Pameran Ruang Artikula 1.0 di Universitas Tanjungpura menghadirkan karya mahasiswa lintas fakultas. Melalui ruang ini, mahasiswa tidak hanya menampilkan hasil akademik, tetapi juga membaca ulang realitas sosial Kalimantan Barat dalam bentuk karya.
ASHRI ISNAINI, Pontianak
PAGI itu, Selasar Gedung Konferensi Universitas Tanjungpura berubah wajah menjadi ruang perjumpaan yang hangat antara gagasan dan rasa ingin tahu. Di bawah cahaya yang masuk dari celah bangunan, deretan stan pameran berdiri rapi. Mahasiswa lintas fakultas berdiri di samping karya mereka—poster, maket, hingga visual jurnalistik—menyambut setiap pengunjung yang datang dengan pertanyaan, senyum, dan penjelasan yang mengalir pelan.
Di antara riuh percakapan dan langkah kaki yang terus bergerak, Pameran Akademik Ruang Artikula 1.0 tidak sekadar tampil sebagai agenda kampus. Ia menjelma menjadi ruang temu: antara pengetahuan yang diproduksi di ruang kelas dan realitas yang hidup di tengah masyarakat.
Pameran Akademik Ruang Artikula 1.0 yang digelar di Selasar Gedung Konferensi Untan, Rabu (20/5) hingga Jumat (22/5) ini, menghadirkan karya mahasiswa lintas fakultas Untan. Kegiatan ini menjadi ruang diseminasi sekaligus jembatan untuk memperkenalkan beragam inovasi akademik kepada publik.
Baca Juga: Kalbar Butuh 100 Dokter Spesialis: Untan Buka PPDS Anestesi
Ketua Kegiatan Ruang Artikula 1.0, Andi Supiyandi, mengatakan kegiatan ini merupakan pengembangan dari program sebelumnya yang bernama Kampung Biru. Jika dahulu masih terbatas pada lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), tahun ini cakupannya diperluas melalui kolaborasi lintas fakultas.
“Dulu namanya Kampung Biru dan bentuknya diseminasi hasil karya mahasiswa. Tahun ini kami berkolaborasi dengan beberapa fakultas di lingkungan Untan,” ujarnya.
Empat fakultas yang terlibat dalam kegiatan ini adalah FISIP Untan, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Lebih dari sekadar pameran, Andi menegaskan bahwa karya yang ditampilkan merupakan hasil proses panjang pembelajaran mahasiswa. Kampus, menurutnya, tidak lagi cukup hanya menjadi ruang transfer ilmu di dalam kelas.
“Harapannya pembelajaran itu tidak hanya berhenti di kelas. Dengan adanya kegiatan seperti ini masyarakat bisa mengetahui apa saja yang dikerjakan mahasiswa dan pengetahuan yang mereka dapat selama proses belajar,” katanya.
Baca Juga: Deddy Saputra Resmi Maju Calon Ketua IAFT Untan, Usung Visi “The Last Control”
Ia menyebut, pendekatan pendidikan saat ini telah bergeser menuju outcome based education, di mana hasil pembelajaran harus memiliki dampak nyata di luar ruang akademik.
“Output dari kegiatan ini memperkenalkan apa yang dikerjakan mahasiswa selama proses pembelajaran di kelas. Hasilnya tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga harus didiseminasikan kepada publik,” jelasnya.
Di salah satu sudut pameran, karya-karya mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Untan menarik perhatian pengunjung. Salah satu mahasiswi, Alifah Setiana, masih mengingat bagaimana proses panjang di balik karya yang ia tampilkan.
Semuanya dimulai dari observasi sederhana—mencari isu-isu yang hidup di Kalimantan Barat, yang sering kali luput dari perhatian, meski dekat dengan keseharian masyarakat.
“Prosesnya kami mengobservasi dulu topik-topik apa yang menarik di Kalimantan Barat. Setelah mendapatkan topik yang menarik, baru kami mencari narasumber yang kredibel dan lebih dari satu karena ini penulisan berita mendalam,” ujarnya.
Dari proses itu lahirlah karya jurnalistik dan komunikasi visual dalam bentuk poster serta buku visual. Tidak hanya sekadar laporan, tetapi juga cara baru membaca realitas sosial di sekitar.
Bagi Alifah, penting untuk menghadirkan kembali isu-isu yang mungkin tidak selalu menjadi sorotan utama publik.
“Kami ingin memperlihatkan isu-isu di Pontianak ataupun Kalimantan Barat yang sedang marak maupun yang tidak terlihat secara langsung oleh masyarakat,” katanya.
Ia berharap, karya-karya tersebut tidak berhenti sebagai tugas akademik semata, tetapi mampu menumbuhkan kepedulian yang lebih luas terhadap persoalan lokal.
“Kami ingin mengangkat apa saja isu yang sebenarnya harus diketahui masyarakat tentang Kalimantan Barat,” lanjutnya.
Baca Juga: Krisis Dokter Spesialis di Kalbar: Untan Resmi Buka Seleksi PPDS Anestesi dan Magister Farmasi
Pameran ini juga menghadirkan ruang edukasi lain di luar kampus. Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalimantan Barat turut ambil bagian dengan membuka stan literasi media dan penyiaran sehat.
Ketua KPID Kalbar, Ramdan, mengatakan pihaknya menghadirkan berbagai aktivitas edukatif, mulai dari pojok aduan, simulasi siaran, hingga penyediaan buku-buku tentang penyiaran.
“Kami ikut memberikan edukasi terkait penyiaran sehat. Ada pojok aduan, simulasi siaran, dan berbagai informasi yang bisa menjadi edukasi bagi masyarakat,” katanya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, menurutnya, literasi media menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan, terutama bagi generasi muda yang hidup di tengah banjir konten.
“Ini menjadi momen penting untuk melakukan pendidikan dan edukasi literasi media kepada publik,” ujarnya.
Selama tiga hari pelaksanaan, KPID Kalbar juga terlibat dalam berbagai kegiatan kolaboratif bersama mahasiswa, media, dan lembaga penyiaran. Diskusi, tukar gagasan, hingga talk show menjadi ruang dialog tentang masa depan media dan penyiaran di era digital.
“Kami ingin mengeksplor seperti apa generasi muda Gen Z saat ini terkait program atau siaran sehat yang mereka inginkan,” jelasnya.
Bagi Ramdan, apa yang dipamerkan mahasiswa bukan sekadar tugas akademik, melainkan bentuk nyata dari proses belajar yang hidup.
“Ini produk akademik yang luar biasa. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi langsung praktik dan hasilnya bisa dilihat masyarakat,” katanya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk datang langsung dan melihat bagaimana pengetahuan yang lahir dari ruang kuliah bisa hadir dalam bentuk yang lebih nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Masyarakat sangat boleh hadir ke sini untuk mengetahui secara langsung produk-produk akademik yang sudah dikaryakan mahasiswa,” pungkasnya. (**)
Editor : Hanif