan Sederhana
Dalam kegiatan itu, Dewi didampingi Community Coordinator Banyuwangi Niken Ayu Diah Oktavia. Keduanya menekankan pentingnya membangun kesadaran lingkungan dari aktivitas sehari-hari.
Para siswa diajak memahami pentingnya memilah sampah organik dan anorganik sejak di rumah. Selain edukasi, Sungai Watch juga membagikan tumbler sebagai simbol pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
“Alhamdulillah, saat diberi pemahaman, mereka bersemangat untuk membawa tumbler ke sekolah,” kata Dewi.
Niken berharap SMP Negeri 3 Brebes dapat menjadi contoh sekolah yang aktif menjalankan budaya pilah sampah dan pengurangan plastik sekali pakai.
“Semoga SMP Negeri 3 Brebes ini ke depan bisa jadi contoh sekolah yang melakukan pilah sampah,” harapnya.
Wakil Kepala Bidang Humas SMP Negeri 3 Brebes Nanik Mei Ernaningrum mengapresiasi metode edukasi yang dinilai mudah dipahami para siswa.
“Kami juga sudah mengimbau jajanan di kantin untuk mengurangi plastik. Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi,” ujarnya.
Sungai Watch Kumpulkan Data Pengelolaan Sampah
Selain memberikan edukasi, tim Sungai Watch melakukan survei ke Pasar Bulukamba, Brebes. Langkah tersebut dilakukan untuk memetakan pola pengelolaan sampah di wilayah tersebut.
Data lapangan itu nantinya digunakan sebagai dasar penyusunan program lingkungan yang lebih tepat sasaran. [Sisipkan data volume sampah plastik nasional atau pencemaran sungai dari KLHK].
“Jadi, ketika program dijalankan, kami tinggal memakai data yang sudah ada,” kata Dewi.
Patricia Lisia Kembali Temani Lari Bali-Jakarta
Perjalanan Kelly, Gary, dan Sam Bencheghib kali ini juga mendapat dukungan dari Patricia Lisia. Perempuan yang tahun lalu menuntaskan lari amal Jakarta-Bali sejauh 1.600 kilometer itu ikut berlari bersama mereka dari Tegal hingga Cirebon.
“Waktu di Cepu dan Grobogan kemarin juga sempat ikut lari,” ujar Patricia.
Patricia mengaku terinspirasi dengan misi kemanusiaan dan lingkungan yang dibawa Sungai Watch. Karena itu, ia selalu menyempatkan diri ikut berlari saat memiliki waktu luang.
“Jadi, kalau pas weekend, saya pasti sempatkan ikut mereka berlari,” ungkap perempuan 45 tahun tersebut.
Ia juga membagikan pengalaman dan tips menjaga stamina selama berlari jarak jauh, mulai dari menjaga nutrisi hingga penggunaan perlengkapan yang tepat.
“Yang terpenting, nutrisi harus dijaga. Juga harus pakai kaus kaki yang tebal selama berlari jarak jauh,” bebernya.
Kelly mengaku termotivasi dengan kehadiran Patricia di tengah perjalanan panjang mereka menyusuri jalur Pantura.
“Saya banyak diberi masukan. Saya jadi makin bersemangat,” katanya.
Dari Sungai Bersih untuk Masa Depan Anak-Anak
Kampanye Run for Rivers tidak hanya mengajak masyarakat menjaga lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran bahwa masalah sampah berdampak langsung terhadap kehidupan generasi muda.
Lewat edukasi sederhana di sekolah, Sungai Watch berharap perubahan besar bisa dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari, termasuk membawa tumbler dan tidak membuang sampah sembarangan. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro