Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Mencari Angin di Negeri Kincir Angin: Negeri yang Berdamai dengan Air, Dari Kanal Leiden ke Padang Ilalang Kinderdijk

Hanif • Rabu, 20 Mei 2026 | 09:43 WIB
Penulis saat mengunjungi kawasan kincir angin Kinderdijk, simbol perjuangan Belanda melawan air. (SYAFARUDDIN DAENG USMAN/PONTIANAK POST)
Penulis saat mengunjungi kawasan kincir angin Kinderdijk, simbol perjuangan Belanda melawan air. (SYAFARUDDIN DAENG USMAN/PONTIANAK POST)

Perjalanan ini bukan sekadar wisata, melainkan pencarian tentang sejarah, identitas, dan cara orang Belanda menjaga hidup di tengah ancaman air dan perubahan zaman.

SYAFARUDDIN DAENG USMAN, Leiden

Di Belanda, negeri yang dikenal sebagai penakluk air dan rumah bagi ribuan kincir angin, seorang perantau Indonesia menyusuri Friesland hingga Kinderdijk bersama sahabat-sahabat lamanya. Perjalanan itu bukan sekadar wisata, melainkan pencarian tentang sejarah, identitas, dan cara orang Belanda menjaga hidup di tengah ancaman air dan perubahan zaman.

Belum sebulan yang lalu, suatu ketika, hari masih pagi dan matahari muncul pelan-pelan. Ikut serta angin utara berembus dingin. Perlahan saya merapatkan jaket, sembari mengeluarkan tumbler berisi teh hangat dari ransel.

Hari itu saya dan Istri berencana untuk suatu perjalanan yang cukup menelan waktu. Di belakang kami, bangunan Oude Sterrewacht berdiri tegak dikelilingi taman hijau. Gedung yang rampung direstorasi tahun 2011 ini dibangun pada tahun 1633. Dan merupakan observatorium universitas tertua di dunia.

Baca Juga: Cerita Inspiratif Jamaah Haji 2026, Ada yang Daftar Sejak Usia Satu Tahun

Nampak kubah perak Oude Sterrewacht yang berkilau-kilatan ditimpa matahari yang semula malu-malu memunculkan diri. Sepertinya gedung tua ini digunakan sebagai tempat penelitian astronomi Universiteit Leiden. Selesai direstorasi penghujung 2011 silam kembali dibuka untuk publik. Di sana orang dapat meneropong bintang dengan teleskop raksasa.

 

Jejak Sejarah Universiteit Leiden

Bangunan tertua Universiteit Leiden berdiri angkuh, seakan berbangga hati karena jadi simbol garis akhir perjuangan mahasiswa Leiden. Mulanya, gedung itu merupakan bangunan Gereja Dominika Magdalena. Namun, sejak 1581, tempat ini jadi bagian tak terpisahkan dari Universiteit Leiden. Hampir semua acara seremonial universitas digelar di sini.

Di depan Academigebouw, mengalir kanal kecil yang kanan-kirinya dihiasi pepohonan yang akan menguning daunnya ketika menyambut musim gugur yang kadang tiba terlambat. Di dekat situ ada Barrera di pojok Rapenburg, salah satu kafe di ujung jalan.

Letaknya yang hanya beberapa ratus meter dari gedung fakultas atau Kamerlingh Onnes Gebouw, membuat Barrera digandrungi mahasiswa hukum. Hampir tiap waktu bisa ditemukan ada mahasiswa yang nongkrong di situ sembari menyesap cappuccino dari koffieautomaat.

Saat seketika itu hadir dua sahabat saya, Alexandra Blusse dan Peter Blackburn. Lumayan lama kami tidak bertemu, namun komunikasi via sur-el terus berjalin.

Baca Juga: Benarkah Manusia Bisa Dicintai Jin? Simak Penjelasan Lengkap Menurut Islam

"Hoi, Din! Hoe issie?", sapa Alexandra sembari dengan cium pipi tiga kali khas Belanda, kanan-kiri-kanan. Sementara jabat tangan dengan laki-laki dan cium pipi tiga kali dengan yang perempuan, adalah kekhasan sekaligus tanda persahabatan di Holland.

Zaman dahulu tidak semua orang Belanda punya nama keluarga. Yang punya nama belakang biasanya hanya bangsawan atau orang kaya yang merasa perlu mendata anggota keluarga untuk kepentingan warisan dan perkawinan.

Waktu itu, kebanyakan nama belakang dibentuk dengan mencomot nama ayah. Misalnya, Peter anaknya Blackburn, jadi Peter Blackburn. Atau Alexandra anaknya Blusse jadi Alexandra Blusse.

Baru pada tahun 1811, pemerintahan Napoleon, yang waktu itu menguasai wilayah Belanda, mewajibkan seluruh penduduk untuk memiliki nama belakang. Alasannya sederhana, untuk memudahkan pencatatan arsip kependudukan. Karena itulah, orang-orang yang tidak punya nama belakang mereka dibolehkan memilih nama belakang sendiri.

 

Menyusuri Friesland, Tanah Kincir Angin

Hari itu, saya dan istri ditemani Peter dan Alexandra, kami mengelilingi Friesland menikmati hari Kincir Angin. Selain Nationale Molendag, hari Kincir Angin Nasional, pada bulan Mei ini Belanda juga mengenal hari kincir angin lokal yang dirayakan per wilayah.

Di Friesland, molendag diperingati setiap Sabtu kedua September. Pada hari itu, hampir semua kincir angin dibuka dengan gratis. Publik boleh masuk ke bagian dalam bangunan kincir angin yang memiliki beragam fungsi, mulai dari tempat membuat tepung, menggergaji kayu, sampai memompa air.

Perhentian pertama kami adalah Sloten, yang dikenal sebagai kota terkecil di Belanda. Kota ini sangat tenang, berpenduduk tak lebih dari seribu orang. Sekilas, penampakan kota ini mirip Leiden, dengan jembatan-jembatan kecil dan jajaran rumah tua di pinggir kanal. Bedanya, selain Leiden lebih ramai dan sibuk, hampir setiap sudut kota ini berkibar bendera bergaris diagonal putih biru dengan lima gambar hati berwarna merah, friese vlag, bendera Frisia, bendera resmi Provinsi Friesland.

Kata Peter, berbeda dengan penduduk propinsi lain yang kadang tidak tahu bagaimana penampakan bendera propinsi mereka, orang Friesland bangga setengah mati dengan friese vlag.

 

Identitas Orang Frisia

Kata dia lagi, orang Friesland juga merasa punya identitas budaya yang berbeda dengan penduduk propinsi lain di Belanda. Salah satu alasannya adalah karena mereka punya bahasa sendiri, bahasa Frisia. Di propinsi ini, bahasa Frisia jadi salah satu pelajaran wajib di sekolah. Bahkan, ada sekolah yang menggunakan dua bahasa, bahasa Belanda dan Frisia. Setelah kami mengelilingi pusat Kota Sloten, perjalanan dilanjutkan ke kincir angin de Kaai.

"Rotterdam memang terkenal sebagai kota imigran. Ratusan ribu pendatang dari berbagai penjuru dunia tinggal di sini", kata Alexandra.

Imigrasi punya sejarah panjang di Belanda. Sejak abad ke 16, Belanda yang dikenal sebagai negara dagang, sudah jadi tujuan imigrasi. Salah satu gelombang imigrasi terbesar di Belanda dari Indonesia. Sejak 1945 sampai 1965, banyak sekali orang Belanda dan Indo yang memilih kembali ke sini karena situasi politik di Indonesia tidak menguntungkan mereka.

Orang Turki dan Maroko juga banyak di Belanda. Mereka rata-rata datang pada tahun 1960-an sebagai pekerja imigran, kata Peter. Waktu itu, lanjut dia, Belanda sangat makmur. Ekonomi berkembang pesat, sampai-sampai negara ini sanggup mendatangkan pekerja imigran untuk memegang pekerjaan berat di pabrik-pabrik.

"Namun, gelombang imigrasi besar-besaran ke Belanda bukan tanpa akibat. Belanda menghadapi masalah rumit berkaitan dengan kebijakan imigrasi. Mulai soal kriminalitas, multikulturalisme, sampai integrasi", kata Peter. "Sekarang, kebijakan imigrasi Belanda sangat ketat", tegas dia.

 

Menyusuri Sungai Menuju Kinderdijk

Tak terasa sudah siang, kami melanjutkan perjalanan ke arah Erasmusbrug, jembatan serupa angsa yang sedang mengibaskan sayap-sayapnya. Di Boompjeskade, kami naik Kapal Nahalennia yang bertingkat dua.

Kapal berlayar menyusuri Sungai Nieuwe Maas yang lebarnya mencapai 409 meter, menuju Sungai Lek yang mengalir melewati Desa Kinderdijk. Perjalanan kapal dari Rotterdam ke Kinderdijk memakan waktu sekitar satu jam.

Matahari yang pucat, angin berembus kencang dan kapal bergoyang dari satu sisi ke sisi lain. Noordereiland, sebuah pulau kecil di tengah Sungai Nieuwe Maas, salah satu pulau buatan di Belanda. Untuk mencapai pulau itu, bisa lewat dua jembatan, Willemsbrug atau Koninginnebrug.

"Dulu, ketika baru dibangun tahun 1800-an, kebanyakan pelaut yang tinggal di situ", kata Alexandra. Belanda memang terkenal sebagai penakluk air. Setelah banjir besar pada tahun 1953, yang menelan ribuan korban jiwa dan menimbulkan kerusakan besar, Belanda sangat serius menangani manajemen air di negerinya.

Alexandra menyebutkan, sekitar dua puluh lima persen wilayah Belanda, termasuk daerah yang padat dan penting secara ekonomi, berada di bawah permukaan laut. Kata dia, sejak abad ke 16, Belanda sudah mengeringkan perairan untuk dijadikan daratan.

Saking terkenalnya kehebatan Belanda dalam bidang ini, kata dia dengan bangga, sampai-sampai ada pepatah, "God schiep de Aarde, maar Nederlanders schiepen Nederland" atau "Tuhan memang menciptakan bumi, tetapi orang Belanda sanggup menciptakan daratan".

Skyline Rotterdam yang membuat kota ini dijuluki Manhattan aan de Maas, atau Manhattan di tepi Sungai Maas.

Pemandangan perlahan mulai berubah. Pusat kota yang sibuk berganti padang rumput sepi, gedung-gedung yang tinggi menghilang di belakang, memberi tempat untuk pepohonan hijau di kiri-kanan sungai.

 

Kinderdijk, Desa Seribu Cerita Kincir Angin

Kapal memasuki wilayah Kinderdijk. Kompleks sembilan belas kincir angin ini sebenarnya adalah bagian dari sistem manajemen air terpadu. Untuk mencegah banjir, deretan kincir angin ini bertugas memompa air dari polder ke Sungai Lek yang kemudian mengalir ke Laut Utara.

Merapat di Desa Kinderdijk, melewati setapak kecil dan deretan kincir angin. Angin bertiup kencang, ilalang tinggi di pinggir jalan ikut berayun, baling-baling kincir di kanan-kiri berputar seirama.

Tempat ini dinamakan Kinderdijk, kata Peter, yang secara harafiah artinya tanggul anak. Padahal, kata dia lagi, harusnya nama Molendijk, tanggul kincir angin, lebih cocok.

Ada beberapa versi cerita, sambung Alexandra, tapi ada satu yang jadi favorit. Pada abad ke 15, daerah ini dilanda banjir besar. Banyak korban meninggal terseret arus. Ketika banjir mulai surut, penduduk desa mulai mengevakuasi orang-orang yang selamat. Pada suatu malam, mereka melihat sebuah keranjang bayi terapung, terombang-ambing mengikuti gelombang air.

"Seorang bayi perempuan tidur nyenyak dalam keranjang, dijaga seekor kucing yang bergerak dari satu sisi ke sisi lain agar keranjang tetap seimbang dan tidak tenggelam", ungkap Alexandra.

Tidak ada yang tahu dari mana bayi perempuan itu berasal. Penduduk desa menyelamatkannya dan ia akhirnya diadopsi sebuah keluarga di Dordrecht. Karena itulah, timpal Peter, desa ini dinamakan Kinderdijk, karena seorang anak, kind, pernah jadi simbol harapan di tengah bencana. "Mooi. Ceritanya bagus", ungkap istri saya kepada Peter dan Alexandra.

Hangat matahari di wajah ditimpali angin yang berembus kencang. Aroma air sungai dan ilalang bercampur dengan harum gandum yang sedang diproses di kincir-kincir angin. Di museum kincir angin, terlihat mesin pemompa air yang bertugas mencegah banjir. Dan dijelaskan Alexandra kepada saya dan istri, cara kerja kincir dalam memproses gandum menjadi tepung. (**)

Editor : Hanif
#kincir angin #sejarah #wisata #belanda #perjalanan