Di negeri yang menjual waktu ke seluruh dunia, ada sesuatu yang lebih berharga daripada jam tangan, yakni ketenangan hidup. Biel membuktikan bahwa kemajuan dan kemanusiaan bisa berjalan beriringan.
SYAFARUDIN USMAN, Biel-Swiss
Hawa dingin menyeruak masuk ke dalam bangunan ketika pintu apartemen tempat saya menginap terbuka. Musim panas seharusnya sudah dimulai. Tapi udara dingin masih rajin menghampiri Swiss atau Switzerland.
Dingin tetap mendominasi setiap saat. Pagi, siang, maupun malam. Terkadang dia membawa temannya, hujan, yang tak mencurah deras. Namun, rintik-rintik saja. Awet sepanjang hari.
Perjalanan yang akan mengantarkan ke sebuah desa di Swiss. Ipsach, Biel. Biel atau Bienne, dikenal sebagai kota produsen jam tangan merek wahid dunia. Mungin, mana ada orang percaya, ternyata Rolex, Hublot, Omega, Swisswatch, Calvin Klein dan sederet nama keren di dunia jam tangan dilahirkan di kota kecil ini.
Sepanjang perjalanan menuju Ipsach, saya jarang mengerjapkan mata. Semakin menjauh dari perkotaan Bern, lanskap semakin hijau dan biru. Seperti lukisan. Hijau padang pertanian gandum membentang luas dari ujung jalan tol hingga tak terbatas.
Biru langit yang bersih, seolah menjajakan pemandangan laut yang bertahta di atas sana. Akhirnya, saya temui rumah-rumah penduduk setelah bangunan apartemen yang berjejer-jejer di Bern. Rumah penduduk itu terkadang memencil di tengah ladang pertanian gandum.
Dan yang membuat saya tak habis pikir, terpencilnya itu, tetap saja ada jalan yang menghubungkan rumah-rumah tadi keluar masuk area desa. Rupanya, pemerintah di situ yang membuatkan. Melewati jalan model Swiss yang sejuk dan menawan, saya rasanya ingin terus dan seterusnya tinggal dan hidup dalam kondisi seperti ini.
Menikmati tontonan domba, biri-biri, dan sapi saling berdampingan, seolah dengan akal mereka membagi teritori padang makanan. Bulu-bulu yang tebal menggoda manusia untuk menjadikannya bantal tidur Minggu pagi itu.
Menyaksikan orang-orang yang satu dua saja keluar masuk rumah. Lalu bersepeda ke mana pun jalan membentang. Rasanya mereka tak punya beban hidup. Rumput-rumput liar yang menjulang tinggi di tepi jalan setapak, seolah bertanding mencuri perhatian biri-biri dan sapi untuk disantap.
Udara memang dingin. Tapi tak membuyarkan tekad bunga liar berwarna kuning, oranye, dan lembayung untuk bertumbuh. Selama perjalanan menuju Ipsach, saya iseng menghitung berapa orang yang saya lihat di kanan kiri jalan. Dan jumlahnya, kesepuluh jari tangan saya masih bersisa banyak.
Hari itu Minggu. Keadaan yang paling senyap di sebagian besar belahan Eropa. Hari Minggu adalah hari keluarga. Semua orang meliburkan diri dari kegiatan rutin mereka. Toko-toko di distrik komersial tutup rapat. Hanya kedai makan sederhana dan bar yang tetap buka menjaja hiburan ala kadarnya.
Memang, jarangnya manusia yang saya temui sepanjang jalan menuju Ipsach, tak adanya bunyi klakson mobil, atau manuver saling balap. Ditambah suasana dingin yang saya rasa kian mendera, membuat Swiss hari itu seperti negara mati. Tentu saja, menikmati kesenyapan Minggu, membuat saya sedikit terlena.
Hari Minggu tentu saja semua kantor tutup. Angan-angan saya menginjakkan kaki ke kantor Swisswatch pun pudar. Tapi tak mengapa. Saya tetap penasaran seperti apakah kesunyian yang berlebihan di kota kecil itu. Ketika meninggalkan Ipsach menuju Biel, saya rasa hanya suasana sejuk seperti mesin pendingin ruangan di Ipsach.
Menuju Biel, saya menumpang kereta antardesa. Hanya lima belas menit, empat halte. Karcis kereta seharga 4 SwissFranc (SF), saya cetak dari mesin tiket. Di desa seterpencil ini, sistem transportasinya begitu high tech. Saya menunggu dengan pasti berapa lama kereta berikutnya akan tiba.
Layar monitor menggantung di tiang besi yang tinggi di halte. Waktu digital. Monitor akan memperkirakan berapa lama lagi kereta datang dari jarak kereta. Ada integrasi mekanis antara kecepatan kereta dengan monitor itu.
Saya menikmati permainya pemandangan di pinggir halte. Seketika serombongan nenek tua mendekati halte. Saya asumsikan mereka berumur 80 tahunan. Bukan berarti mereka berjalan menggunakan tongkat atau terhuyung-huyung. Tanpa kursi dorong. Mereka terlihat sangat energik, baik dalam berbicara maupun berjalan. Sehat walafiat.
“Halo ... Aus Indonesien? Ich war in Jakarta einmal. Laestes Jahr”, kata si nenek yang tampak sudah mulai uzur itu dengan ramah. Nenek itu dengan bersemangat menyebut dirinya pernah ke Indonesia, di Jakarta. “Ja. Wir kommen aus Indonesien, Oma”, kata saya dengan mengatakan saya dari Indonesia.
Salah seorang nenek lain memberi saya setangkai bunga liar yang tumbuh di pinggir halte. Meski seadanya, dalam makna yang terkandung, itu adalah tanda persahabatan di antara kami. Saya pernah dengar dari sahabat saya, suami istri Stefani dan Kohler yang menetap di Den Haag, Belanda, sebagian besar orang uzur di Eropa dipersatukan dalam tali organisasi di panti jompo oleh anak-anak mereka.
Bukan berarti anak-anak mereka tidak mencintai mereka. Namun, seperti itulah budaya orang Eropa ketika dihadapkan pada mengurusi orang tua yang sudah berusia lanjut. Para nenek dan kakek ini tak merasa dikucilkan oleh keluarga mereka.
Karena dulu mereka juga memperlakukan orang tua mereka demikian. “Dalam panti jompo, mereka bahagia bertemu dengan teman-teman senasib sepenanggungan”, kata Kohler.
Karena itulah, orang-orang tua ini sangat ramah kepada orang asing. Mereka butuh seseorang untuk sekadar berbagi cerita remeh-temeh mengenai hari-hari mereka. Tak jarang, kehidupan sekuler masa muda mereka berujung pada pencarian Tuhan Maha Pencipta pada hari-hari senja mereka.
Begitu kereta desa datang, rombongan nenek tadi dengan sigap masuk. Mereka melambai-lambaikan tangan pada saya tanpa henti. Raut kegembiraan masih terpancar di wajah nenek-nenek itu.
Ternyata pabrik-pabrik jam tangan mahal memang dipusatkan di Biel. Saya berkeliling Biel, ke gedung Rolex, Omega, dan Swatc. Saya berkesempatan berfoto di depan gedung-gedung simbol eksistensi waktu yang berkelas. Melihat betapa megah dan luas kompleks setiap pabrik.
Setiap hari setiap waktu manufaktur jam tangan ini memproduksi ratusan, bahkan ribuan jam tangan yang siap didistribusikan ke seluruh dunia. Orang-orang yang ada di belakang pembuatan jam tangan, dari ide hingga terejawantah menjadi barang, adalah rantai operasi yang sangat panjang dan rumit. (**)
Editor : Hanif