Di Belanda, penulis menyaksikan bagaimana manusia tidak melawan air, melainkan belajar hidup berdampingan dengannya selama ratusan tahun. Perjalanan menyusuri Sungai Nieuwe Maas hingga Kinderdijk membawa saya pada kisah tentang kincir angin, banjir besar, dan sebuah negeri yang berhasil mengubah ancaman menjadi peradaban.
SYAFARUDDIN DAENG USMAN, Kinderdijk
Rak terasa sudah siang, kami melanjutkan perjalanan ke arah Erasmusbrug, jembatan serupa angsa yang sedang mengibaskan sayap-sayapnya. Di Boompjeskade, kami naik Kapal Nahalennia yang bertingkat dua.
Kapal berlayar menyusuri Sungai Nieuwe Maas yang lebarnya mencapai 409 meter, menuju Sungai Lek yang mengalir melewati Desa Kinderdijk. Perjalanan kapal dari Rotterdam ke Kinderdijk memakan waktu sekitar satu jam.
Matahari yang pucat, angin berembus kencang dan kapal bergoyang dari satu sisi ke sisi lain. Noordereiland, sebuah pulau kecil di tengah Sungai Nieuwe Maas, salah satu pulau buatan di Belanda. Untuk mencapai pulau itu, bisa lewat dua jembatan, Willemsbrug atau Koninginnebrug.
“Dulu, ketika baru dibangun tahun 1800-an, kebanyakan pelaut yang tinggal di situ”, kata Alexandra. Belanda memang terkenal sebagai penakluk air. Setelah banjir besar pada tahun 1953, yang menelan ribuan korban jiwa dan menimbulkan kerusakan besar, Belanda sangat serius menangani manajemen air di negerinya.
Alexandra menyebutkan, sekitar dua puluh lima persen wilayah Belanda, termasuk daerah yang padat dan penting secara ekonomi, berada di bawah permukaan laut. Kata dia, sejak abad ke 16, Belanda sudah mengeringkan perairan untuk dijadikan daratan.
Saking terkenalnya kehebatan Belanda dalam bidang ini, kata dia dengan bangga, sampai-sampai ada pepatah, “God schiep de Aarde, maar Nederlanders schiepen Nederland” atau “Tuhan memang menciptakan bumi, tetapi orang Belanda sanggup menciptakan daratan”.
Skyline Rotterdam yang membuat kota ini dijuluki Manhattan aan de Maas, atau Manhattan di tepi Sungai Maas.
Pemandangan perlahan mulai berubah. Pusat kota yang sibuk berganti padang rumput sepi, gedung-gedung yang tinggi menghilang di belakang, memberi tempat untuk pepohonan hijau di kiri-kanan sungai.
Kinderdijk, Desa Seribu Cerita Kincir Angin
Kapal memasuki wilayah Kinderdijk. Kompleks sembilan belas kincir angin ini sebenarnya adalah bagian dari sistem manajemen air terpadu. Untuk mencegah banjir, deretan kincir angin ini bertugas memompa air dari polder ke Sungai Lek yang kemudian mengalir ke Laut Utara.
Merapat di Desa Kinderdijk, melewati setapak kecil dan deretan kincir angin. Angin bertiup kencang, ilalang tinggi di pinggir jalan ikut berayun, baling-baling kincir di kanan-kiri berputar seirama.
Tempat ini dinamakan Kinderdijk, kata Peter, yang secara harafiah artinya tanggul anak. Padahal, kata dia lagi, harusnya nama Molendijk, tanggul kincir angin, lebih cocok.
Ada beberapa versi cerita, sambung Alexandra, tapi ada satu yang jadi favorit. Pada abad ke 15, daerah ini dilanda banjir besar. Banyak korban meninggal terseret arus. Ketika banjir mulai surut, penduduk desa mulai mengevakuasi orang-orang yang selamat. Pada suatu malam, mereka melihat sebuah keranjang bayi terapung, terombang-ambing mengikuti gelombang air.
“Seorang bayi perempuan tidur nyenyak dalam keranjang, dijaga seekor kucing yang bergerak dari satu sisi ke sisi lain agar keranjang tetap seimbang dan tidak tenggelam”, ungkap Alexandra.
Tidak ada yang tahu dari mana bayi perempuan itu berasal. Penduduk desa menyelamatkannya dan ia akhirnya diadopsi sebuah keluarga di Dordrecht. Karena itulah, timpal Peter, desa ini dinamakan Kinderdijk, karena seorang anak, kind, pernah jadi simbol harapan di tengah bencana. “Mooi. Ceritanya bagus”, ungkap istri saya kepada Peter dan Alexandra.
Hangat matahari di wajah ditimpali angin yang berembus kencang. Aroma air sungai dan ilalang bercampur dengan harum gandum yang sedang diproses di kincir-kincir angin. Di museum kincir angin, terlihat mesin pemompa air yang bertugas mencegah banjir. Dan dijelaskan Alexandra kepada saya dan istri, cara kerja kincir dalam memproses gandum menjadi tepung. (**)
Editor : Hanif